Hot News
13 September 2026

Karnaval Budaya Kuningan 2026: Antara Napak Tilas Sejarah dan Reduksi Menjadi Parade Kostum



Oleh: AR Affandi


Karnaval budaya semestinya tidak berhenti pada persoalan kemeriahan. Ia adalah ruang publik tempat identitas, ingatan kolektif, sejarah, dan kebudayaan suatu masyarakat dipertemukan dalam sebuah peristiwa yang dapat dilihat, dirasakan, sekaligus dipahami.
Karena itu, ketika Karnaval Budaya Hari Jadi ke-528 Kabupaten Kuningan 2026 secara konseptual diarahkan untuk mengangkat perjalanan sejarah Kuningan dari masa ke masa, ekspektasi publik tentu menjadi lebih tinggi. Pemerintah Kabupaten Kuningan sejak awal menyampaikan bahwa karnaval tahun ini hendak dikemas berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Tema sejarah Kuningan dari masa ke masa dihadirkan melalui kostum dan pertunjukan yang diharapkan mampu menjadi media pengenalan sejarah kepada masyarakat.
Konsep tersebut sesungguhnya merupakan langkah yang patut diapresiasi. Namun, sebagai pemerhati sejarah dan kebudayaan Kuningan, saya merasa perlu menyampaikan kegelisahan: apakah konsep tersebut telah benar-benar berhasil mengubah karnaval menjadi medium pembelajaran sejarah, atau justru sejarah kembali direduksi menjadi parade kostum?
Pertanyaan ini penting diajukan bukan untuk mengurangi apresiasi terhadap kerja keras panitia, peserta, maupun pemerintah daerah, melainkan justru karena kita berharap Karnaval Budaya Kuningan memiliki kualitas yang lebih tinggi daripada sekadar tontonan tahunan.
Masalah utama yang saya lihat adalah adanya kecenderungan menyamakan representasi sejarah dengan representasi visual.
Seseorang mengenakan pakaian yang dianggap menyerupai pakaian masyarakat masa lalu, membawa properti tertentu, kemudian berjalan dalam sebuah parade. Secara visual hal tersebut memang dapat disebut sebagai representasi masa lalu.
Namun secara epistemologis, hal tersebut belum tentu merupakan penyampaian sejarah. Sejarah bukan hanya tentang bagaimana seseorang berpakaian. Sejarah adalah tentang manusia, ruang, waktu, peristiwa, perubahan, konflik, gagasan, kekuasaan, kebudayaan, dan pengalaman masyarakat. Ketika masyarakat melihat seseorang berpakaian sebagai tokoh masa lalu, pertanyaan yang semestinya muncul adalah: Siapa tokoh itu? Hidup pada masa kapan? Apa yang terjadi pada zamannya? Mengapa peristiwa tersebut penting bagi Kuningan? Apa hubungan peristiwa tersebut dengan kehidupan masyarakat Kuningan hari ini?
Jika pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak terjawab, maka yang tersisa hanyalah estetika masa lalu. Kita mendapatkan kostum sejarah, tetapi belum tentu mendapatkan kesadaran sejarah.
Konsep Living History sesungguhnya sangat potensial. Living History bukan sekadar menghadirkan orang dengan pakaian masa lalu. Ia merupakan pendekatan interpretatif yang berusaha menghadirkan pengalaman historis melalui tokoh, peristiwa, tindakan, lingkungan, artefak, suara, dan narasi.
Dengan demikian, ada perbedaan mendasar antara: “memakai kostum sejarah” dan “menghidupkan sebuah fragmen sejarah.”
Yang pertama menghasilkan parade. Yang kedua menghasilkan pengalaman sejarah. Di sinilah saya melihat persoalan mendasar Karnaval Budaya Kuningan 2026.

Gagasan awalnya bergerak menuju pertunjukan sejarah berjalan, tetapi dalam pelaksanaannya terdapat risiko besar mengalami reduksi menjadi pawai kostum berdasarkan periode sejarah.
Jika masyarakat hanya melihat rombongan dengan pakaian yang berbeda-beda tanpa memahami peristiwa yang melatarinya, maka transformasi informasi sejarah belum terjadi secara optimal. Sejarah berhenti pada ornamen. Padahal sejarah seharusnya menjadi narasi.
Saya kira kritik ini tidak seharusnya diarahkan kepada kecamatan, sekolah, komunitas, atau peserta karnaval. Mereka pada dasarnya melaksanakan apa yang menjadi tugas dan pemahaman mereka. Persoalan yang lebih mendasar berada pada desain kuratorial dan dramaturgi kegiatan.
Ketika sebuah kelompok diberikan tema sejarah tetapi tidak dibekali perangkat interpretasi sejarah yang memadai, maka sangat wajar apabila hasil akhirnya lebih menonjolkan aspek visual.
Peserta cenderung berpikir: “Bagaimana kostum kami agar terlihat menarik?” Padahal pertanyaan yang semestinya muncul adalah: “Cerita sejarah apa yang ingin kami sampaikan kepada penonton?” Perbedaan dua pertanyaan tersebut menghasilkan dua jenis karnaval yang sangat berbeda.
Apabila Karnaval Budaya Kuningan hendak dipertahankan sebagai Living History, maka konsepnya perlu dikembangkan dengan pendekatan dramaturgi. Setiap episode sejarah harus mempunyai setidaknya lima komponen:
1. Waktu
Penonton harus mengetahui periode sejarah yang sedang direpresentasikan.
2. Ruang
Harus ada konteks geografis atau ruang sosial tempat peristiwa berlangsung.
3. Tokoh
Siapa manusia yang mengalami atau menjalankan peristiwa tersebut?
4. Peristiwa
Apa yang sebenarnya terjadi?
5. Makna
Mengapa peristiwa tersebut penting bagi perjalanan Kuningan?
Dengan lima unsur tersebut, sejarah tidak lagi menjadi dekorasi, tetapi menjadi cerita.
Saya membayangkan Karnaval Budaya Kuningan ke depan bukan lagi sekadar:
berjalan – berhenti – berjalan – berhenti. Melainkan: datang – membangun suasana – melakukan adegan – menyampaikan informasi – berinteraksi – bergerak menuju episode berikutnya.
Misalnya ketika memasuki episode Kerajaan Saunggalah, rombongan tidak hanya mengenakan pakaian kerajaan. Mereka dapat menghadirkan: tokoh; rakyat; prajurit; aktivitas ekonomi; musik; properti; dialog pendek; koreografi; adegan dramatik; serta narasi sejarah yang menjelaskan konteks zamannya.
Durasi adegan tidak perlu panjang. Bahkan 30–60 detik dapat cukup jika dramaturginya kuat. Dengan demikian, jalan raya berubah menjadi panggung sejarah. Inilah yang lebih mendekati esensi Living History.
Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah kurasi. Sejarah tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada interpretasi artistik peserta. Diperlukan mekanisme:
Riset → Kurasi → Interpretasi → Dramaturgi → Pertunjukan.
Dewan Kebudayaan, sejarawan, budayawan, akademisi, arsiparis, dan praktisi seni seharusnya bekerja bersama dalam proses tersebut. Setiap kontingen idealnya mempunyai Kartu Cerita Sejarah yang memuat:
Periode:
Lokasi:
Tokoh:
Peristiwa:
Sumber sejarah:
Artefak/properti:
Adegan:
Narasi:
Pesan yang hendak disampaikan:
Dokumen sederhana ini dapat menjadi instrumen untuk memastikan bahwa setiap penampilan mempunyai dasar historis yang jelas.
Ada bahaya yang lebih serius jika pendekatan ini tidak dikembangkan. Ketika sejarah direpresentasikan terutama melalui kostum, masyarakat akhirnya belajar sejarah melalui simbol-simbol visual yang belum tentu akurat. Hal tersebut dapat melahirkan apa yang dapat disebut sebagai simplifikasi historis.
Masa lalu yang kompleks disederhanakan menjadi: pakaian tertentu = zaman tertentu. Padahal sebuah zaman tidak pernah sesederhana pakaian yang dikenakannya.
Ada struktur sosial, politik, ekonomi, kepercayaan, teknologi, konflik, perubahan lingkungan, dan hubungan antarmanusia yang membentuk suatu periode sejarah. Karena itu, kreativitas artistik harus berjalan bersama dengan ketelitian historis. Kebebasan artistik tetap diperlukan, tetapi tidak boleh menghilangkan tanggung jawab terhadap fakta sejarah.

Penonton Harus Menjadi Bagian dari Proses Belajar
Ukuran keberhasilan Karnaval Budaya tidak semestinya hanya:

Jumlah peserta;
Jumlah penonton;
Kemeriahan;
Kemegahan kostum;
Panjangnya rombongan;
Atau banyaknya dokumentasi media sosial.

Ukuran yang lebih penting adalah: Apa yang dipahami masyarakat setelah menyaksikan karnaval? Jika sebelum karnaval masyarakat tidak mengetahui tentang sebuah peristiwa sejarah dan setelah menyaksikannya mereka mendapatkan pengetahuan baru, maka karnaval telah menjalankan fungsi edukasinya. Sebaliknya, apabila setelah parade selesai masyarakat hanya mengingat:
“Tadi kostumnya bagus.”
“Tadi Ogoh-ogohnya spektakuler”
tetapi tidak mampu menjelaskan cerita sejarah yang ditampilkan, maka fungsi edukatifnya belum tercapai. Dengan kata lain: Kemeriahan adalah instrumen, bukan tujuan akhir.
Karena itu, saya mengusulkan agar mulai tahun berikutnya Karnaval Budaya Hari Jadi Kuningan secara bertahap diperbaiki dan dikembangkan menjadi:
KARNAVAL SEJARAH KUNINGAN Living History: Sejarah yang Berjalan, Cerita yang Hidup
Setiap episode tidak lagi dinilai berdasarkan kemegahan kostum semata, tetapi berdasarkan beberapa indikator:
Unsur
Bobot

Ketepatan sejarah
20%

Kekuatan narasi
20%

Dramaturgi dan aksi
20%

Kreativitas visual
15%

Musik/koreografi
10%

Properti/artefak
10%

Kostum
5%

Perubahan sistem penilaian tersebut penting. Sebab apa yang kita nilai akan menentukan apa yang akan dikerjakan peserta. Jika kostum menjadi nilai terbesar, peserta akan membuat kostum. Jika cerita, riset, dramaturgi, dan ketepatan sejarah menjadi nilai terbesar, peserta akan membuat cerita.
Karnaval sejarah juga dapat menjadi laboratorium pendidikan. Siswa, Kepala Dinas, Direktur BUMD tidak hanya menjadi peserta parade. Mereka dapat dilibatkan sebagai: peneliti sejarah: penulis naskah; aktor; sutradara; penata artistik; pembuat musik; videografer; fotografer; pembuat animasi; pengelola arsip digital.
Dengan demikian, Karnaval Budaya tidak hanya mempertontonkan sejarah, tetapi juga mengajarkan bagaimana sejarah dipelajari dan direpresentasikan.
Saya menyampaikan kritik ini justru karena saya percaya Kuningan memiliki kekayaan sejarah yang jauh lebih besar daripada apa yang mampu direpresentasikan melalui parade kostum. Kita memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Ada perubahan kekuasaan, masyarakat, kepercayaan, kebudayaan, pendidikan, kolonialisme, pergerakan, perjuangan kemerdekaan, hingga transformasi Kuningan sebagai bagian dari Indonesia modern.
Semua itu terlalu berharga jika hanya diterjemahkan menjadi pakaian dan kendaraan hias. Karena itu, kekecewaan terhadap Karnaval Budaya 2026 hendaknya tidak berhenti menjadi keluhan. Ia harus menjadi evaluasi kebudayaan. Kita perlu bertanya: Apa yang sebenarnya ingin kita wariskan kepada generasi berikutnya? Apakah hanya foto orang memakai kostum masa lalu? Ataukah kesadaran bahwa mereka adalah bagian dari masyarakat yang memiliki sejarah panjang?
Karnaval Budaya Kuningan 2026 telah membuka sebuah pintu penting: sejarah Kuningan dibawa keluar dari buku dan ruang kelas menuju ruang publik. Langkah tersebut patut diapresiasi. Namun pintu yang telah dibuka itu perlu dilanjutkan dengan keberanian untuk melakukan evaluasi. Sebab menghadirkan masa lalu bukan sekadar persoalan estetika. Ia adalah persoalan ingatan kolektif dan identitas masyarakat. Karena itu, Karnaval Budaya Kuningan ke depan seharusnya tidak berhenti pada: “Bagaimana membuat parade yang meriah?” tetapi bergerak menuju pertanyaan yang lebih fundamental: “Bagaimana membuat masyarakat memahami dari mana Kuningan berasal, bagaimana Kuningan tumbuh, dan ke mana Kuningan hendak pergi?”
Di situlah sesungguhnya makna tema Hari Jadi ke-528: “Melesat Ngudag Jaman, Ngakar Kuat Purwadaksi.” Melesat tanpa memahami akar akan kehilangan arah. Alias Meleset. Sebaliknya, ngakar kuat tanpa keberanian menginterpretasikan sejarah secara kritis akan menjadikan masa lalu sekadar romantisme. Maka Karnaval Budaya Kuningan harus mampu mempertemukan keduanya: masa lalu sebagai akar, masa kini sebagai kesadaran, dan masa depan sebagai tujuan. Kita tidak membutuhkan sekadar pawai kostum sejarah. Kita membutuhkan sejarah yang hidup. Sejarah yang berjalan. Sejarah yang berbicara. Sejarah yang dapat dipahami. Dan pada akhirnya—sejarah yang membuat orang Kuningan mengenal siapa dirinya.
Next
This is the most recent post.
Posting Lama
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Karnaval Budaya Kuningan 2026: Antara Napak Tilas Sejarah dan Reduksi Menjadi Parade Kostum Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan