Hot News
15 September 2026

Menatap 2029, Menyulam Harapan Kerja Anak Muda Jawa Barat

Ina Agustiani, S.Pd
(Praktisi Pendidikan)

Menatap masa depan bukan sekadar menghitung tahun,
tetapi merajut asa di antara benang peluang dan tantangan.
Di tanah Pasundan, anak muda berdiri di persimpangan,
antara janji pekerjaan dan kenyataan pengangguran.
2029 bukan sekadar angka, ia adalah horizon yang menunggu ditepati,
tempat anak muda menemukan martabat,
melalui kerja yang layak, dan pembangunan yang adil.
***
 
Jawa Barat punya target yang besar dalam hal ketenagakerjaan, maka dari itu harus dipastikan semakin banyak anak muda yang punya akses terhadap pelatihan, pekerjaan dan modal agar pengangguran dapat ditekan, dan impian di 2029 tidak ada lagi anak muda yang menganggur. Sebagai langkah nyata dengan Program SMK Go Global, lulusan SMK disiapkan untuk memasuki dunia kerja dan punya peluang di pasar internasional. Dengan program peningkatan kompetensi nantinya di sejumlah lembaga vokasi dan perguruan tinggi yang materinya sesuai dengan kebutuhan industri.
 
Menurut Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Dr. Drs. Herman Suryatman, M.Si. saat menghadiri Kick Off Pembukaan Program SMK Go Global di Universitas Teknologi Bandung (UTB), Rabu (26/8/2026), mengatakan ini adalah kolaborasi antara kementrian, pemerintah daerah, perguruan tinggi untuk memperluas jangkauan kerja generasi muda, anak muda dipersiapkan untuk ikut bursa kerja global. 
Pemda juga tidak ingin pelatihan dan akses pekerjaan hanya terpusat di kota-kota tertentu, kesempatan kerja harus meluas dan adil. Jaringannya hingga tingkat kabupaten, kecamatan hingga desa dan kelurahan. Semakin banyak pemuda yang mengikuti program ini, semakin banyak yang memanfaatkan pengembangan keterampilan.
 
Program Tambal Sulam
Kementrian Ketenagakerjaan (Kemnaker) melalui Data Satudata menunjukkan bahwa Jabar menjadi provinsi dengan jumlah PHK terbanyak selama Januari-Juli sekitar 8.830 pekerja kehilangan pekerjaannya. Sementara ribuan orang kehilangan pekerjaannya, investasi yang masuk mencapai Rp138 triliun, tetapi sifatnya padat modal bukan padat karya. Secara otomatis investasi besar tidak menyerap tenaga kerja dengan jumlah yang signifikan. Yang menjadi pertanyaan utuk siapa capaian investasi ini dan apakah benar-benar untuk kesejahteraan rakyat atau hanya untuk menguntungkan beberapa pihak?
 
Permasalahan ini tidak bisa hanya dari satu sisi saja, jika dilihat pusat masalahnya yaitu secara runtut sangat banyak dan sistemis dengan berbagai sektor. Inti dari banyaknya pengangguran, karena sistem ekonomi, pendidikan saat ini yang basisnya kapitalistik menempatkannya pada keuntungan dan nilai ekonomi semata. Solusi yang ada membuat generasi muda memang mendapatkan pekerjaan tetapi hanya taraf menengah ke bawah, sekelas buruh dan tenaga kerja biasa, bukan sekelas manajer atau satff ahli. 
 
Melalui sistem juga berbagai SMK didirikan untuk memenuhi kebutuhan pasar, pekerjaan apa yang diharapkan dari lulusan sekolah menengah? Bukankah negeri ini butuh ahli teknisi, ahli pikir, yang bekerja berdasarkan keilmuan mendalam yang harusnya dilahirkan dari bangku perguruan tinggi. Jadi solusi yang ada hanya memenuhi tenaga kerja tingkat rendah untuk investor dengan modal tinggi, pekerja menengah ke atas tentulah dari negara investor itu sendiri.
 
Solusi yang ada pun tambal sulam, impian menciptakan lapangan kerja berkualitas, pembangunan yang ada mendorong diobralnya sumber daya manusia ke luar negeri, yang diarahkan bekerja di pasar internasional dengan banyaknya tenaga kerja migran, seolah negeri ini tidak mampu menyediakan ruang kerja yang layak bagi warganya. Ekonom Joseph Stiglitz, misalnya, menyatakan bahwa liberalisasi pasar sering kali gagal menciptakan kesejahteraan merata, karena keuntungan hanya terkonsentrasi pada pemilik modal. Pernyataan ini memperkuat hujjah bahwa paradigma kapitalistik memang tidak berpihak pada rakyat banyak.
 
Peran negara juga hanya sebagai regulator yang terlihat problematis apabila tidak disertai visi yang jelas tentang arah pengembangan potensi pemuda. Kebijakan yang ada hanya seputar dorongan pelatihan kewirausahaan, digitalisasi. Dalam posisi ini pemuda tidak diposisikan sebagai penggerak pembangunan yang punya kemampuan menentukan arah ekonomi, tetapi harus selalu disesuaikan dengan kepentingan industri. Sehingga banyaknya pelaku ekonomi tidak signifikan dengan berkurangnya pengangguran apabila pekerjaan yang ada tidak memberikan pendapatan yang stabil, jaminan sosial dan perlindungan hukum bahkan peluang untuk peningkatan taraf hidup individu tersebut.
 
Peran negara sebagai penjamin kerja  
Islam menawarkan arah yang berbeda, dimana berkewajiban memastikan setiap individu memiliki akses terhadap pekerjaan yang layak. Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah seseorang makan makanan yang lebih baik daripada hasil dari kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari). Hadis ini menegaskan pentingnya bekerja sebagai sumber penghidupan yang bermartabat. Penekanannya adalah berbasis orientasi pada karya, bukan sekedar padat modal. Yang otomatis diarahkan untuk membuka lapanan kerja yang luas, bukan hanya pertumbuhan ekonomi yang diakui di atas kertas untuk laporan kepada instansi terkait. 
 
Negara bertanggung jawab dengan tidak menyerahkan urusan tenaga kerja pada mekanisme pasar. Wajib negara bertindak sebagai pengatur, penyedia, sekaligus pelindung bagi pekerja.
Investasi ditaruh di sektor riil yang mampu menyerap tenaga kerja besar seperti pertanian, industri, UMKM, jadi itulah yang dinamakan kesejahteraan nyata yang tidak hanya menghasilkan angka. Negara berkewajiban memastikan setiap warga memiliki akses mudah terhadap pekerjaan, menjadi fasilitator, aktif menciptakan lapangan kerja melalui UU dan kebijakan yang berpihak pada rakyat secara ekonomi.
 
Yang bermain adalah sektor rill bukan spekulasi yang tidak bisa diprediksi, dengan begitu sektor riil akan berjalan secara alami, pertumbuhan ekonomi menjadi sehat dan kesejahteraan mudah didapat. Program pendidikan SMK Go Global seharusnya tidak menyiapkan tenaga kerja untuk pasar swasta atau internasional disaat pertumbuhan dalam negeri masih belum stabil, fokus pada kebutuhan domestik, kurikulum pendidikan sesuaikan juga dengan potensi lokal jadilah anak muda yang bisa membangun negeri sendiri yang mengenal alamnya begitu baik.
 
Dengan segala persiapan maka generasi muda akan siap menghadapi dunia kerja dan siap menghadapi tantangan dunia. Seperti fakta sejarah di masa lalu tentang kisah Usamah bin Zaid, anak muda berumur 18 tahun yang diberikan amanah sebagai panglima perang menghadapi pasukan imperium besar yaitu Romawi Bizantium. Attab bin Usaid menjadi gubernur Mekah paska pembebasan kota Mekah saat usia 21 tahun. Dan masih banyak lagi yang meraih kesuksesan di masa belia. Dan akhirnya pemuda tidak seharusnya dipersiapkan untuk jadi pekerja sesuai arahan kapitalisme global tetapi jadi subjek utama pembangunan yang punya kapasitas menentukan arah masa depan masyarakat.
 
Dengan ekonomi Islam melalui pengelolaan kepemilikan umum, pendidikan berbasis akidah tujuannya membentuk seseorang yang berkepribadian Islam, menguasai ilmu pengetahuan, pintar membaca peluang ruang produktif. Dengan jaminan pemenuhan kebutuhan pokok yang tidak sulit dijangkau, serta pembinaan kepemimpinan, adanya optimalisasi potensi generasi muda yang utuh bervisi dunia akhirat. Pemuda yang mampu mengembangkan ilmu pengetahuan, menghasilkan teknologi dengan keahliannya dan sebagai penggerak perubahan yang membawa kemuliaan.
 
Target Jawa Barat untuk menghapus pengangguran anak muda pada 2029 adalah cita-cita mulia. Namun, tanpa perubahan arah pandang dan sistem, target tersebut berisiko menjadi khayalan di atas awan. Fakta tingginya PHK dan investasi padat modal menunjukkan bahwa solusi tambal sulam tidak cukup. 
 
Islam Kaffah menawarkan solusi yang lebih pragmatis yaitu pembangunan berbasis keadilan, serapan tenaga kerja, dan peran negara yang aktif. Dengan pandangan ini, cita-cita menghapus pengangguran bukan sekadar mimpi, melainkan jalan nyata menuju kesejahteraan. Wallahualam bissawab.***
Next
This is the most recent post.
Posting Lama
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Menatap 2029, Menyulam Harapan Kerja Anak Muda Jawa Barat Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan