728x90 AdSpace

Update
26 Juli 2018

Puisi: Starlet Putih Kunanti

Sudah lama tidak bersapa
Terbang rotan potong-potongi
Telah lama tidak bersua
Sudah bersua menyakiti


Bahagia tak terkira ketika tahu kedatanganmu tinggal 7 jam lagi. Penantianku akan berujung setelah satu tahun menunggu dalam ketidakpastian. Dengan malu-malu aku lapisi gincu di bibir. Pamanmu meminta ayah menjaga aku untukmu.

Gawai kakakku berdering dan aku mendengarkan dengan saksama apa yang diutarakannya karena aku tahu pamanmu yang menelpon.

Deg! hatiku semakin tak karuan setelah kutahu tinggal 10 menit lagi mereka sampai di rumah nenekmu.

Kulihat starlet putih berhenti.

Pertama, kulihat ayahnya, ibunya, lalu paman dengan kepala tertunduk setelah sekilah kulihat dia menolehku dengan menarik napas. Ada apa gerangankah? Orang  keempat yang turun adalah orang yang selama satu tahun kunanti. Tinggi, hitam manis, berkacamata, rambutnya agak ikal dan senyumnya yang teramat manis di mataku.

Namun senyum itu diberikan untuk orang yang kelima turun dari starlet putih dan menggenggam tangannya dengan penuh cinta menuju rumah nenekmu. Aku hanya terpaku diam entah harus berbuat apa. Kini aku paham arti tatapan paman kepadaku sedang kakak kulihat dia menyeka air matanya dengan diam-diam.

Yuniawati.
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Puisi: Starlet Putih Kunanti Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan