Hot News
7 Juli 2016

Kritik: Akal dan Beragama


Oleh Tomi Mustopa
Ketua Umum HMI Cabang Kuningan

Agama yang memandang akal sebagai pendukung penuh pencari kebenaran keyakinannya ialah agama islam. Ini terlihat sebagaimana banyak terlihat pada ayat-ayat Al-Quran. Seperti dalam Q.S Al-Baqarah ayat 219 yang artinya “Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepamu supaya kamu berpikir”. Q.S Yunus ayat 24 yang artinya “Demikianlah kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir. Dan banyak ayat lainnya yang menyatakan tentang pentingnya berpikir (berakal).

Inilah kenapa akal selalu terlibat dalam persoalan agama,  seperti bertauhid, eksistensi Tuhan. Akal pun tidak bisa menerima jika jawaban kebertauhidannya hanya dengan bertaqlid buta.

Imam Musa bin Ja’far mengatakan bahwa Allah telah mengutus Rasul bagi manusia, pertama Rasul Batiniah yaitu akal manusia, kedua Rasul lahiriah yaitu orang-orang yang membimbing manusia, keduannya saling melengkapi tak terpisahkan, tanpa keduannya manusia tidak bisa meraih kebahagiaan.

Bahkan hadtits sekalipun mengatakan bahwa tidurnya orang yang berilmu lebih berharga daripada ibadahnya orang yang bodoh, tidak puasanya orang ahli hikmah lebih baik dari puasanya orang yang jahil.

Termasuk keseluruhan nabi diangkat oleh Allah karena terlebih dahulu ia dikaruniai akal dan kecerdasan. Filusuf abad pencerahan Descrates mengatakan “Aku berpikir karena aku ada”, pancaindra, daya ingat, imajinasi, bakat adlah alat-alat bagi akal. Pertanyaanya bagaimana dengan keimanan ?

Kritik
Ada sebagian kelompok ahli teologi mengatakan bahwa iman bisa tidak dicapai dengan akal. Akal hanya sebagian saja dari keseruhuhannya. Mereka menganggap bahwa iman itu ketundukan, kerendahanhati, juga cinta. Seorang sarjana pertanian belum tentu tunduk atau patuh terhadap tanah, namun ia mengerti soal keilmuan tanah, karena mereka berpendapat bahwa iman merupakan sebuah realitas yang lebih dari sekedar pemahaman.

Berbeda dengan filufuf Thomas Aquinas yang menunjukan eksistensi Tuhan dengan akalnya. Menurutnya setiap alam yang selalu bergerak maka ada suatu penggerak atau penyebab penggerak, dan tidak mungkin penyebabnya itu ada dalam dirinya sendiri, Itulah Tuhan. Dalil lainnya menurut Thomas soal kemungkina dan keharusan bahwa alam semesta ini bermula dari tidak ada menjadi ada. Jika alam ini ada maka haruslah haruslah mengadakan alam pertama artinya ada pertama itu harus ada karena adanya alam semesta. menurutnya kita tidak harus berhenti pada penyebab yang harus ada, Itulah Tuhan.

Sementara Al-Quran banyak memberikan contoh tentang orang atau kaum yang mengenal Allah, Rasul, tetapi mereka menyembah berhala. Setan sekalipun mengenal Allah bahkan ribuan tahun menyembah Allah tetapi ia tetap membangkang terhadap Allah. Jika yang dikatakan para filisuf tentang pemahamannya  adalah benar adanya maka setan akan menjadi mukmin yang paling baik, akan tetapi nyatanya tidak demikian, bahkan setan menentang kebenaran yang ia ketahuinya dengan sangat baik.***
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Kritik: Akal dan Beragama Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan