Suarakuningan (SK). –
Acara ini menghadirkan langsung Panji
Sakti, yang juga dikenal sebagai musisi dengan lagu populernya, Kepada Noor.
Dalam rangka memperingati Hari Buku Sedunia, kegiatan bedah buku Tasbih
Kupu-Kupu digelar di Gedung Kesenian Raksawacana, Kuningan, Kamis
(23/4/2026). Kegiatan ini kolaborasi Teater Sado dan berbagai komunitas dalam rangkaian Menu Budaya Gembira (MBG) yang berlangsung tanggal 10 hingga 26 April.
Dalam pemaparannya, Panji Sakti menegaskan bahwa puisi yang ditulisnya tidak berangkat dari keinginan memperindah bahasa, melainkan dari pengalaman nyata yang ia alami secara langsung.
“Bagi saya itu adalah peristiwa yang bagaimana halnya yang diceritakan oleh puisi itu. Saya itu termasuk penyair dan penulis lagu yang tidak pernah berusaha mengindah-indahkan kalimat, mengindah-indahkan diksi-diksi. Kalau disebut indah ya, dia akan lahir sendiri,” ujarnya.
Ia menjelaskan, puisi Tasbih Kupu-Kupu terinspirasi dari momen sederhana ketika seekor kupu-kupu hinggap di keningnya. Peristiwa tersebut, menurutnya, adalah kejadian biasa yang kemudian ia tuangkan apa adanya ke dalam puisi.
“Kalau teman-teman baca puisinya, bagian mana indahnya, ya itu kayak cerita-cerita biasa saja, memang itu kejadiannya. Jadi saya ingin menghormati kejadian itu,” katanya.
Momen tersebut juga memunculkan imajinasi dan harapan dalam dirinya. Ia membayangkan kupu-kupu itu akan bertahan lebih lama, bahkan hingga menjalani siklus hidupnya di tempat itu.
“Aku berharap kupu-kupu itu bahkan bertelur di keningku. ‘Kamu betah-betahlah di sini…’ Itu khayalanku tentang saat kupu-kupu itu hadir,” ungkapnya.
Namun, harapan tersebut tidak berlangsung lama. Kepergian kupu-kupu itu justru meninggalkan kesan emosional yang ia ibaratkan seperti kehilangan dalam hubungan personal.
“Tapi ternyata enggak juga, kupu-kupu harus pergi. Saat itu aku kayak diputusin pacar. Aku merasa, wah ternyata enggak bertahan sama aku,” tuturnya.
Dalam sesi diskusi, Panji Sakti juga menjelaskan makna kata “tasbih” yang digunakan dalam judul bukunya. Ia menyebutkan bahwa tasbih merepresentasikan sikap pasrah dan mengikuti ketentuan Tuhan, sebagaimana proses kehidupan kupu-kupu.
“Kupu-kupu itu tidak pernah tahu dia akan jadi apa. Dia ikut saja, dia tunggu saja, dan tidak pernah protes. Itu kenapa disebut tasbih,” jelasnya.
Kegiatan bedah buku ini berlangsung interaktif dengan dihadiri mahasiswa, pegiat literasi, dan masyarakat umum. Selain menjadi bagian dari perayaan Hari Buku, acara ini juga menjadi ruang refleksi mengenai bagaimana karya sastra dapat lahir dari pengalaman sederhana namun memiliki makna yang mendalam tentang kehidupan.(Nad/Red)





0 comments:
Posting Komentar
Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.