728x90 AdSpace

16 April 2016

Menggali Jejak Peradaban Masyarakat Kuna Kuningan

Ekspedisi Batu Naga Situs Jabranti 2013

oleh: Tendy Chaskey 
Penulis adalah Orang Kuningan, Alumnus Intercultural Leadership Camp Programme, Victoria University of Wellington, New Zealand. Saat ini tengah menempuh Program Doktoral
 
suarakuningan.com - Salah satu peninggalan masa lalu yang dapat ditemui di masa sekarang adalah bangunan-bangunan megalitik. Situs-situs megalitik banyak dibuat pada masa bercocok tanam, ketika manusia mulai hidup menetap dan meninggalkan kehidupan berburu serta tidak lagi hidup nomaden.

Masa ini dikenal pula sebagai masa pra-aksara karena dalam periode tersebut manusia belum mengenal tulisan. Meski tidak ada bukti tulis yang konkrit mengenai kehidupan manusia pra-aksara tersebut, sebenarnya pelbagai situs megalitik bisa ditelisik sebagai data penting untuk mengungkap kehidupan manusia masa lampau. Situs-situs tersebut bisa dipakai sebagai data untuk merekontruksi kebudayaan dan cara hidup masyarakat sebelum mereka mengenal kegiatan tulis-menulis.

Bangunan megalitik dapat dikaji melalui studi arkeologi ruang dan situs-situs itu dapat dijadikan sebagai situs pemukiman karena termasuk situs yang dipakai oleh masyarakat. Studi atas situs pemukiman tidak hanya terbatas pada kajian terhadap tempat tinggal semata, namun juga termasuk di antaranya kajian terhadap situs-situs upacara, industri, ekonomi, dan lain sebagainya.

Kuningan merupakan salah satu wilayah yang memiliki banyak situs-situs megalitik. Pelbagai peninggalan masa lalu itu tersebar di sejumlah wilayah, mulai dari kecamatan Pasawahan di sisi utara hingga kecamatan Darma di sisi selatannya. Wilayah-wilayah itu umumnya berada di lingkar pertama kaki Gunung Ciremai. Beberapa situs yang terdapat di Kuningan itu adalah Situs Cibuntu di Pasawahan, Situs Cibunar di Cilimus, Situs Rajadanu di Jalaksana, Situs Buyut Sukadana di Kramatmulya, Situs Gibug di Cigugur, Situs Cangkuang di Kuninga, Situs Hululingga di Kadugede, dan Situs Darmaloka di Darma. Selain situs-situs tersebut masih banyak lagi situs lainnya yang juga berada dalam lingkungan yang sama.

Menurut Ivan Efendi dalam penelitiannya, ditemukan fakta bahwa peletakan situs megalitik yang tersebar di kaki Gunung Ciremai dipengaruhi oleh sejumlah variabel alam, di antaranya adalah ketinggian permukan tanah yang berkisar antara 100 hingga 751 meter di atas permukaan laut, bentuk medan area situs yang semuanya adalah lereng gunung, serta jarak ke sumber air yang tidak lebih dari 1 kilometer saja.

Situs-situs upacara biasa ditempatkan di area yang tinggi karena masyarakat kuna menganggap bahwa tempat yang tinggi itu lebih dekat dengan kekuatan supranatural yang menjadi entitas penguasa mereka. Sementara itu, keadaan tempat yang berada di lereng gunung menunjukkan bahwa tanah lapang situs tetap dapat menampung banyak orang meski terletak di dataran yang tinggi. Adapun jarak ke sumber air yang tidak terlalu jauh menunjukkan bahwa manusia memang sedari dulu tidak dapat hidup tanpa air. Sehingga tepatlah ungkapan bahwa, “air itu adalah sumber kehidupan”.

Perlu diketahui pula bahwa pada umumnya hampir semua situs-situs tersebut menghadap ke arah Gunung Ciremai. Hal itu secara tidak langsung menggambarkan kepercayaan masyarakat masa lalu yang masih sangat sederhana karena faktor alam seperti halnya Gunung Ciremai yang aktif, dianggap oleh masyarakat sebagai kekuatan eksternal yang sangat besar. Dengan demikian, pada masa pra-aksara, gunung tertinggi di Jawa Barat itu dianggap sebagai tempat suci yang diagung-agungkan oleh berbagai kelompok tradisional masyarakat setempat.
Wallahu’alam..
(Tendy Chaskey)

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Menggali Jejak Peradaban Masyarakat Kuna Kuningan Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan