728x90 AdSpace

14 April 2016

Bupati Perempuan Pertama Dalam Sejarah Kuningan



Perdebatan perempuan menjadi pemimpin dalam ranah sosial-politik selalu jadi perdebatan yang serius di berbagai kalangan. Mulai dari Agamawan, budayawan, mahasiswa bahkan masyarakat umum pun sering kali terjebak pada obrolan pemimpin perempuan. Pro dan kontra sering menjadi jembatan diskusi panjang antara keduanya.

Sebelum lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia, peran perempuan dalam dunia politik sudah ada, karena Sejarah Indonesia mencatat seorang tokoh bernama Gayatri Rajapatni (Ratu di atas segala Ratu) yang wafat pada tahun 1350 diyakini sebagai perempuan di balik kebesaran Kerajaan Majapahit. Majapahit merupakan kerajaan Hindu-Budha yang di mata banyak orang tidak mungkin memberikan ruang bagi perempuan untuk berpolitik.

Tetapi hasil kajian yang dilakukan oleh mantan Dubes Canada untuk Indonesia (Earl Dark, ia juga sebagai sejarawan) membuktikan, bahwa puncak kejayaan Majapahit tercapai karena peran sentral Gayatri, istri Raden Widjaya, ibunda ratu ketiga Majapahit, Tribhuwanatungga-dewi, sekaligus nenek dari Hayamwuruk, raja terbesar di sepanjang sejarah Kerajaan Majapahit. Gayatri tidak pernah menjabat resmi sebagai ratu, tetapi peran politiknya telah melahirkan generasi politik yang sangat luar biasa di Nusantara kala itu.

Melirik sejarah feminisme, yang menjadi tuntutan pertama adalah mengenai peran mereka dalam kegiatan politik yang seterusnya disebut hak suara perempuan. Di sebuah kota bernama Athena, tempat lahirnya demokrasi pun hanya memberikan hak suara kepada lelaki. Setelah memasuki pertengahan abad 18 yang merupakan awal masa pergerakan feminisme, barulah disitu perempuan mendapatkan hak suaranya.

Adanya tunas maka pohon pun semakin nampak. Setelah mendapatkan hak suaranya, harapan pun semakin bertambah. Kaum feminisme mencanangkan harapan baru akan peran perempuan dalam politik praktis. Sudah tentu pada awalnya hal ini mendapat benturan dari kaum konservatif dan tradisionalis. Mereka menganggap bahwa perempuan yang ‘keluar dari rumahnya’ adalah tidak lazim, tidak Islami, dan tidak berbudaya. Perempuan bagi mereka hanyalah pengayom keluarga dan pendidik anak.

Namun, pro kontra yang terjadi belakangan ini, justru membuat sosok-sosok perempuan hebat bermunculan di negara Indonesia yang kita cintai ini. Dalam sejarah Republik Indonesia, jabatan Presiden pernah diduduki seorang perempuan bernama Megawati. Setelah itu bermunculan kembali tokoh perempuan lokal baik yang berperan sebagai kepala daerah maupun legislator.

Cerita pro kontra akan pemimpin perempuan juga terjadi di Kabupaten Kuningan. Puncaknya, menjelang Pilkada Kuningan 2013 yang lalu. Istri Bupati Kuningan saat itu, Hj. Utje Ch Suganda diusung partai yang dikenal dengan Marhaenismenya untuk menjadi calon bupati kuningan. Berpasangan dengan Acep Purnama yang kala itu menjabat sebagai Ketua DPRD Kabupaten Kuningan menjelma menjadi kontestan serius dalam pilkada kala itu. Lantas pasangan calon Bupati dan wakil Bupati yang akrab disapa UTAMA memenangkan Pilkada setelah di putuskan dalam sidang MK.

Cerita kemenangan Hj Utje sontak menjadi bahan pembicaraan yang menarik di kalangan penikmat politik lokal kuningan. Apa pasal, bagaimana tidak yang tadinya istri sang Bupati kini menjadi Bupati. Sebagian orang berpendapat, mungkin ini perpanjangan tangan kekuasaan dari bupati sebelumnya. Bukankah lebih baik jika memang perpanjangan tangan dari Bupati sebelumnya? Bisa saja apa yang belum terlaksanakan di kepemimpinan sebelumnya, bisa dengan mudah di wujudkan pada kepemimpinan Hj Utje.

Dalam perjalanan kepemimpinnya, Hj. Utje menjadi buah bibir masyarakat. Tentu baginya, suatu tanggungjawab yang berat menggantikan sang suami memimpin Kabupaten Kuningan. Perbandingan kualitas kepemimpinan pun, tak lepas dari sorotan berbagai pihak. Sang suami yang lekat dengan sebutan bapak pembangunan Kuningan atau sering juga disebut “Bapak Hotmik”, tak bisa dipungkiri menjadi bayang-bayang akan kinerja Hj.Utje. Maka tidak ada cara lain, Hj.Utje perlu membuat jalan baru untuk terlepas dari bayang-bayang itu.

Bersama H. Acep Purnama beliau meretas jalan baru, jalan menuju Kuningan MAS (Mandiri, Agamis, Sejahtera). Dengan Visi MAS nya, beliau mengkampanyekan ke pelosok-pelosok agar di pahami masyarakat dan di kerjakan bersama masyarakat kuningan secara menyeluruh.

Sistem kepemimpinan yang beliau bangun bersama pak Acep Purnama menjadi sebuah contoh yang menarik. Walaupun sering dihembuskan adanya perpecahan diantara mereka, namun duet ini justru menanggapinya dengan senyuman dan selalu on the track mewujudkan visi misi yang mereka canangkan bersama.

Politik Silaturahmi yang di jalankan Hj. Utje lantas mendapat respon positif dari masyarakat kuningan. Dari keceriaannya, gaya komunikasinya, senyum khasnya mampu menjadi penyeimbang nama besar pendahulunya. Kekuatan dari sisi feminismenya muncul pada waktu yang tepat, dan ruang yang tepat.

Selama kurang lebih dua tahun beliau memimpin Kuningan, berbagai prestasi mulai di torehkan. Dari segi manajemen keuangan daerah, Badan Pemeriksa Keuangan memberi penilai hasil auditnya dengan Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) untuk Laporan Keuangan Pemerintah Daerah tahun 2014.

Pada Rabu 12 Desember 2013 Bupati Kuningan Hj. Utje Ch Suganda menerima anugerah penghargaan Parahita Ekapraya (APE) tingkat Pratama Nasional dari Presiden RI, dinilai mengusung pengarusutamaan gender (PUG), pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak pada kebijakan pemerintahan.

Dan masih banyak lagi penghargaan yang di dapat, baik yang sifatnya pribadi maupun untuk pemerintah. Yang terpenting, beliau mempersembahkan semua itu untuk Kuningan, sebagai bentuk pengabdiannya bagi Daerah yang telah menganggapnya sebagai ibu.

Terima kasih Bunda Utje, kau sosok inspirasi bagi perempuan kuningan, kau telah memberi contoh bagi anak-anakmu. Kau telah mencetak sejarah hebat, kaulah Bupati Perempuan Pertama dalam sejarah Kuningan. Amanahmu akan kami jaga, Perjuanganmu akan kami lanjutkan, kekuranganmu akan kami perbaiki.

Al Fatihah untuk mendiang Bunda Utje Ch Suganda….Amiiin.

Penulis: AB Sudrajat
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Bupati Perempuan Pertama Dalam Sejarah Kuningan Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan