728x90 AdSpace

Update
31 Maret 2017

Tiga Sihir Waktu Teater Sado


Oleh : Pandu Hamzah *)

suarakuningan.com - Di dunia ini, konon kata fisikawan, waktu memiliki tiga dimensi seperti ruang, oleh karenanya sebuah peristiwa secara serentak berjalan ke tiga arah: ada yang vertikal, ada yang horisontal, dan ada yang membujur. Sesaat ketika kita akan mencium bibir kekasih, misalnya, maka yang terjadi bergulir adalah tiga versi kejadian; contohnya katakanlah:  pertama, kita jadi menciumnya lama-lama, kedua, kita tak jadi menciumnya (karena keburu ada hansip lewat), dan ketiga kita menciumnya hanya sebentar saja karena kita segera sadar bahwa kekasih yang sedang kita cium itu hanyalah sebuah ilusi.

Ketiga kejadian itu sama-sama berjalan menjadi sebab dari rangkaian akibat-akibat selanjutnya sampai nun jauh di masa depan yang tak terhingga.

Pemikiran inilah yang entah mengapa hinggap di kepala saya sejak detik pertama saya duduk di kursi penonton pementasan Teater Sado dengan lakon Barok (Tidak Bodoh,Tapi Tidak Tahu, Sebab Tidak Pernah) di Gedung Kesenian Raksa Wacana Kuningan tanggal 31 Maret 2017.

Mungkin penyebabnya adalah kilasan cahaya senter yang dipegang Kang Anjas Sang Produser Eksekutif Pementasan yang menyambut penonton dengan ramah, kilasan cahaya senter beliau mengingatkan saya pada hukum fisika dan mengingatkan saya pada teori waktu tiga dimensi itu, atau bisa juga hal ini disebabkan bahwa sejak di luar ruangan saat berjalan menuju gedung saya tiba tiba merenungkan bahwa mengapa setiap kali saya menonton pementasan teater Sado saya selalu berada dalam situasi hujan yang menjelang reda.

“Dedes; (Terperdaya atau memperdaya menjadi sah-sah saja) (2001) saya tonton di GK Rumentang Siang Bandung dalam suasana hujan yang menjelang reda, “Ada Mayat Kentut” (2002) saya tonton di halaman rumah penyair Acep Zamzam Noor (Komunitas Azan Tasikmalaya) malam hari setelah sorenya hujan mengguyur lumayan deras, “Bimbang Dewi Rara” (1999),  “Sandiwara Orang-Orang Negeri Dangdut” (2003) , “Ibu Sepuh Ratu Rita” (2016) saya tonton di Kuningan dalam suasana hujan juga yang menjelang reda. Adapun tadi nonton “Barok” (2017) pun saya hampir tak jadi karena dirumah hujan turun dengan deras dan baru menjelang di gedung kesenian hujan tampak mereda.

Dalam hal ini hujan seolah menjadi framing bagi saya untuk menonton pementasan “Barok” tidak secara parsial; tidak hanya  “Barok” tok namun “Barok’ sebagai sebuah kepingan dari Puzzle utuh; pementasan besar Teater Sado dalam peta panggung kesenian kebudayaan kota kita Kuningan tercinta ini.

Walhasil selama pementasan tadi pikiran saya terus mengembara mengikuti setiap gesture, menyerap setiap dialog, mencermati setiap bloking, meresapi setiap ornamen artistik kostum makeup tata panggung dan musikalitas pementasan barok dalam konteks masa lampau, masa kini, dan masa depan sado dalam linearitas waktu tiga dimensi tadi.

Dan menonton dengan framing yang seperti itu membuat saya seolah tersihir menatap panggung pementasan. Saya tak sadar saat disamping saya penyair Ira Rahayu dan Sri Neneng meminta saya untuk tak berdiri dan duduk dikursi bersama mereka. Panggung dengan tata lampunya yang lumayan rapi jali  seolah menghisap saya tidak hanya dengan realitasnya saat itu...tapi sekaligus realitas kenangan subjektif saya pada Sado di masa lampau dan juga realitas nubuatnya dimasa depan...

Manakala melihat aktor D Ipung Kusmawi yang memerankan Aki dengan sangat sublim, rileks, hemat, dan matang  (meskipun power vokalnya yang  seolah terkikis usia itu perlu dibooster lagi dengan olah raga rutin), saya sekaligus menikmati nuansa asimetrikal dengan perannya sebagai kumbang hitam yang dinamis dan berenergi dalam lakon “Dedes” belasan tahun silam saat beliau masih bujangan dan masih berambut gondrong desa.

Saat melihat akting-akting dari Ipan Jante, Rizki ilok, dan Kiki Katineung yang artikulitif meskipun kadang ham acting juga Aditia, Inayah dan Andini, yang berbakat besar namun kesulitan mengontrol energi  keremajaan mereka saya seolah melihat ada Mira Namira, Cecep Ahyani, Edi Supardi dkk di masa lampau  sekaligus melihat bahwa Sado sudah dengan sangat jeli melakukan regenerasi keaktoran yang tepat demi kelangsungannya eksistensinya dimasa depan.

Dari framing lintasan-lintasan waktu seperti itulah saya tidak bisa menepis bahwa kualitas proses, wawasan  artistik, sepinya teater kompetitor lokal, konsistensi, serta integritas para manusia tetater Sado, dan tentu saja kontinyuitas produksi, membuat Sado mendesak ke dalam alam  batin saya sebagai sebuah identitas tak terbantahkan dari atmosfering kesenian kebudayaan Kuningan.

Dengan kata lain,  andai saja saya sedang mengembara jauh keluar kota, saat teringat pada kampung halaman Kuningan tercinta ini selain suasana damai saat hujannya menjelang reda, suara ketoplak kaki kuda delman dijejalanan, suasana jalan siliwangi malam hari yang penuh dongdangan martabak, suara siaran dongeng enteng Mang Jaya dll saya juga selalu kangen nonton pementasan teater Sado dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Saya  pikir itulah kesuksesan luar biasa dari sebuah entitas kesenian manakala telah menjadi bagian dari memori kolektif masyarakatnya seperti halnya kecak Ketut Rina dibali atau JFC di Jember.

Merujuk pada masa kini saya melihat betapa Teater Sado telah berhasil mengarungi perubahan besar zaman dengan meregenerasi penontonya. Kelihaian Sang Penulis naskah dengan mengoptimalisasi epistemis konteks dengan penonton berupa penggunaan heureuy lokal, idiom-idiom kekinian dan kritik sosial yang cerdas dan menonjok langsung jidat politikus penguasa,  telah juga berhasil membuat Sado meregenerasi para penontonnya sehingga bisa diterima oleh generasi kontemporer yang sangat berbeda tipikalnya dengan para penonton di era pra boomingnya  perangkat teknologi informasi.

Selain itu tak bisa diabaikan kejelian Sado meregenerasi armada yang komprehensif disemua lini. Peranan Arif Hidayat Asisten Sutradara dengan  integritas dan dedikasi yang sekuat batu saya yakin akan menghilangkan sayup sayup aroma keterpengaruhan Teater Koma di Sado menjadi semakin sirna. Sentuhan produser Eksekutif kang Aan Anjasmara yang berjaringan luas dan memiliki skil multitalenta sebagai seorang dalang wayang Golek muda harapan kabupaten Kuningan membuat saya yakin akan menjadikan setiap pementasan Sado semakin apik  dan memperluas “para pecandu sado” dari berbagai multi lapisan masyarakat diluar penonton hasil jaringan guru-guru alumnus Uniku yang sudah ada.

Kehadiran dua orang ini beserta timnya di sado sudah lumayan teruji, meski masih butuh kemauan  kreatif yang lebih kuat lagi agar kreatifitas terus tumbuh dalam iklim taget pentas yang spartan. Saya yakin sensitifitas kreatif sutradara yang didampingi komposisi Arif dan Anjas akan cepat tanggap memahami bahwa penonton merindukan Sado yang setiap pentas selalu memberikan kesegaran kreatif sehingga  tak boleh ada musik pementasan masa lalu yang didaur ulang lagi untuk pementasan-pementasan berikutnya.  

Dari kekompakan serta soul yang terukur dari tim musik saya yakin Sado sudah memilki modal penting untung jadi teater yang keratif segar di setiap pementasannya yaitu familiaritas. Kekompakan dan kepiawaian harmonik  tim musik, kekompakan aktor-aktor yang menjadi penghuni kampung kumuh termasuk bocah-bocah ciliknya, aktor-aktor pemeran hansip, tukang cilok, seseorang yang  beol, sekretaris camat, para pengawal camat, tukang sorabi, pembuang sampah dan tentu saja para pencoleng anak buah Barok meyakinkan saya bahwa proses produksi yang dilakukan cukup berdarah darah namun dengan familiaritas yang tetap terjaga.

Dan pada lintasan-lintasan Sado di masa depan saya melihat pementasan Barok ini  sebagai sebuah titik awal yang akan berjalan sesuai dimensi ruang menjadi rangkaian sebab akibat melalui tiga arah secara membujur vertikal dan horisontal. Hasilnya, akan sangat bergantung dari pemaknaan Sang pendiri sekaligus Sutradara Aan Sugianto Mas apakah Barok ini dianggap sebagai sebuah puncak pencapaian titik mapan dalam berkarya atau justru hanya satu rangkaian saja menuju pencapaian karya lainnya.

Kalau dianggap sebagai sebuah puncak pencapaian saya melihat Barok masih belum ada apa-apanya bagi kapasitas dan potensi kreatifitas  orang-orang Teater Sado. Namun kalau dianggap sebagai sebuah titian bagi pencapaian karya berikutnya saya yakin   masih akan lahir karya jauh lebih dahsyat dan edan  lagi dari Aan Sugianto Mas  yang akan makin memberi kesegaran kreatif tidak hanya  bagi masyarakat skala Kuningan tapi bagi dunia perteateran pada skala yang lebih luas lagi yaitu masyarakat Tanah Air yang sedang mengalami defisit produktifitas kreatif.

Semoga pilihan kedualah yang akan diambil oleh pendiridan sutradara Teater Sado sehingga lintasan-lintasan pencapaian sado di masa depan yang berlesatan dari panggung saat saya sedang menonton Barok tadi tidak sekadar hanya akan menjadi ilusi. Amien ya robbal Alamin.

Selamat menunaikan pementasan-pementasan berikutnya bagi Teater Sado, selamat menonton Barok juga bagi masyarakat Kuningan yang belum menikmatinya. Saya secara subjektif menggaransi bahwa pementasan Barok sangat asyik untuk dinikmati.***

*) Pandu Hamzah; penonton Teater Sado
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Tiga Sihir Waktu Teater Sado Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan