Hot News
3 Juli 2026

Menghadirkan Peran Ayah yang Hakiki



Oleh Heni (Aktivis Muslimah)

Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) setiap tahunnya jatuh pada tanggal 29 Juni. Peringatan tahun ini mengangkat tema “Ayah Wajib Hadir”. Tema ini bermakna bahwa kehadiran ayah bukan sekadar ada secara fisik di rumah. Namun, tema ini memanggil ayah untuk terlibat secara emosional dan psikologis dalam pengasuhan sehari-hari, mendengarkan, merespons, serta menemani tumbuh kembang anak.

Keterlibatan aktif seorang ayah akan berdampak langsung pada perkembangan kognitif anak, kestabilan emosi, kepercayaan diri, serta penurunan stres ibu pasca melahirkan yang turut mendukung keberhasilan ASI eksklusif dan pencegahan stunting.

Dengan demikian, sosok ayah yang hadir secara utuh merupakan fondasi bagi keluarga yang lebih kuat.

Namun, faktanya saat ini tidak sedikit keluarga yang menjalani kehidupan tanpa hadirnya sosok seorang ayah, atau yang biasa disebut fatherless.

Ada 15,9 juta anak Indonesia yang berpotensi tumbuh tanpa adanya peran ayah. Dari jumlah tersebut, 4,4 juta anak tinggal di keluarga tanpa ayah. Sementara itu, 11,5 juta anak lainnya tinggal bersama ayah yang jam kerjanya lebih dari 60 jam per minggu atau lebih dari 12 jam per hari. (Kompas.id, 8/10/2025)

Tidak sedikit pula seorang ayah yang harus meninggalkan keluarganya karena tuntutan pekerjaan di luar daerah atau bahkan luar negeri.

Selain itu, angka perceraian yang semakin meningkat menjadikan bangunan keluarga semakin rapuh. Sungguh, fenomena ini menyisakan luka sosial yang kian membesar. Ada goresan yang menyisakan kepedihan, ada rumah yang retak, anak yang kehilangan pijakan, dan generasi yang tumbuh tanpa contoh bagaimana cinta serta tanggung jawab seharusnya dijalani.

Fenomena fatherless bukan hanya tentang ketiadaan fisik, melainkan hilangnya makna dan kehadiran yang membentuk jiwa. Banyak dampak yang timbul akibat tidak hadirnya sosok seorang ayah. Anak dapat kehilangan sosok pelindung, kehilangan panutan dalam menjalani tanggung jawab, bahkan berdampak negatif terhadap prestasi akademik.

Sebenarnya, fenomena fatherless tidak hanya lahir akibat perceraian atau karena meninggal dunia. Lebih jauh dari itu, fenomena ini lahir dari sebuah sistem yang menekan seorang ayah sehingga kehilangan kesempatan untuk hadir di tengah keluarga.

Di antara tekanan yang ada adalah:
Pertama, tekanan ekonomi yang menjadi penyebab nyata, ketika banyak ayah dipaksa jauh dari keluarga demi memenuhi tuntutan hidup.

Hal ini menjadikan waktu kebersamaan ayah dengan keluarga menjadi berkurang, bahkan hilang tergerus oleh jarak dan pekerjaan. Sebagai imbasnya, hubungan emosional antara ayah dan anak perlahan terkikis.

Kedua, tekanan budaya modern yang mengusung gaya hidup materialisme, sehingga banyak ayah berpandangan bahwa keberhasilan hanya dilihat dari pencapaian karier dan materi, bukan dari keterlibatannya dalam pengasuhan.

Tekanan-tekanan ini lahir dari sistem sekuler, yaitu sistem yang memisahkan kehidupan manusia dari aturan agamanya. Sistem sekuler menjadikan manusia hidup dengan orientasi duniawi, sehingga sosok ayah sering diukur dari harta dan jabatan, bukan dari keberkahan dan keutuhan rumah tangga.

Maka, tidak heran jika fenomena fatherless semakin meluas karena aturan Allah sebagai penjaga keseimbangan antara peran, tanggung jawab, dan cinta dalam keluarga telah banyak diabaikan oleh masyarakat.

Sementara itu, Islam memandang peran ayah bukan sekadar pelengkap dalam keluarga, tetapi sebagai pilar utama dalam pembentukan kepribadian dan peradaban manusia. Karena itu, solusi untuk fenomena fatherless harus berasal dari sistem yang mampu menjaga peran ayah tetap utuh, baik secara fisik, emosional, maupun spiritual.

Di antara solusi tersebut adalah:
Pertama, dari sisi ekonomi. Islam tidak akan menjadikan sistem perekonomian yang menjerat kepala keluarga berada dalam pusaran kerja tanpa akhir, ketika seorang ayah harus banting tulang memenuhi kebutuhan hidup di luar kebutuhan pokok.

Islam menawarkan solusi perekonomian, yaitu pengelolaan kepemilikan umum seperti sumber daya alam (SDA) dan energi oleh negara, kemudian hasilnya dikembalikan untuk kemaslahatan rakyat melalui pelayanan kesehatan, pendidikan, dan kebutuhan lainnya dengan biaya murah bahkan gratis.

Dengan demikian, ayah tidak perlu menjadi pekerja jarak jauh, banting tulang tanpa henti, dan menghabiskan waktunya hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup yang berpotensi menghilangkan peran pengasuhan secara langsung.
Kedua, dari sisi gaya hidup. Islam akan membangun keluarga yang berorientasi pada ketaatan kepada Allah, bukan pada pencapaian material.

Keberhasilan seorang ayah tidak akan diukur dari seberapa tinggi jabatannya atau seberapa banyak hartanya, melainkan dari sejauh mana ia menanamkan iman, adab, dan tanggung jawab kepada anak-anaknya.
Ketiga, dari struktur keluarga. Islam menetapkan aturan yang menjaga keutuhan rumah tangga. Suami wajib menjadi qawwam, yaitu pemimpin yang adil dan penjaga keluarganya.

Yang paling utama adalah negara berkewajiban menegakkan sistem pendidikan dan sosial yang menguatkan peran ayah serta melindungi keluarga dari keretakan.

Walhasil, Islam hadir bukan sekadar menasihati para ayah agar lebih hadir, tetapi lebih dari itu, Islam hadir untuk membangun tatanan hidup yang memungkinkan mereka memimpin dengan iman dan tanggung jawab.
Selama aturan manusia yang sekuler tetap menjadi dasar kehidupan, keluarga akan terus rapuh dan generasi akan kehilangan teladan.

Hanya dengan kembali kepada aturan Islam secara kaffah dalam naungan khilafah yang menerapkan Islam secara menyeluruh, peran ayah akan dipulihkan. Ayah akan hadir dengan sebenar-benarnya hadir, serta keluarga akan utuh dan bahagia.

Wallahu a’lam bishawab.
Next
This is the most recent post.
Posting Lama
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Menghadirkan Peran Ayah yang Hakiki Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan