728x90 AdSpace

6 Mei 2016

Selangkah Kisah Kuda Kuningan


oleh: Tendy Chaskey 
Penulis adalah Orang Kuningan, Alumnus Intercultural Leadership Camp Programme, Victoria University of Wellington, New Zealand. Saat ini tengah menempuh Program Doktoral
 
Suarakuningan.com - Ketika kita hendak berbicara tentang Kuda Kuningan, maka seakan-akan kita hendak berbicara mengenai suatu kasus yang amat sukar untuk dipecahkan. Tidak ada saksi, tidak ada bukti, benar-benar tidak ada petunjuk sama sekali. Misteri yang benar-benar sempurna.

Memang betul kita dapat melihat banyak kuda berbaris di sepanjang jalan pusat kota Kuningan, dari sisi utara kota hingga sisi selatannya. Tapi ternyata kuda-kuda itu bukanlah kuda asli yang dikembangkan di Kuningan, kuda gagah yang namanya besar dalam panggung sejarah. Kuda yang berjejer di sekitar wilayah kota Kuningan itu sebagian besarnya adalah hasil persilangan kuda yang berasal dari wilayah Sumbawa, Nusa Tenggara, dengan kuda yang berasal dari Tegal, Jawa Tengah.

Dalam data Dinas Pertanian Kabupaten Kuningan berangka tahun 2008 diketahui bahwa 605 ekor kuda yang ada di Kuningan, semuanya adalah kuda yang diperuntukkan delman dan diternakkan di luar daerah. Benar-benar tidak ada kuda yang diternak secara khusus di dalam wilayah Kuningan.

Identitas Kuda Kuningan sendiri sebenarnya masih samar-samar. Tidak banyak rekam tertulis yang mencatat secara jelas apa dan bagaimana kuda lembah Ciremai tersebut. Meski begitu, sejumlah tutur lisan yang berkembang di tengah masyarakat mengungkapkan bahwa Kuda Kuningan adalah kuda berukuran sedang, tidak terlalu kecil dan juga tidak terlalu besar, namun memiliki tenaga yang sangat besar, tangguh, dapat bergerak gesit, dan lincah.

Dalam Sejarah Kuningan: dari Prasejarah hingga Terbentuknya Kabupaten, Edi Suhardi Ekadjati menyebutkan bahwa Kuda Kuningan adalah kuda perang yang amat tangguh meski memiliki perawakan yang kecil. Satu dari sekian hewan berkaki empat Kuningan ini bernama si “Windu”, yang dipelihara oleh Dipati Ewangga pada abad ke-15 dan digunakan sebagai kendaraan tempur dan perang. Dalam dokumen riwayat singkat hari jadi kota Kuningan juga diungkapkan bahwa kuda tangguh ini memiliki peran penting dalam perjalanan perang Sang Adipati Kuningan di sejumlah medan laga, seperti dalam arena pertempuran Galuh, Indramayu, dan juga Sunda Kelapa.

Sejak era kebesarannya itu, nama kuda Kuningan tidak pernah termaktub lagi dalam tulisan-tulisan sejarah. Banyak pihak beranggapan bahwa kuda kecil nan tangguh tersebut telah punah sejak akhir masa keemasannya karena memang tidak pernah ada bukti upaya pelestarian dan peternakannya. Meski pernah ada upaya pengembangbiakkan kuda di hutan Bungkirit pada masa kolonial Belanda, ternyata dalam perkembangannya upaya itu berhenti karena adanya suatu alasan yang belum dapat diketahui hingga saat ini.

Meski demikian, van Der Lith, dalam Encyclopaedie van Nederlandsch-Indië terbitan tahun 1896, tetap mengakui bahwa secara luas Kuda Kuningan memang memiliki perawakan yang bagus walaupun tubuhnya relatif lebih kecil dan pendek dari kuda pada umumnya. Ia juga menambahkan bahwa menurut legenda, kuda-kuda tersebut adalah keturunan dari kuda biasa dan kuda bersayap (atau Kuda Sembrani).

Meski jejak langkah dan sejarah Kuda Kuningan itu belum dapat disusun dan diungkapkan dengan pasti hingga banyak yang menganggapnya sebagai mitos belaka, setidaknya penggalan data dan uraian yang tertulis ini dapat menjadi satu titik terang bagi gelap gulitanya kebenaran cerita Kuda Kuningan. Karena bagaimanapun nama si “Windu” benar-benar telah tertanam kuat dalam benak masyarakat Kuningan. Kisah heroiknya bersama sang empunya, Dipati Ewangga, menjadi cerita legendaris yang terus disosialisasikan di tengah masyarakat dari generasi ke generasi.

Secara tidak langsung, cerita rakyat tersebut turut pula mencuatkan istilah “kecil-kecil Kuda Kuningan”, yang berarti walaupun memiliki perawakan tubuh kecil tetapi tidak dapat dianggap enteng karena bisa mengalahkan musuh yang besar dengan ketangguhan dan kegesitannya. Jargon ini dapat dipahami secara luas agar siapapun jangan pernah meremehkan orang Kuningan, karena walaupun berasal dari kota kecil mereka bisa berbuat lebih dari yang diperkirakan orang-orang di kota besar.

Derap langkah kuda-kuda pemberani Kuningan itu memang tidak pernah terdengar akrab lagi di telinga, namun kebesarannya tetap hadir dalam hati dan dapat menginspirasi pemerintah daerah Kuningan untuk menjadikannya sebagai maskot daerah. Bahkan kini Kuningan telah masyhur dengan julukan “Kota Kuda”, yang salah satu akar sejarahnya berasal dari cerita tentang kuda dari Sang Adipati Kuningan. Wallahu’alam.. (Tendy Chaskey)
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Selangkah Kisah Kuda Kuningan Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan