728x90 AdSpace

Update
23 November 2016

Cerpen: Jono (Bagian 2)


Karya: Dendy Fitriyandi

Cerpen (3 Bagian)

Bagian 2

Menjelang Malam..
Akhirnya tiba juga di rumah tepat pukul setengah tujuh malam ini, alhamdulillah, kebunku sudah beres dan rapih lagi. Tadi sampah-sampah lumayan banyak dan berserakan di hampir setiap area kebunku, sehingga cukup menguras tenaga dan waktuku untuk membersihkannya. Jadi, malam ini rasanya aku perlu tidur lebih awal. Rasanya letih sekali tubuh ini. Selain itu, mulutku saat ini sering menguap-nguap terus.

Terkait Jono, ku pikir dia mungkin pulang ke rumahnya atau setidaknya menginap di rumah temannya yang lain. Selagi bisa, besok pagi nanti, ku sempatkan untuk mengunjungi rumahnya seandainya malam atau pagi ini dia tidak kesini lagi. Karena besok, Jono harus berkonsultasi lagi dengan dokter Muhur.

Sebelum tidur rasanya ingin sekali mendengarkan alunan musik “Jangan Menyerah” karya d’masive dari dvd bututku itu. Ini barang memang sudah usang, tapi ketahanannya sudah lebih dari 8 tahun sejak aku membelinya dari kota sana. Ceklek. Ku rebahkan badan ini di kursi ruang tengah sambil menikmati lantunan lagu mereka. Memang umurku sudah memasuki kepala lima dan berstatus duda, tapi semenjak sering mendengarkan lagu band ini, semangat mudaku jadi selalu hidup dan mudah mensyukuri apa yang saya punya.

Setalah berpuas diri dengan kesantaian, ku segerakan untuk mandi dan berganti pakaian. Mata ini benar-benar tidak bisa di ajak kompromi. Setelah selesai mandi, aku langsung menuju kamar supaya segera menikmati empuknya ranjang ini yang kemarin malam sempat ditiduri oleh Jono. Oh, Tuhan nikmat sekali kasur ini. Benar-benar nikmat rasanya ketika punggungku menyentuhnya. Mudah-mudahan malam ini tidurku nyenyak. Amin.

Menjelang Pagi..
Pagi tepat pukul lima, aku terbangun karena sahutan ayam pelung. Rasanya nikmat luar biasa ketika awal-awal meregangkan tubuhku di atas kasur empuk ini. Semua nyeri-nyeri di pundak, pinggul, dan betis kakiku hilang seketika setelah aktivitas berat kemarin. Sungguh terasa bugar kembali tubuh ini. Namun, tak berselang lama tiba-tiba terdengar gedoran pintu dari depan rumahku seperti ada kepanikan luar biasa dari seseorang.

“Ndi.. Ndi.. tolong bukain pintunya, ini saya Jono. Tolong, ada setan di belakang saya! Saya takut, Ndi..” teriaknya.
Tanpa tedeng aling aku langsung bergegas cepat menuju pintu depan rumah lalu membukakannya.
“Astaga, kamu ini kenapa Jono?? Coba lihat, penampilanmu saat ini lusuh sekali. Kamu ini sebenarnya habis dari mana??” tanyaku heran.

Tiba-tiba Jono langsung menyerobot masuk ke dalam rumahku sambil mengacuhkan pertanyaanku tadi. Sesampainya di ruang tengah, Jono seketika mengambil gelas yang ada diatas meja makan dan melemparkannya kepadaku. Buk, wajah bagian kananku kena dan berdarah tepat di bagian pelipisnya.

“Kau ini ternyata pembohong. Kau tidak lain sama halnya dengan kawanan iblis yang ada di luar sana. Kau bukan Endi yang ku kenal, kau hanyalah jelmaan setan!!” teriaknya dengan lantang.
“Apa maksudmu, Jon? Tidakkah kamu menyadari atas perbuatanmu saat ini? Kamu lihat sendiri darah di wajahku ini?”

“Kau pembohong! Kau ini iblis, bukan Endi yang ku kenal. Lihat rupamu saat ini nampak mengerikan! Ku bunuh kau!” Ancamnya.
Jujur saja, melihat situasi seperti ini membuatku sedikit kewalahan menghadapinya. Di satu sisi dia mengamuk, di sisi lain kepalaku agak pusing akibat hantaman gelas tadi. Sebenarnya aku tidak takut, aku tidak marah, karena aku sudah terbiasa.

“Tenang Jon. Ini aku temanmu. Aku bukan iblis atau setan lainnya. Sadarilah, Jon” tegasku.

Tiba-tiba dari arah pintu depan rumah terdengar gemuruh langkah kaki orang-orang. Dan salah satu dari tiga orang yang memasuki rumaku ini, yaitu sosok pria paruh baya dengan rambut ubanannya mencoba menghampiriku. Pria itu adalah Pak Mahmud sebagai ketua RT di lingkunganku ini.

 “Ada apa ini ribut-ribut Pak Endi?? Apa yang terjadi?? Siapa orang itu??”
“Gini pak, jadi..”
Secara mengejutkan dan lantang Jono berteriak, “kalian setaaann..!! pergi kalian dari sini!! Atau kalian akan mati!” 

Beberapa orang di belakangku termasuk Pak Mahmud ketua RT, berusaha mencoba menenangkan Jono. Namun, sayangnya usaha tersebut sulit sekali dilakukan. Jono terus saja ngumpat sana ngumpat sini sembari mau melemparkan benda-benda yang ada di sekelilingnya ke arah kami. Sehingga, dengan terpaksa kami tangkap, sumpal mulutnya dan ikat kedua tangannya Jono secara perlahan serta hati-hati. Hal ini kami lakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dan meredam kegaduhan. Sudah tentu kenyamanan tetangga di lingkunganku akan terusik jika ada kekacauan seperti. Masih pagi pula.

Jono saat ini dalam posisi duduk terikat kedua tangan dan kakinya di ruang tengah. Mulutnya-pun kami sumpal dengan kain berwarna putih. Ini demi kebaikannya juga. Biarlah Jono dalam keadaan seperti itu dulu untuk sementara waktu sambil menunggu keluarganya datang menjemputnya.(bersambung ke Bagian 3)

Baca Bagian 1

Bagian 3

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Cerpen: Jono (Bagian 2) Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan