728x90 AdSpace

21 November 2018

The Last Lecture (Sebuah Refleksi Wisuda Unisa)

Rabu, 21 November 2018

Ananda , izinkan saya menuliskan pikiran dan bisikan hati saya, anggap saja ini adalah kuliah terakhir saya untukmu, karena tidak mungkin saya mendatangimu satu per satu untuk menyampaikan hal ini di harimu yang sangat bahagia.

Ananda, wisuda adalah hari gembira bagi para pemalas, dengan wisuda ia merasa belajarnya sudah selesai dan tugas hariannya tak akan ia jumpai lagi. Para pemalas senang dengan simbol kemalasan dan bentuk-bentuk pengakuan. Tumbuh dalam hatinya, saya sudah selesai belajar dan sekarang saya jadi sarjana. Maka bagi mereka, hari ini adalah legalitas atas dirinya untuk tidak belajar, hari ini adalah hari dimana orang lain tak bisa dan tak boleh seorangpun menyuruh saya untuk belajar, membuka buku, mengerjakan tugas apalagi mengabdi kepada masyarakat, itu bisikan pikirnya. Sayakan sudah wisuda, sudah sarjana masa masih harus belajar. Bagi mereka, wisuda itu " wis " dan " udah", tamat.

Ananda, jika sikap mu dalam belajar dibatasi oleh wisuda, maka sebenarnya inilah awal dari keburukanmu, awal juga dari kebodohanmu. Artinya, sekian tahun dirimu dibiasakan untuk belajar tapi kesimpulan akhirnya masih saja keliru. Belajar adalah kepribadianmu bukan hanya kebiasaanmu. Jika dalam wisuda ini, malah menjadi legalitasmu untuk malas,sebenarnya kita merayakan kemalasanmu, mengeluarkan biaya besar untuk menyukseskan kemalasanmu dan juga mendoakan awal kemalasanmu.

Ananda, saya ingin kamu menjadi pembelajar sejati juga pembelajar yang tahu diri. Mereka adalah yang menjadikan belajar itu sebagai kebiasaan, kepribadian dan juga kehidupan. Saya ingin mulai hari wisuda mu adalah hari dimana engkau merasa kebodohanmu, hari merasa butuh ilmu dan butuh belajar lebih kuat lagi. Dulu saat kamu malas,dosenmu akan memaksamu untuk belajar tapi kini engkau bebas, andai kamu menjadi sarjana yang tahu diri maka engkau akan bangkit dari kemalsan itu. Ananda, pembelajar sejati, mereka adalah orang selalu haus ilmu dan rendah hati. Saya berharap, terus belajar dan tetapalah rendah hati karena ilmu hanya akan mengalir kepada orang yang rendah hati. Semoga engkau bisa melewatimu dengan sempurna dalam mengarungi samudra pembelajaranmu di bumi ini.

Ananda, saya hanyalah manusia biasa. Saya ingin engkau bisa menyempurnakan kekuranganku. Jika engkau dapati dirimu malas mungkin ada saat-saat kami mengajarmu dulu ada malasnya, jika engkau dapati engkau sombong mungkin juga ada sombong saya yang tertular padamu, jika engkau dapati dirimu banyak menuntut keadaan, mungkin itu juga yang menandakan ketidakikhlasan kami saat mendidikmu. Atas kesalahan saya itu, insyaAllah aku akan menebusnya dengan selalu mendoakanmu.

Ananda, hari ini ananda boleh bahagia bukan karena keberhasilan tapi karena ada harapan. Harapan dari ibu yang seringkali kau tinggalkan saat kuliah, yang sering kamu abaikan dengan tugasmu. Harapan dari ibu yang sejenak kehilanganmu saat engkau banyak meminta harta dan doanya. Harapan dari seorang ayah yang telah menguras keringat dan air matanya untuk melihat bahagiamu hari ini. Juga senyum harapan dari anak-anakmu yang sering kamu tinggalkan serta harapan saudara-saudaramu yang sering kamu abaikan. Kini harapan kami dosenmu dan keluarga menyatu, saat toga itu berpindah ke sebelah kananmu, tanda dan harapan kamu selalu berpihak ke kanan kepada kebaikan.

Ananda,yang terakhir ini yang hampir tak kuasa aku sampaikan padamu. Sebenarnya harapan saya dan keluargamu adalah harapan kecil, harapan yang akan segera sirna dan tiada bahkan harapan yang tiada artinya. Ananda, (jika kuasa ingin kubisikan kalimat ini di telingamu, perlahan) agar aku tak mengulangi kembali kalimat ini dan cukup sekali aku akan menyampaikan ini padamu. Ananda, sebenarnya " yang paling berharap pada kemuliaanmu buka saya, juga bukan keluargamu tapi Allah SWT yang sangat berharap padamu". Lama IA engkau tinggalkan atas nama kesibukanmu, kini IA selalu menantimu, menanti kehadiranmu, menanti tangisan air matamu, menanti saat-saat kamu bisa saling merindukan denganNya"

Ananda, temuilah Ia dalam doamu, dalam ruku dan sujudmu, bukan karena kami engkau mulia tapi karena Allah lah kamu mulia. Kini aku bahagia, bukan karena kamu wisuda tapi dengan wisuda kamu bisa dekat denganNya. Semoga engkau selalu mengingat kami dalam setiap munajat dan doamu.***

DR. IMAN SUBASMAN, M.Si
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

1 komentar:

  1. Syukran jazakillah khairan katsiran prof, saya sangat berterimakasih menjadi salah satu anak didik prof, semoga Allah SWT selalu memberikan kesehatan dan keistiqomahan untuk prof. Aamiin

    BalasHapus

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: The Last Lecture (Sebuah Refleksi Wisuda Unisa) Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan