728x90 AdSpace

22 Januari 2019

(Lelucon) Hegemoni Media Massa Hari Ini


oleh: Ryan Aldi Nugraha
 
suarakuningan.com - Jauh sebelum membahas siaran televisi yang sedang hangat hari ini, atau mungkin lelucon-lelucon di media massa, kita ‘bredel’ sedikit perjalanan media massa di negara berkembang ini. 

Pers di negara kita sudah memasuki 2 iklim pemerintahan, orde baru dan reformasi. Dua iklim yang dihadapi ini sudah pasti memiliki dinamika yang berbeda. 

Saat orde baru misalnya, terutama pasca peristiwa Malari 1974, pemerintah memegang kontrol dominasi terhadap kebebasan pers yang juga sempat dicap sebagai salahsatu ciri pembangunan nasional. Kala itu, orde baru berupaya sekuat mungkin membungkam media yang dapat merusak reputasi istana (Surjomihardjo, 2002). 

UU Pers No.40 Tahun 1999 kemudian muncul pasca runtuhnya rezim orde baru sebagai upaya legitimasi atas kebebasan pers. Di era reformasi ini mulai tumbuh euforia keterbukaan, hingga kadang konten berita lebih galak, tidak sekaku dulu.

Namun setelah lebih dari 20 tahun pasca reformasi, galaknya media massa tidak menjamin bahwa media massa kita semakin dewasa. Saking terbukanya, tahun 2012 acara komedi di beberapa stasiun tv sempat disemprot KPI (Komisi Penyiaran Indonesia). 

Kasus yang dihadapi antara lain: body shaming (pelecehan kondisi fisik), diskriminasi gender bahkan melanggar norma kesopanan. Beberapa kali pula KPI menjatuhkan sanksi berupa teguran tertulis, hingga melakukan sensor. Banyaknya siaran komedi yang menawarkan lelucon, ternyata menyimpan lelucon menggelitik di dalamnya.

Di tahun politik, ada saja kelakuan media massa di negara berkembang. Sibuknya KPI masih berlanjut hingga awal tahun ini. Mereka kembali melayangkan teguran kepada salahsatu stasiun tv yang kurang mengedepankan netralitas dan independensi. Mayong Suryo Laksono, Komisioner KPI Pusat menyebutnya ‘sedikit memberi ruang pada oposisi.’ Ini belum lucu. 

Mari kita tarik pada kasus atau tepatnya lelucon hegemoni media massa tahun lalu. Kita sering mendengar salahsatu mars partai baru. Semua kalangan hapal lirik mars itu dari kalangan anak SD dan ibu-ibu. Akhirnya, 10 Mei 2017 lagi-lagi KPI melayangkan surat teguran tertulis pada stasiun tv yang memuat siaran berbau politis. Hingga kini tak terlalu terngiang lagi. Hanya irama musik mars partai yang tanpa lirik. Haha!

Tapi bagaimanapun dalam rantai perusahaan media, pemilik media merupakan kelompok dominan, seorang playmaker sejati. Media massa adalah salahsatu pilar demokrasi sekaligus corong ideologi. Di sini ideologi bertarung satu sama lain merebutkan hegemoni. 

Meskipun sejatinya media massa mengejar rating dan permintaan, kesemuanya itu beroperasi dalam sistem yang ditujukan untuk mempertahankan kepentingan. Maka dari itu, ketika menonton siaran yang tersaji, di sinilah analisis kita diuji: sejauh mana pengaruh siaran tersebut terhadap ekonomi, sosial, politik, dan budaya dalam kehidupan sehari-hari. Bukannya malah tergiring opini hingga tak akur dengan tetangga kanan-kiri, terus diomelin sama istri.

*(Penulis sedang bosan nonton tv. Pulang kampung ke Sampora karena terkoyak-koyak kuliah di Jogja)
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

1 komentar:

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: (Lelucon) Hegemoni Media Massa Hari Ini Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan