Hot News
13 Maret 2026

Dampak Perang, Ketahanan Pangan Harga Mati


Oleh:
Asep Kamaludin, S.IP
Pengurus MPKS Muhammadiyah Kuningan


Dentuman bom terjadi di mana-mana pada area perang, baik bersumber dari rudal balistik atau sejenisnya. Bahkan, tidak menutup kemungkinan pada saat tertentu bom nuklir akan muncul di permukaan. Itu salah satu yang dikhawatirkan oleh para pakar dan ahli dari berbagai bidang di dunia. Pasalnya, hal demikian dalam kajian ilmu secara prediktif akan membawa konsekuensi yang sangat serius dan mengancam kehidupan manusia serta makhluk hidup di muka bumi.

Nafsu manusia hari ini lambat laun terus meningkat. Bukan hanya muncul dalam diri individu semata, melainkan telah menginstitusi dalam sebuah kelompok manusia, baik itu komunitas bangsa ataupun negara. Dalam catatan sejarah, hampir dipastikan hal demikian memang benar adanya, karena itu salah satu ciri manusia hidup yang memiliki hawa nafsu. Di sisi lain, mengapa kehidupan dunia hingga saat ini masih tetap ada dan berdiri tegak? Hal itu dikarenakan sebagian manusia masih memiliki kendali dan rem untuk menahan nafsu yang kebablasan.

Begitu pula era global hari ini muncul diakibatkan oleh sikap manusia yang dikehendaki dengan mengemas alasan logis bahwa alam semesta ini milik semua umat manusia. Benar pernyataan tersebut dan dapat diterima dengan akal sehat. Akan tetapi, dalam ranah aturan teknis, setiap individu dan kelompok manusia memiliki bagian sebagaimana hasil usaha yang dikerjakan dan didapatkan.

Kemudian dari situ, ada batasan yang mengikat menjadi konsensus dalam sebuah kesepakatan hukum, baik hukum tertulis dari ajaran yang datang dari langit maupun atas dasar peradaban manusia itu sendiri yang muncul dari akal pikiran dan nafsunya yang disepakati. Apa pun kegiatan manusia, pada akhirnya akan dibatasi oleh ketentuan aturan, norma, dan nilai hidup yang berkembang dalam kehidupan manusia secara simultan. Sekalipun pada realitasnya, tidak dapat dimungkiri bahwa yang mendominasi dan memengaruhi tindakan manusia adalah hawa nafsu kemanusiaan.

Perang dan Kepentingan Strategis

Dalam konteks kekinian, di abad global digital yang nyaris tidak dibatasi jarak dan waktu sehingga manusia semakin agresif, setelah rentang masa yang dilewati dan adanya pembagian serta batasan teritorial kebangsaan, kemudian terpecah menjadi batasan negara-negara. Seiring waktu, kekuatan dari masing-masing bangsa dan negara berbeda perkembangannya, baik dari sisi populasi jumlah penduduk maupun perkembangan lain yang menunjang kemajuan bangsa dan negaranya.

Dari peta dunia, pada dasarnya ras-ras yang dianggap unggul adalah mereka yang memiliki sejarah panjang dalam mendinamisasi kehidupannya. Beberapa abad sejak masa Renaisans hingga abad modern, telah tampak di permukaan bangsa-bangsa dan negara tertentu yang secara tidak langsung mendeklarasikan diri sebagai negara yang memiliki kekuatan. Sikap tersebut menjadi pemantik hawa nafsu untuk memangsa yang lain dan berada di bawah kendalinya, sehingga peperangan tidak dapat dielakkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Begitu pun pada abad ini, peperangan terjadi karena hawa nafsu untuk memenuhi kepentingan masing-masing bangsa dan negara. Perang bukan soal kalah-menang dalam pertempuran secara pragmatis, melainkan kalah-menang dalam konteks strategis. Zaman dahulu hingga kini, termasuk saat masa Perang Salib antara Nasrani dan Muslim, konsekuensi yang diakibatkan bukan sekadar soal baik dan buruk. Ternyata yang menentukan adalah bagaimana kekuatan mampu mengambil alih kuasa sosial, politik, dan ekonomi untuk jangka panjang yang bersifat strategis.

Jika perang hanya dimaknai sebatas kalah-menang atas jumlah angka, itu merupakan kekeliruan cara berpikir. Perang pada hakikatnya untuk mengambil alih dan menjaga keberlangsungan hidup bangsa dan negara. Artinya, kemenangan perang ditentukan sejauh mana daya serang efektif dan efisien, serta mampu menjaga kedaulatan pertahanan dan keamanan secara sosial, politik, dan ekonomi, baik saat perang maupun setelah perang usai. Tiada arti menang dalam angka jumlah pasukan mati dan hidup jika kemampuan bertahan dan keberlangsungan bangsa serta negara tidak terpenuhi.

Dampak Global dan Ketahanan Pangan

Hari ini dan esok yang akan datang, baik negara yang saling berperang maupun negara yang terdampak akan merasakan konsekuensi jangka pendek hingga jangka panjang. Di antara konsekuensinya, bahan makanan atau logistik menjadi salah satu faktor utama yang harus dipersiapkan dengan perencanaan jangka panjang.

Saat ini sedang terjadi perang terbuka yang sangat besar, melibatkan negara adidaya Amerika Serikat dengan posisi berperang bukan di wilayah teritorial negaranya. Dampaknya terasa pada negara-negara proksi maupun aliansi, baik yang aktif maupun pasif. Dalam dekade ini, perang yang melibatkan negara-negara besar berlangsung nyata. Risikonya bukan lagi peribahasa “menang jadi arang dan kalah jadi abu”, melainkan kembali kepada rakyat dan warga terdampak, apakah mampu dengan cepat memulihkan keadaan atau justru menjadi negara yang luluh lantak dan masuk fase kelaparan jangka panjang.

Dampak perang era modern sangat tinggi, terutama akibat pecahan bom, terlebih bom nuklir. Serpihan dan zat kimia berbahaya akan memaksa ekosistem makhluk hidup sulit pulih secara normal karena kerusakan alam dan pencemaran. Bukan hanya manusia yang terdampak, melainkan seluruh makhluk hidup di area perang.

Indonesia sebagai negara tercinta tidak cukup hanya menonton seperti adegan film karya Steven Spielberg, sutradara kelas dunia. Melainkan wajib mempersiapkan langkah strategis akibat dampak perang tersebut. Kawasan Timur Tengah sebagai penyuplai energi dunia sekitar 20–30 persen berpotensi terganggu, sehingga energi dunia melonjak dan berdampak pada mahalnya harga bahan pokok. Indonesia sebagai negara importir akan merasakannya secara langsung.

Ketahanan pangan adalah harga mati. Tidak boleh ditunda lagi. Wajib mempersiapkan rumus dan langkah yang tepat serta cepat dalam mempertahankan pasokan bahan pokok untuk jangka pendek, menengah, dan panjang. Apalagi jika dampak perang meluas hingga ke perairan Indonesia. Australia sebagai salah satu penyuplai bahan dan alutsista sekutu Amerika Serikat memungkinkan melintasi laut Indonesia, sehingga berbagai risiko strategis perlu diantisipasi.

Semua kemungkinan dapat terjadi. Fakta geopolitik menunjukkan bahwa eskalasi dapat berubah cepat. Dengan berbagai strategi yang dimiliki, para pakar dan ahli perlu mempersiapkan bangsa dan negara untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan yang terjadi secara mendadak.

Semoga perang segera berakhir, dan bagi mereka yang gugur mendapatkan tempat terbaik. Aamiin. Wallahu’alam.
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Dampak Perang, Ketahanan Pangan Harga Mati Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan