Oleh : Fathimatul Ajizah
Katanya Gen Z itu generasi paling adaptif. Lahir di era internet, tumbuh bersama teknologi, dan punya akses informasi yang nggak pernah dimiliki generasi sebelumnya. Tapi di balik semua kemudahan itu, ada realitas yang jauh lebih rumit. Banyak survei menunjukkan Gen Z di Indonesia menjadi kelompok yang paling banyak mengalami kecemasan terhadap masa depan dan rentan mengalami gangguan kesehatan mental. Bukan tanpa alasan. Setiap hari kita dijejali kabar soal krisis ekonomi, lapangan kerja yang makin sempit, biaya hidup yang terus naik, konflik dunia yang nggak selesai-selesai, sampai standar hidup di media sosial yang bikin orang merasa selalu kurang.
Media sosial memang mendekatkan yang jauh, tapi di saat yang sama juga menghadirkan tekanan yang nggak kecil. Semua orang terlihat sukses, produktif, bahagia, dan "glow up". Akhirnya banyak anak muda merasa tertinggal, takut gagal, bahkan kehilangan arah. Belum lagi budaya hustle yang menganggap istirahat itu malas, sementara kenyataannya banyak yang sudah berjuang habis-habisan tapi tetap sulit mendapatkan pekerjaan yang layak. Nggak heran kalau rasa cemas perlahan berubah menjadi kelelahan mental.
Fenomena ini ternyata bukan cuma terjadi di Indonesia. Di banyak negara, Gen Z tumbuh di tengah ketidakpastian yang terus menerus. Krisis ekonomi global, perubahan iklim, perang, sampai perkembangan teknologi yang begitu cepat membuat masa depan terasa semakin sulit diprediksi. Wajar kalau banyak anak muda menjadi lebih skeptis terhadap sistem yang selama ini dijanjikan akan membawa kesejahteraan. Mereka mulai mempertanyakan banyak hal yang dulu dianggap normal.
Kalau ditarik lebih dalam, akar persoalannya bukan sekadar media sosial atau tekanan akademik. Dunia hari ini sedang mengalami krisis multidimensi. Sistem kehidupan yang dibangun di atas asas sekularisme dan kapitalisme menjadikan ukuran keberhasilan hanya soal materi dan pencapaian individu. Manusia dipaksa terus berkompetisi, sementara nilai-nilai kemanusiaan dan ketenangan batin makin terpinggirkan. Anak muda akhirnya tumbuh dalam lingkungan yang menuntut banyak hal, tetapi minim arah hidup yang benar-benar memberi makna.
Di sisi lain, negara juga belum sepenuhnya hadir sebagai pelindung generasi. Ketika anak muda kesulitan mendapatkan pekerjaan, mengalami tekanan mental, atau kehilangan harapan, respons yang muncul sering kali hanya berupa program sesaat atau kampanye motivasi. Bahkan tidak sedikit Gen Z justru diberi stigma sebagai generasi yang lemah, manja, atau terlalu sensitif. Padahal mereka sedang menghadapi tantangan yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Alih-alih dirangkul, mereka justru sering disalahkan.
Namun, ada sisi lain yang menarik dari generasi ini. Di balik kecemasan itu, muncul gelombang resistensi. Gen Z mulai berani mempertanyakan sistem yang dianggap tidak adil, lebih peduli terhadap isu kemanusiaan, dan tidak mudah menerima narasi tanpa berpikir kritis. Sikap ini sebenarnya bisa menjadi titik balik. Ketika keresahan diarahkan pada upaya mencari solusi yang benar, di situlah lahir generasi yang mampu membawa perubahan, bukan sekadar mengeluh.
Islam menawarkan cara pandang yang berbeda terhadap persoalan hidup. Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana menenangkan hati secara spiritual, tetapi juga menghadirkan aturan kehidupan yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, dengan sesama, dan dengan negara. Penerapan syariat Islam secara menyeluruh menghadirkan kehidupan yang membawa rahmat bagi seluruh manusia, bukan hanya dalam aspek ibadah, tetapi juga ekonomi, pendidikan, sosial, hingga pemerintahan. Ketenangan bukan sekadar hasil dari berpikir positif, tetapi lahir dari kehidupan yang berjalan sesuai petunjuk Sang Pencipta.
Sejarah Islam juga menunjukkan bagaimana pemuda menjadi motor peradaban. Mereka tumbuh dengan kepribadian Islam yang kuat, memiliki visi hidup yang jelas, dan unggul dalam berbagai bidang ilmu. Kehebatan mereka tidak lahir dari budaya mengejar validasi, tetapi dari keyakinan bahwa ilmu dan amal adalah bagian dari ibadah. Negara saat itu pun hadir sebagai pelayan dan pelindung rakyat, menjamin kebutuhan dasar masyarakat sehingga potensi generasi muda dapat berkembang secara optimal.
Hari ini, Gen Z membutuhkan lebih dari sekadar motivasi atau afirmasi. Mereka membutuhkan arah hidup yang benar, sistem yang adil, dan perjuangan yang memberi makna. Keresahan yang mereka rasakan tidak seharusnya berhenti menjadi kecemasan, tetapi menjadi energi untuk mengemban mabda Islam dan peduli terhadap persoalan umat. Sebab masa depan yang lebih baik tidak akan lahir dari sistem yang sama yang telah melahirkan berbagai krisis, melainkan dari perubahan yang berlandaskan aturan Allah SWT. Saat itulah, harapan tentang generasi emas bukan lagi sekadar angan-angan, melainkan cita-cita yang benar-benar bisa diperjuangkan.
*Sumber :*
GoodStats, 60% Gen Z di Indonesia Cemas Akan Masa Depan;
Kompas.id, Di Ambang Krisis Kesehatan Mental Remaja;
Kompas.id, Gelombang Resistensi Gen Z; Tirto.id, RI dalam Bayang-bayang Generasi Cemas, Anak Makin Rentan Depresi;
Mojok, Susahnya Gen Z Dicap Serba Salah oleh Milenial.


0 comments:
Posting Komentar
Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.