Hot News
7 Juli 2026

Ragawacana dan Kekaguman Pendeta Belanda


Sejarah sering kali lebih banyak diingat daripada ditulis. Di Nusantara, jejak masa lalu banyak tersimpan dalam tutur kata, dongeng, dan nyanyian turun-temurun, bukan dalam prasasti atau naskah resmi. Maka ketika kita berbicara tentang Ragawacana (sekarang desa di wilayah Kuningan) hanya sedikit dokumen kuno yang sanggup membuka tabir kejayaannya.

Namun di antara kelangkaan itu, ada satu catatan penting yang ditulis oleh seorang pendeta Belanda pada abad ke-18. Namanya Jacob Casper Metzlar, seorang rohaniwan Gereja Reformasi Belanda yang bertugas di Hindia Belanda pada masa VOC. Hidupnya penuh pengembaraan, dan salah satu petualangannya membawanya ke sebuah bukit yang menghijau di ujung selatan Cirebon: Ragawacana.

Pada April 1780, Metzlar bertolak dari Batavia (yang kini kita kenal sebagai Jakarta). Ia berlayar menyusuri pantai utara Jawa dan berlabuh di pelabuhan Indramayu. Dari sana, perjalanan dilanjutkan melalui darat dengan cara yang sangat istimewa: ia diusung dalam tandu oleh 32 orang pengusung pribumi, yang bergantian berjalan sembari bernyanyi. Rombongan itu tiba di kediaman Residen Belanda di Tangkil, Cirebon, pada sore hari yang sama.

Di sinilah tugas keagamaannya dijalankan. Namun sebagai seorang pencinta alam, Metzlar tidak melewatkan kesempatan untuk menjelajahi pedalaman. Ia melakukan "reisje" atau perjalanan kecil ke Ragawacana, dataran tinggi yang masuk wilayah Tumenggung Linggajati yang terafiliasi ke para pangeran Cirebon saat itu.

Ragawacana pada 1780 bukanlah kawasan biasa. Metzlar menulis dengan mata seorang saksi: di sana terbentang kebun kopi dan perkebunan nila yang, menurutnya, adalah yang paling indah yang pernah ia lihat sepanjang tugasnya di Jawa. Hijaunya tanaman kopi berlapis-lapis di lereng, berpadu dengan warna biru keunguan dari tanaman nila, menciptakan pemandangan yang memukau.

Tidak hanya itu, ia juga menemukan kolam-kolam besar yang dipenuhi ikan mas raksasa. Ikan-ikan itu begitu jinak karena jarang diganggu, bahkan rela mengambil roti langsung dari tangan manusia. Bagi Metzlar, pemandangan itu terasa seperti surga kecil di tengah tropika.

Dari ketinggian Ragawacana, matanya menjangkau jauh: gunung-gunung berderet, lembah-lembah subur yang ditanami padi sebagai “hasil bumi paling mulia di negeri ini,” tulisnya. Dan di kejauhan, terpampang indah garis biru Laut Jawa yang membentang luas di lepas pantai Cirebon.

Di puncak kekagumannya, Metzlar pun terdiam. Dalam hatinya, ia melantunkan pujian dalam bahasa Belanda: "Hoe groot zijn uw werken, o Heere! Gij hebt ze alle met wijsheid gemaakt; het aardrijk is vol van uw goederen, ook deze zee, wijd en breed!" ("Betapa besarnya karya-karya-Mu, ya Tuhan! Segalanya Engkau ciptakan dengan kebijaksanaan; seluruh bumi dipenuhi oleh kebaikan-Mu, dan juga lautan yang luas tak terhingga ini!")
Bagi sang pendeta Belanda, Ragawacana bukan sekadar dataran tinggi yang subur. Ia adalah bukti nyata dari keagungan Sang Pencipta, tempat di mana langit, laut, dan tanah bertemu dalam harmoni yang sempurna.

*Penulis: Tendi (peneliti Pamanah Rasa Institute dan dosen di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon)*
.
Next
This is the most recent post.
Posting Lama
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Ragawacana dan Kekaguman Pendeta Belanda Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan