728x90 AdSpace

11 Februari 2019

Cerpen: Bersama Ibu

Oleh Kang Yat Nata


13 Juni 2016

Bu, hari ini aku Ujian Nasional. Meski semalam tak belajar, aku yakin bisa mengerjakan semua soalnya. Masalah benar atau salah itu urusan nanti. Aku hanya ingin cepat pulang, ingin segera mengambil selimut agar bisa menyelimuti tubuh Ibu di Rumah Sakit.

14 Juni 2016

Hari kedua. Tak banyak soal yang bisa kujawab. Sms yang kuterima dari Kakak masih memenuhi kepalaku. Aku sama sekali tak bisa konsentrasi. Aku ingin segera pulang. Aku ingin menemani Ibu. Ibu yang kuat ya, sehari lagi ujianku selesai dan segera aku akan datang dan bercerita bagaimana bahagianya aku di sekolah meski jauh dari rumah.

Sore tadi Kakak meneleponku. Katanya Dokter tak bisa berbuat banyak sampai ada ginjal yang cocok untuk Ibu. Semoga Ibu kuat sampai lusa. Sehari lagi ujianku akan selesai dan aku akan segera datang.

Tunggu ya, Bu.

15 Juni 2016

Aku pulang. 8 jam perjalanan yang melelahkan hanya dari sekolah ke rumah. Lalu aku dibawa Paman menemuimu di sini.

Rumah sakit tempat yang membosankan ya, Bu. Aku tak berharap ibu betah di sini selama belum ada donor Ginjal yang cocok untuk Ibu. Aku harap ibu pulang. Sehat lagi. Lalu setiap 2 bulan sekali mengunjungiku ke sekolah, seperti yang sudah-sudah.

Aku tak kuasa menahan tangis melihat banyak selang yang menancap di tubuh ibu. Dan ibu sama sekali tak ingin membuka mata meski tahu aku datang.

Ujianku selesai, Bu. Dan sekarang akan kuhabiskan waktuku untuk menemanimu sampai sembuh. Ohya, Bu. Tadi dokter juga melakukan pemeriksaan padaku. Semoga aku bisa memberikan ginjalku untuk Ibu..

17 Juni 2016

Dear Ibu...

Darahku tak sama denganmu. Segala yang ada dalam tubuhku bahkan sama sekali berbeda denganmu, dengan Kakak.

Aku anak siapa, Bu?

7 Januari 1998

"Nak, belajar yang rajin. Ibu yakin kelak kau akan jadi anak yang berhasil. Kamu nanti mau jadi apa, Nak?"

"Aku mau jadi dokter. Agar bisa mengobati Ayah. Jadi kita gak perlu menunggu lama lama di Rumah Sakit. Boleh kan, Bu?"

Ibu membelai rambutku, tersenyum, "Boleh, Nak"

Hanya itu. Lalu Ibu histeris ketika dokter menyatakan bahwa Ayah sudah tiada.

18 Juni 2016

Aku masih ingat waktu Ayah pergi. Aku tak mau Ibu pergi di Rumah Sakit yang sama dengan ayah dulu. Tolong, bu. Sembuhlah.

Aku tak mau hidup berdua bersama kakak. Dia pelit. Tak seperti Ibu yang selalu memberikan apapun untukku. Tak seperti Ibu yang selalu menjual barang berharga hanya agar aku bisa melanjutkan sekolah.

Aku tak mau berdua bersama kakak yang mengatakan bahwa aku bukan adik kandungnya.

Tapi aku tak peduli, bu. Siapapun orangtua yang sudah membuangku di depan rumah kalian, Ibu adalah ibuku. Ibu... Pahlawan Superku.

Sembuh ya, Bu...
Aku ingin bercanda bersama ibu di rumah. Bukan di rumah sakit....

8 Juli 2016

Ibu... Hari ini hasil ujianku sudah keluar. Kita buka bersama ya. Anggap ini hadiah dariku. Kalau nanti hasilnya bagus, aku akan tanam dengan bunga seroja yang sudah tumbuh di dekat pusara Ibu...

Aku yakin hasilnya bagus kok. Aku belajar untuk Ibu. Kalau nanti aku jadi dokter meski Ibu sudah tiada, aku tetap akan mengobati banyak orang.

Tapi kenyataannya lain ya Bu.

Aku tidak lulus lagi tahun ini. Rasanya lebih baik aku berhenti sekolah dan berdiam saja di sini menemani Ibu.

Boleh ya? Aku mohon...

*
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Cerpen: Bersama Ibu Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan