Iklan Google 728

24 Maret 2019

Artikel: Membedah "Ngulup"

suarakuningan.com - Film yang diproduksi tahun 2018 oleh Bonti Cinema SMKN 1 Luragung ini menjadi film fenomenal dikalangan pelajar dan pemerhati film. Bagaimana tidak, sejak menjuarai FLS2N SMK Bidang lomba Film Pendek tingkat Kabupaten Kuningan, kemudian Juara 1 FLS2N SMK tingkat provinsi dan Film Unggulan IV Festival & Lomba Seni Siswa Nasional 2018 di Banda Aceh, film ini kerap dibedah beberapa forum diskusi. 

Apalagi setelah Jovan Arvisco ( sutradara, Producer ) memberikan anugerah Jovan Arvisco Award kepada Bonti Cinema SMKN 1 Luragung sebagai Komunitas FIlm yang konsisten mengembangkan dunia film di kalangan pelajar.

Film Ngulup juga banyak didiskusikan oleh mahasiswa yang sedang menimba ilmu dibeberapa kota yang ada di Indonesia. Diantaranya adalah pada saat Jimus Literacy Camp yang diseleranggakan FTBM Klaten, Revolt_ID dan Pemerintah Desa Jimus Kecamatan Polanharjo Kabupaten Klaten. Dan Pada tanggal 23 Maret 2019, Forum Sineas Cirebon dan Ciayumajakuning juga menggelar diskusi tentang film Ngulup bertempat di Aula Kecamatan Lemah Abang Kabupaten Cirebon.

Sebuah film yang bagus adalah film yang mempunyai story telling yang kuat dalam penulisan skenarionya, unsur sinematografi yang sempurna, editing yang rapi, penataan musik dan audio yang tepat,serta penyutradaraan yang hebat. Ngulup sebetulnya tidaklah terlalu istimewa jika dilihat dari segi sinematografi. Masih banyak lubang-lubang kekurangan yang harus ditutupi.

Penata Kamera masih mengambil jalan aman dalam arti kata patuh pada pakem yang ada dan belum berani out of the box. Film Ngulup banyak menampilkan gambar-gambar statis. Ia juga belum berani mengeksplore angle, shoot of type, camera movement, dan lighting. Opini ini terlepas dari apakah sutradara memang menginstruksikan gambar-gambar statis sebagai simbol membekunya pemikiran manusia akhir-akhir ini.

Ngulup unggul dalam pengemasan ide menjadi sebuah cerita yang enak diikuti alurnya selama durasi 10 menit. Adegan dimulai dari terbangunnya Aldi karena ada cahaya terang masuk kedalam kamarnya. Cerita kemudian bergulir pada kontestasi demokrasi yang terjadi di sekolah. Tika sebagai pasangan Calon Ketua Osis bersama Aldi tidak setuju dengan pemikiran pasangannya. Aldi mengaku telah mendapatkan Pulung berupa cahaya dan menjelma sebagai sebuah pusaka. Tika meminta Aldi untuk tidak percaya hal itu. 

Ngulup ingin menyampaikan kegelisahan seorang remaja yang digambarkan oleh tokoh Aldi yang hidup diantara logika dan mitos. Remaja yang setiap hari dicekoki informasi-informasi digital namun hidup ditengah masyarakat yang percaya akan mitos. 

Film ini diakhiri dengan adegan menyimpan pusaka yang diterima Aldi ke museum desa yang menggambarkan bahwa pertentangan antara logika dan mitos diserahkan kembali kepada sang pemilik segalanya. Tuhan.

Beberapa pesan diungkapkan secara verbal di film ini dalam dialog yang cukup berat untuk dinikmati segmentasi remaja seperti tentang budaya. Film ini banyak menggunakan bahasa non verbal melalui simbol-simbol yang divisualisasikan dengan rapi. Ya, film ini cukup berat untuk remaja yang konsumsi netra dan nalarnya hanya sinetron, drama Korea, atau cerita-cerita teenlite. Film ini cukup.berbobot untukremaja-remaja yang mau berpikir dan mempuyai visi kedepan.

Sebagai film karya pelajar, Ngulup sudah banyak memberikan inspirasi bagi pelajar lainnya. Terlepas dari segala kekurangan yang ada, Ngulup memang layak untuk mendapatkan apresiasi dari berbagai kalangan. Maju terus sineas muda Kuningan ! ( Fajar Senantiasa)
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Artikel: Membedah "Ngulup" Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan