728x90 AdSpace

21 April 2016

Kartini; Sebuah Perjuangan dan Kesadaran



oleh Zaka Vikryan

SuaraKuningan.com - Ketergesa-gesaan dalam menginterpretasikan perempuan sebagai makhluk nomor dua pada suatu sistem kemasyarakatan adalah suatu kecelakan fatal. Ungkapan-ungkapan yang menyatakan bahwa derajat perempuan lebih rendah daripada laki-laki memang bukanlah barang baru. Mayoritas pemeluk agama Islam misalnya, mereka tidak jarang menjadikan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim tentang penciptaan Hawa dari tulang rusuk Adam sebagai legitimasi ketika mendengungkan ungkapan tersebut.

Kita tentu masih ingat ungkapan “urusan perempuan itu hanya sumur, dapur, dan kasur”. Ungkapan demikian tidaklah berlebihan jika dinilai telah mencederai ketentuan Allah swt. Padahal Allah swt dalam surat An-Nahl ayat 97 dengan tegas menyatakan bahwa keduanya memiliki kesempatan yang sama untuk mengerjakan kebajikan.

Andaikata perempuan senantiasa diposisikan sebagai the second human dan selalu dibatasi ruang kreativitasnya, maka pertanyaan berikutnya “Bagaimana mungkin perempuan dapat mengerjakan kebajikan seperti yang laki-laki kerjakan?” Memang benar, ruang kreativitas dapat diciptakan secara mandiri. Namun eksistensinya tetap saja membutuhkan peranan publik agar lebih bernilai guna. Maksudnya, suatu kreativitas akan dianggap gagal jika tidak memberikan sumbangsih pada dunia realitas.

Untuk mewujudkan itu semua, maka perlu adanya hubungan kausalitas antara kreativator, realitias, dan apresiator. Maka, sebuah keniscayaan kiranya bahwa setiap manusia (laki-laki maupun perempuan) harus diberikan kesempatan yang sama dalam semua hal.

Sejarah telah mencatat sosok perempuan-perempuan tangguh yang pernah lahir, berjuang, berkarya. Pada mitologi Yunani misalnya, Athena dianugerahi sebagai dewi perang. Sosok perempuan yang juga mendapat julukan parthenos (perawan) itu dikisahkan sebagai garda terdepan dalam menangani ketidakadilan. Di tanah dan masa yang berbeda muncul pula seorang ilmuan perempuan pertama, Hypatia. Perempuan yang dibunuh karena tudingan sebagai perusuh agama ini berhasil menciptakan plane astrolabe, sebuah alat untuk mengukur posisi bintang, planet, dan matahari.

Di Indonesia pun tidak kekekurangan sosok perempuan yang patut dijadikan sumber keteladanan. Cut Nyak Dien misalnya, adalah salah satu nama seorang perempuan yang menjadi legenda di Indonesia. Kegigihannya melawan Belanda membuat namanya sebagai pahlawan tanah air harum hingga kini. Selain perempuan kelahiran 1848 itu, ada pula Raden Ajeng Kartini. Namun perjuangan Kartini yang hidup di masa penjajahan Belanda berbeda dengan Dien. Jika Dien menangkat senjata di medan pertempuran melawan Belanda, maka Kartini lebih dikenal dengan perjuangannya atas kesetaraan dan pendidikan.

Kartini lahir di Jepara pada tanggal 21 April 1879. Lahir sebagai seorang perempuan “berdarah biru” tidak serta-merta membuat dirinya beku terhadap kehidupan sosial. Ia senantiasa memikirkan pelabelan konservatif dari masyarakat yang ditujukan bagi kaum perempuan saat itu. Adapun buah pemikiran Kartini berupa surat-surat yang ia kirimkan pada Rosa Abendanon kemudian menjadi sebuah buku dengan judul Duistermis Tot Licht.

Taukah engkau semboyanku? “Aku mau!” Dua patah kata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan. Kalimat “Aku tiada dapat!” melenyapkan rasa berani. Kalimat “Aku mau!” membuat kita mudah mencapai puncak gunung. (RA. Kartini)

Dari ungkapan Kartini di atas, kita dapat merasakan suatu sikap yang gigih dalam memperjuangkan sebuah cita-cita. Pada awalnya Kartini terganggu dengan budaya pingit yang ada dan menimpa dirinya. Ia mulai dipingit setelah menyelesaikan pendidikan di ELS pada usia 12 tahun. Selama menjalani masa pingit perempuan tidak boleh keluar rumah, itu artinya sekolah dan berinteraksi dengan masyarakat luas pun dilarang keras. Kartini memandang pingit sebagai produk budaya yang menghambat kreativitas dan perburuan ilmu pengetahuan bagi kaum perempuan.

Kartini menjelma pejuang perempuan Indonesia yang utuh pada tanggal 12 November 1903. Keutuhannya ia raih dengan membangun sebuah keluarga bersama K.R.M Adipati Ario Singgih Djoyodinigrat. Menikah dengan seorang laki-laki tidak membuat dirinya berhenti memperjuangkan kaum perempuan. Justru, suaminya memberikan dukungan pada apa yang ia perjuangkan. Akhirnya, Kartini berhasil mendirikan sekolah yang dikhususkan bagi kaum perempuan.

Dewasa ini, kiranya cita-cita Kartini belumlah terwujud benar. Hambatannya tentu saja berbeda. Zaman dulu, pelabelan konservatif mungkin satu-satunya hambatan bagi terwujudnya cita-cita Kartini. Namun masa kini bukan hanya itu, ada beberapa faktor penghambat baru yang bermunculan, diantaranya adalah faktor kesadaran dan ketidakpedulian perempuan. Setelah Indonesia merdeka dan kesempatan perempuan mengambil peran di ruang publik sama besarnya dengan laki-laki, justru hambatan muncul dari perempuannya itu sendiri.

Di desa atau kota-kota kecil di Indonesia, kita tidak akan kesulitan menemukan perempuan berusia 17 sampai dengan 20 tahunan yang sudah menikah, hanya sekadar lulusan SMP atau bahkan SD, dan tidak memiliki karya yang visioner bagi perubahan sekecil apa pun. Paradigma yang mereka miliki cenderung kolot. Kalau diingat kembali bagaimana Kartini memperjuangkan perempuan dan membandingkannya dengan realitas sekarang maka perasaan ironis akan muncul seketika. Padahal, sejatinya perempuan di mana pun ia berada haruslah sadar dan bersungguh-sungguh dalam berjuang. Materi dan sarana yang terbatas bukan alasan yang tepat untuk tidak berjuang, sadar, dan peduli pada sekitar.

Sistem patriarki di Indonesia pada dunia pendidikan kini sudah sedikit lenyap. Male centered – dalam dunia pendidikan khususnya – kiranya sudah menjadi anggapan yang tidak laku dan tidak benar. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan ketetapan Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 yang menyatakan bahwa setiap warga negara, baik, perempuan maupun laki-laki, mendapatkan kesempatan setara untuk mengecap pendidikan. Ini keadaan emas! Perempuan Indonesia tidak boleh menyia-nyiakannya!

Lebih ironis lagi, manakala kita perhatikan perempuan yang lahir di keluarga berada dan ia mampu membayar bangku sekolah namun tidak ada beda dengan perempuan desa yang hanya tamatan sekolah dasar. Penampilan fisik mungkin berbeda, hanya saja tingkah laku dan cara pandang tidak ada beda atau bahkan lebih buruk dari perempuan desa. Misalnya saja, dapat kita perhatikan bahwa zaman sekarang perempuan-perempuan yang sekolah lebih banyak mengunjungi kedai, resto, atau taman hiburan ketimbang perpustakaan, toko buku, dan forum-forum kajian.

Bagi perempuan-perempuan yang sedikit “beruntung” seharusnya mampu berpikir, mensyukuri, dan amanah pada tanggung jawabnya sebagai insan intelektual pembawa perubahan. Jika rutinitasnya hanya diisi oleh hedonitas belaka, malas berpikir, tidak peka terhadap lingkungan, bagaimana mungkin dirinya akan memiliki nilai di mata masyarakat? Bagamana mungkin pula ia membuat suatu perubahan? Tidakkah berat dan malu menyandang status sebagai insan intelektual jika tidak melahirkan karya yang bermanfaat bagi dunia?

Masyarakat Indonesia, perempuan khususnya, selalu saja bangga dan mendendangkan nama Kartini sebagai teladan pejuang perempuan di Indonesia. Kartini sebagai tokoh pejuang perempuan Indonesia yang acapkali diperingati pada tanggal 21 April kiranya adalah sebuah kesalahan yang berbuah dosa jika hanya menyentuh permukaan saja. Apalagi jika peringatan dipanggungkan hanya sekadar pemenuhan program kerja atau “ngartis” kelompok saja. Apa guna sebuah peringatan tanpa adanya bekas yang menapak-tilas?

Hanya ada satu cara yang tepat untuk sebuah peringatan dan membuat seorang perempuan pantas menyebutkan Kartini sebagai teladan, yakni mengikuti jejak perjuangannya dan keluar dari kerangkeng tanggal peringatan. Perjuangan tidak akan mungkin dapat terlaksana jika terikat pada tanggal semata wayang. Perjuangan harus dilakukan secara rutin dan total. Kesadaran Kartini akan pendidikan harus pula dihayati dan dijalani oleh perempuan-perempuan masa kini. Jika dahulu Kartini dengan usianya yang masih muda mampu membaca dan menulis secara baik, mengapa tidak dengan perempuan-perempuan muda – generasi penerus bangsa – zaman sekarang?


Kuningan, 19 April 2016
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Kartini; Sebuah Perjuangan dan Kesadaran Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan