728x90 AdSpace

25 Februari 2016

Sahabat Kecil

Oleh: Benning Rizahra *)
SuaraKuningan.com - Dunia anak-anak yang selalu membuat saya tertarik untuk masuk di dunianya. Dunia yang penuh keceriaan dan berwarna. Tawa lepas yang selalu akan terpancar dari wajahnya, yang akan dengan mudah melupakan pertengkarannya, dan yang selalu penuh kasih sayang.

Inilah yang membuat saya tidak mempermasalahkan mengikuti program Sekolah Guru Indonesia (SGI) yang ada program penempatan selama setahun di sekolah dasar. Saya ditempatkan di Kabupaten Cianjur, tepatnya di MI Al-Ikhlas di Desa Sukatani Kecamatan Pacet.

Walaupun, berdasarkan pengalaman mengajar di sekolah dasar semasa kuliah ataupun selama program di SGI, mengatur anak-anak yang memang masanya senang untuk bermain-main, berisik karena ngobrol yang tak karuan dan menghadapi karakter anak yang variatif, saya tetap akan selalu tertarik untuk bersama mereka. Karena dari mereka saya selalu belajar banyak hal.

Belajar untuk selalu tersenyum, bersahabat, dan cepat melupakan hal yang menyakiti atau tidak menyenangkan. Dari mereka saya belajar tulus untuk berteman, tulus untuk memberi, dan tulus untuk berbagi. Dari dunianya yang seharusnya selalu indah, akan selalu ada harapan untuk masa depan bangsa ini.

Begitu halnya dengan Rahma Aulia, siswi kelas 4B yang begitu ramah dengan wajahnya yang selalu ceria. Saat pertama masuk ke kelasnya, terlihat sinar matanya penuh ceria dan kehangatan. Senyumnya yang selalu terpancar  membuat saya jatuh hati dengan anak ini.

Usai pembelajaran, dia mendekat dan banyak bertanya. Wajahnya yang penuh dengan rasa ingin tahu begitu terpancar. Senyumnya dalam setiap berbicara membuat saya semakin jatuh hati dengannya.

Ketika saya bertanya tentang kegiatan mengaji, dia langsung antusias menceritakan. “ibu, bade ngiring ngaos?pami bade engke ku abdi disampeur.”. dia menawarkan dirinya untuk menjemput saya apabila mau ikut mengaji.

Akhirnya, sore hari terdengar suaranya mengucapkan salam depan pintu. Wajahnya yang tersenyum depan pintu dan menanyakan jadi tidaknya saya ikut mengaji dengan penuh kesopanan, membuat saya semakin semangat untuk pergi ke madrasah.

Disana, dia berusaha memperkenalkan guru ngajinya dan lingkungan sekitar madrasah. Hingga pada saatnya pulang, dia pun ingin mengantarkan saya pulang. Selalu setiap waktu pulang mengaji, dia menawarkan dan hampir memaksa saya untuk mau diantarnya pulang.

Pernah suatu waktu saat dia menjemput ke rumah untuk pergi mengaji namun saya tidak bisa pergi karena ada kepentingan. Saat bertemu disekolah, dia berbaik hati kembali dengan senyum ceria diwajahnya “ibu nanti saya jemput lagi yah!”.

Dari dia, saya belajar tentang indahnya tersenyum dan ikhlas. Karena tanpa pamrih dia mau menjemput saya dan tidak menyerah untuk menjemput kembali walaupun saya pernah dijemput namun tidak bisa ikut. Selain itu, dari dia saya belajar memahami, memahami bahwa memang setiap orang memiliki kesibukan sendiri-sendiri.

Terimakasih untuk senyum cerianya sahabat kecilku. Terimakasih ya Allah, telah mengirimkan sahabat kecil yang mampu menjadi penawar rindu akan sosok sahabat. Rindu terhadap sahabat-sahabat yang sama sedang bertugas.**

Benning Rizahra (Kuningan, Jawa Barat)
Guru Konsultan Sekolah Literasi Indonesia Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Sahabat Kecil Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan