Hot News
19 Maret 2026

Menengok Bulan Puasa di Kuningan Pada Zaman Hindia Belanda

Suasana shalat Idul Fitri tempo dulu. (Sumber: Tropenmuseum/Wikimedia Commons)


Oleh: DR. Tendi (Sejarawan, Peneliti, Dosen)

Di kaki Gunung Ciremai, bulan Ramadan selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Jauh sebelum listrik dan jalan raya modern hadir, masyarakat desa di wilayah Kuningan sudah menjalani ibadah puasa dengan ritme kehidupan yang khas. Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, Ramadan bukan hanya tentang ritual keagamaan, namun juga tentang pelbagai peristiwa sosial yang menghidupkan nafas sosial dan kultural di desa-desa di pedalaman Karesidenan Cirebon.

_Awal Ramadan di Desa_
Menjelang datangnya bulan puasa, masyarakat biasanya melakukan persiapan sederhana namun penuh makna. Beberapa hari sebelum Ramadan, warga desa berkumpul di rumah kerabat atau tokoh agama untuk makan bersama dalam tradisi yang di banyak tempat Sunda dikenal sebagai munggahan.
 
Selain itu, ziarah ke makam leluhur dan membersihkannya juga sering dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua dan tokoh desa yang telah wafat.
 
Masjid dan langgar desa juga dibersihkan secara lebih detail. Tikar yang lebih besar dan banyak digelar kembali, lampu minyak diperiksa, dan bedug yang lebih besar dipasang di serambi masjid. Bagi masyarakat desa, Ramadan menandai dimulainya masa peningkatan aktivitas keagamaan.

_Aktivitas Puasa di Tengah Kehidupan Agraris_
Sebagian besar penduduk Kuningan pada masa kolonial hidup dari bidang pertanian padi dan ladang, di samping mengerjakan tugas rutin pemerintah di bidang perkebunan dan kehutanan. Karena itu, aktivitas puasa berjalan berdampingan dengan pekerjaan agraris yang menjadi nafas kehidupan masyarakat.
 
Sejak pagi hari, para petani tetap pergi ke sawah atau kebun. Namun pada bulan Ramadan, tempo kerja biasanya sedikit berubah. Banyak petani memilih bekerja lebih pagi agar dapat beristirahat pada siang hari ketika cuaca semakin panas.
 
Meskipun berpuasa, kehidupan ekonomi desa tidak berhenti. Pasar-pasar kecil di kecamatan seperti Kadugede atau Luragung tetap berlangsung, meskipun suasananya lebih tenang pada siang hari.

_Suasana Menjelang Berbuka_
Ketika matahari mulai turun di balik lereng Gunung Ciremai, suasana desa perlahan berubah. Perempuan di rumah-rumah mulai menyiapkan makanan sederhana untuk berbuka: nasi, sayur, ikan asin, atau gorengan dari hasil kebun dan ladang yang mereka miliki.
 
Di masjid desa, bedug yang digantung di serambi akan menjadi penanda waktu berbuka puasa. Sedikit berbeda, di masjid utama Kuningan tempo dulu, penanda buka justru sebuah letusan meriam yang ada di halaman depannya. "Setiap hari melepaskan satu tembakan meriam pada penghujung hari menandakan waktu berbuka puasa," catat surat kabar Haagsche Courant bertanggal 28-12-1936.
 
Bedug di masjid desa-desa dan meriam di masjid Kuningan, mengeluarkan suara gema di antara rumah-rumah kayu dan bambu masyarakat beserta kawasan persawahan yang mulai gelap. Setelah berbuka, warga desa biasanya berkumpul kembali di masjid untuk melaksanakan salat Magrib dan dilanjutkan dengan salat Tarawih.

_Menjelang Idulfitri_
Pada malam terakhir Ramadan, suasana desa menjadi jauh lebih ramai. Bedug dipukul berkali-kali, sementara sebagian anak muda menyalakan obor di jalan desa. Menurut catatan Dumont dalam Leerboek der vergelijkende aardrijkskunde van Nederlandsch Oost-Indië, bedug dinyalakan hingga larut malam jika bulan puasa akan segera selesai.

Keesokan paginya, masyarakat berkumpul di lapangan atau halaman masjid untuk melaksanakan salat Idulfitri. Setelah salat, mereka saling bersalaman dan mengunjungi rumah kerabat. Hidangan khas seperti ketupat, opor ayam, dan berbagai kue tradisional disajikan di rumah-rumah penduduk. Bagi mereka yang berlebih, biasanya bisa menyediakan sajian kue kering (hasil pengaruh kuliner Eropa) yang memang menjadi makanan mahal pada masa tersebut.

Walaupun Masa Hindia Belanda dikenal sebagai masa penjajahan dan kolonialisme, pada praktiknya keseharian penduduk berjalan normal sebagaimana biasanya, selama aktivitas itu dianggap tidak mengancam rust en orde (ketenangan dan ketertiban) yang diberlakukan oleh pemerintahan Hindia Belanda.

Wallahu'alam bishowab..
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Menengok Bulan Puasa di Kuningan Pada Zaman Hindia Belanda Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan