Oleh Yeni Taryani
Aktivis Muslimah
Tak dapat dipungkiri perilaku Kekerasan di negeri ini nyaris tak ada habisnya. Mulai dari perkelahian hingga sampai pembunuhan. Perilaku kekerasan yang terjadi disebabkan banyak faktor salah satunya karna faktor percintaan. Seperti fakta dilapangan menunjukan terjadinya kasus pembacokan mahasiswi di UIN Sultan Syarif Kasim Riau. Seorang mahasiswi menjadi korban pembacokan saat akan melakukan sidang proposal. Peristiwa ini terjadi pada hari Kamis, 26 Februari 2026 pukul 08.30 WIB. Peristiwa penganiayaan terjadi di Lantai 2 Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum UIN Sultan Syarif Kasim Riau, Jalan Soebrantas, Kota Pekanbaru. Seorang mahasiswi Faradilla Ayu dibacok mahasiswa berinisial RM. Pelaku RM melukai korban dengan senjata tajam. Faradilla mengalami luka di bagian kepala dan tangan, kemudian ia langsung dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Riau.
Fakta yang terungkap dalam kasus pembacokan ini dilatarbelakangi motif hubungan pribadi, yaitu masalah percintaan. Pelaku, RM (22), diketahui menyimpan perasaan terhadap korban sejak keduanya mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dalam satu kelompok yang sama. Informasi dari rekan satu kelompok KKN korban dan pelaku mengatakan bahwa sikap perhatian korban kepada teman-temannya diduga disalahartikan oleh pelaku. perhatian tersebut disebut memicu perasaan sepihak dari pelaku. Korban sempat membatasi komunikasi hingga memblokir pelaku. Namun, upaya menjaga jarak itu tidak sepenuhnya menghentikan pendekatan pelaku. Pelaku bahkan pernah mendatangi rumah korban tanpa sepengetahuan korban. Perilaku tersebut dinilai menunjukkan adanya obsesi sepihak yang tidak diinginkan korban. Penolakan demi penolakan diduga menjadi pemicu pelaku nekat melakukan aksi kekerasan.
Melihat perilaku remaja saat ini negara seharusnya mampu mengatasi problematika remaja yang kian hari makin meningkat dan tidak menemukan solusinya. Kasus kekerasan pada remaja tentu bukan sekali dua kali terjadi di negara ini. Remaja yang seharusnya menjadi agen perubahan, justru memunculkan luka bagi negara. Hal ini karena sistem sekulerisme membentuk standar kebebasan dan bertindak semaunya dalam diri remaja tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi orang lain.
Remaja sebagai individu yang jauh dari agama memungkinkan melakukan hal seperti ini, hal ini karena sistem kapitalisme sekuler yang memisahkan antara agama dan kehidupan, berhasil menciptakan individu remaja yang jauh dari nilai-nilai dan norma-norma agama. Terlebih lagi, sistem sekuler kapitalis menormalisasi nilai-nilai liberalisme, khususnya pergaulan bebas (pacaran, perselingkuhan, dll) di tengah keluarga dan masyarakat berdampak besar dalam mengubah prilaku yang bertentangan dengan norma agama bahkan berujung pada pembunuhan. Bahkan kapitalisme sekularisme tidak membentuk akidah individu remaja dengan benar. Wajar saja jika individu remaja lahir menjadi individu yang tidak takut dengan perilaku-perilaku buruk yang mendapatkan ancaman dari syariat agama. Sebab, mereka telah mendapatkan pemahaman bahwasanya kehidupan tidak ada campur tangan agama.
Seperti kasus pembacokan yang terjadi, kasus ini adalah dampak dari pergaulan bebas. Perilaku remaja yang dekat dengan aktivitas kekerasan, pembunuhan, pergaulan bebas menunjukkan kegagalan sistem pendidikan sekuler membentuk generasi berkepribadian mulia. Negara dengan sistem kapitalis dinilai kurang memprioritaskan pembinaan generasi, sehingga generasi sering dipandang hanya sebagai faktor ekonomi yang bernilai produktif dan berorientasi pada materi.
Masyarakat pun makin individualis sehingga tidak lagi peka dan menganggap pergaulan bebas sebagai hal yang lumrah. Demikian pula negara yang berperan dalam mengambil kebijakan proteksi terhadap generasi, tidak lagi bergigi tatkala menghadapi serbuan budaya asing yang merusak generasi. Semua ini secara akumulatif merupakan dampak dari sistem kehidupan kapitalistik dengan nilai-nilai liberalnya yang serba permisif, tidak lagi menghiraukan norma dan agama.
Harapan terakhir adalah kembali kepada sistem Islam bukan sistem kapitalisme yang rusak. Sistem yang menjauhkan agama dari kehidupan. Maka sudah seharusnya bangsa dan umat Islam mencampakkan aturan sekularisme baik secara individu maupun negara bukan justru memujanya. Tidak ada lagi harapan kepada negara dalam menyelesaikan permasalahan perilaku remaja yang kian rusak, sebab yang menciptakan kerusakan remaja adalah kapitalisme sekularisme, sistem yang telah menjauhkan agama dari kehidupan, agama hanya dibatasi di dalam ranah ibadah semata, sedangkan untuk urusan kehidupan dijalankan berdasarkan akal manusia.
Berbeda halnya dalam Islam, sistem Islam akan melindungi remaja dari perilaku yang buruk, khususnya perilaku kekerasan. Sistem pendidikan Islam dibangun di atas dasar akidah, dengan tujuan membentuk kepribadian Islam (pola pikir dan pola sikap sesuai nilai syariat). Dalam sistem Islam setiap individu akan mendapatkan pemahaman akidah dan syariat secara menyeluruh. Kurikulum seperti ini akan menciptakan pemikiran dan perilaku yang baik bagi remaja. Remaja akan dipenuhi rasa tanggung jawab terhadap agama. Segala perilaku yang dilarang dalam agama akan dijauhkan. Mereka akan senantiasa dihiasi ketakwaan kepada Allah Swt. Sehingga, memuncak rasa takut apabila melakukan tidakan kejahatan terhadap sesama. Selain itu, generasi dididik untuk memiliki kesadaran untuk taat pada syariat, halal-haram, tanggung jawab, dan ketakwaan, bukan hanya fokus pada capaian akademik atau keterampilan.
Adapun masyarakat yang dibentuk dalam Islam adalah masyarakat yang dipenuhi ketaatan dan ketakwaan kepada Allah Swt. Mereka akan senantiasa melakukan perbaikan dan mencegah keburukan. Masyarakat saling mengingatkan dalam kebaikan, menentang kemaksiatan, sehingga tercipta suasana yang mendukung ketaatan dan menjauhkan dari perilaku menyimpang. Dalam sistem Islam, negara pun akan menerapkan aturan dan sanksi sesuai hukum Islam untuk memberi efek jera dan menjaga keamanan serta kehormatan masyarakat.
Alhasil, tidak akan ada lagi permasalahan kekerasan remaja, karena permasalahan kekerasan dapat diselesaikan melalui kacamata Islam bukan lainnya. sudah saatnya umat berkiprah kepada sistem Islam dan menjauhkan kapitalisme sekularisme didalam tubuh umat. Umat harus menyadari bahwa tidak ada kesempurnaan hukum, selain hukum yang berasal dari Allah Swt.
Wallahualam bissawab.




0 comments:
Posting Komentar
Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.