728x90 AdSpace

Update
21 Desember 2016

Menyabit Rumput Sambil Membuka Jendela Dunia



Penulis Benning Rizahra (Kuningan, Jawa Barat)

suarakuningan.com - Perkampungan yang subur akan tanahnya, yang membuat tempat ini kaya dengan sayuran. Rata-rata setiap warga disini berkebun. Ya, ini disebuah perkampungan di kaki gunung Gede Pangrango, tepatnya di kampung Gunung Putri desa Sukatani kecamatan Pacet kabupaten Cianjur Jawa Barat.

Sudah lebih dari 10 bulan saya menjalankan tugas menjadi guru konsultan Sekolah Literasi Indonesia di sebuah sekolah di kaki gunung ini. MI Al-Ikhlas, adalah sekolah yang sedang menjalankan program dari Yayasan Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa (YPnDD) dengan didampingi saya sebagai perwakilan dari YPnDD untuk program Sekolah Literasi Indonesia.

Perjalanan ke sekolah, samping rumah, pergi ke warung, belajar bersama, pergi kemadrasah, dan kemanapun saya berpergian disini, terlihat kebun yang subur dengan sayuran-sayuran yang selalu segar dan tumbuh dengan baik. Sehingga, tidak salah apabila disini mayoritas warga berkebun.

Seusai kegiatan di sekolah, kaki bergegas menyusuri jalan setapak untuk pulang ke rumah lalu istirahat. Ada hal yang menarik yang saya lihat, yakni seorang anak bertubuh kecil dengan langkah kaki yang begitu cepat dengan memikul satu karung besar berisikan rumput. Saya tidak pernah melihat dan mengetahui dimana dia mencari rumput dan seperti apa cara dia mengumpulkan rumputnya. Yang saya ketahui hanya setiap hari dia lewat depan rumah dengan membawa pulang sekarung rumput.

Suatu hari, saya pulang lebih awal ke rumah, lalu beberapa saat kemudian waktunya anak-anak sekolah pulang. Akhirmya terlihat dari kaca rumah dia sedang berjalan menuju depan rumah dengan karung kosong yang dia gantungkan di punggungnya dengan dipegang tangan kirinya. Tangan kanannya ia gunakan untuk memegang sabit. Akhirnya saya langsung keluar rumah, dan dia pun tersenyum sambil bersalaman disertai ucapan salam. Ternyata Aab, namanya, siswa kelas 5.

Setelah saya izin untuk mengikutinya mengambil rumput, saya berjalan dibelakangnya menuju sebuah ladang yang sudah tidak ada sayurannya. Memang disini cukup sulit mencari rumput karena setiap lahan ditanami sayuran. Namun ada beberapa lahan yang sudah dipanen sayurannya, dan ini yang dijadikan tempat untuknya mengambil rumput.

Terlihat jelas pandainya dia dalam menyabit rumput. Selain itu juga dia pandai memilih rumput karena tidak semua rumput dia ambil, hanya rumput-rumput tertentu saja. Sambil menemaninya menyabit rumput, sesekali saya bertanya mengapa dia mencari rumput setiap hari. Dan jawabannya sungguh membuat saya terenyuh, ternyata dia membantu ayahnya mencari rumput untuk peliharaannya agar ia mampu meringankan beban ayahnya.

Setiap detiknya saya perhatikan, tidak ada raut lelah dan sedih diwajahnya. Selalu keceriaan yang terpancar diwajahnya. Sesekali dia memergoki saya yang sedang memperhatikannya, lalu ia tersenyum, dan saya hanya berbalik senyum melihatnya, walalupun sebenarnya banyak yang sedang saya pikirkan tentang dia.

Menyabit rumput itu tidak mudah, salah-salah nanti tangan akan tersabit jika tidak hati-hati. Namun Aab ini sudah ahli, jadi tidak mengenai tangannya.

Setelah terkumpul rumput satu karung penuh, dia istirahat sebentar. Saat ini lah saya kembali bertanya-tanya. Setelah membahas sana sini, ternyata Aab ini sangat senang membaca, apalagi di sekolah kami sekarang banyak buku bacaan yang menarik dan mendidik. Namun  Aab juga tidak bisa melakukan kegemarannya ini diluar sekolah karena tidak memiliki buku bacaannya. Oleh sebab itu  setiap di sekolah, ia selalu sempatkan membaca di jam istirahat atau setelah pulang sekolah.

Terlintas dalam benak saya untuk mengajaknya ke rumah setiap usai mengambil rumput. Dan saya utarakan itu kepadanya. Namun Aab menolak, bukan karena tidak mau, hanya saja jadwalnya sudah padat. Usai mengambil rumput, Aab harus bergegas pergi mengaji.

Setelah selesai menemaninya, di rumah saya berpikir bagaimana untuk memberikan kesempatan kepada Aab atas kegemarannya, yaitu membaca diluar jam sekolah.

Keesokan harinya, karena saya tidak pulang seperti hari sebelumnya yang lebih awal, akhirnya saya tidak bisa pergi bersama dengan Aab untuk menemaninya mengabil rumput. Untungnya saya mengetahui dimana tempatnya mengambil rumput dan masih hafal rutenya.

Setelah istirahat sebentar, lalu saya pergi menuju tempat dadang mencari rumput dengan membawa satu kantong plastik. Sesampainya di tempat, dadang langsung berlari dan menyalami saya sembari mengucapkan salam. Lalu dia bertanya apa yang saya bawa.

“Nyandak naon bu?” tanya Aab

Kemudian saya tunjukan isi kantong plastik itu kepadanya, Aab langsung tersenyum ceria.

Ya, isinya buku-buku bacaan. Ada 5 buku yang saya bawa. Dengan segera, Aab langsung melanjutkan menyabit rumput. Dan dengan segera satu karung terisi penuh. Lalu ia mengahampiri saya untuk membaca buku yang saya bawa.

Sungguh bahagia yang tidak terukur, melihatnya tertawa bahagia ditengah letihnya mencari rumput. Sesekali saya meminta Aab untuk membaca dengan suara lantang, tujuannya untuk mengetahui sudah lancar belum membacanya. Alhamdulillahnya sudah lancar. Karena buku bacaan ini lebih banyak gambarnya dan tekt di setiap halamannya sedikit, sehingga satu buku dengan cepat selesai. Lalu dilanjutkan dengan buku kedua dan ketiga. Tidak semua buku dibacanya karena sudah saatnya dia pulang dan pergi mengaji.

Dalam perjalanan pulang, saya berjanji untuk menemaninya setiap hari jika saya tidak ada kesibukan. Dan saya memintanya untuk setiap berangkat mampir terlebih dulu ke rumah untuk mengambil buku yang sudah saya sediakn. Takutnya saya ada kesibukan dan tidak bisa pergi ke tempatnya mencari rumput.

Pulang sekolah saya lihat buku yang saya sediakan di depan rumah sudah tidak ada, berarti sudah diambil Aab. Beberapa waktu kemudian Aab muncul didepan rumah dengan mengucapkan salam.

“Assalamualaikum, ibu iyeu bukuna atos, nuhun.” Ucapnya, lalu ia pergi meninggalkan teras rumah.

Di sekolah pada jam istirahat, saya sempatkan untuk pergi kekelasnya. Sambil jajan, saya tanyakan apa yang ia baca kemarin lalu ia pun dengan sigap langsung menjelaskannya dengan penuh antusias. Saya beri tahu bahwa buku yang ia akan baca nanti pada saat istirahat setelah mengambil rumput sudah saya simpan di teras rumah. Dan ia berucap terimakasih.

Semoga saja, niat tulusnya membantu orangtua dan kegemarannya membaca ini, menjadikan Aab anak yang baik dan soleh dan cita-citanya sebagai guru agama dapat tercapai. Aamiin.

Terimakasih Nak, telah luarbiasa menginspirasi, bagaimana niat tulusmu dalam membantu orangtua disaat teman-temanmu sibuk bermain menikmati masa-masanya, dan kau harus menahan panasnya terik matahari sambil kau ayuhkan tangamu memegang alat yang cukup tajam demi mengumpulkan satu karung rumput setiap harinya.

Terimakasih telah membuat saya bahagia, karena wajahmu yang selalu ceria dengan senyum manis yang kau pancarkan, dan juga sopan santunmu.Tetaplah seperti itu Nak, bagaimana kau mampu bertahan atas niat tulusmu ditengah banyaknya godaan untuk mengeyampingkan berbakti kepada orangtua baik sekarang ataupun nanti, dan tetaplah tersenyum ikhlas seperti itu sehingga orang-orang yang berada disekitarmu selalu merasa bahagia.***

Guru Konsultan Sekolah Literasi Indonesia
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Menyabit Rumput Sambil Membuka Jendela Dunia Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan