Hot News
14 Februari 2022

Cerpen: “PL”



(Oleh: Ki Pandita)


Lukisan kaca Rama-Shita yang menempel di dekat jendela, bergeser tertiup angin kemarau. Debu dan tanah kering tercium begitu tajam dan membuat sesak nafas.

Murni menumpahkan isi tas kecilnya di atas sofa dan segera menghirup Ventolin Inhaler beberapa kali dengan tergesa. Jam dinding besar menunjukan pukul 10 malam lebih. Januar, suaminya sulit dihubungi dan selalu memiliki alasan untuk berada di luar rumah. 

Sesaat kemudian nafasnya kembali lega. Diraihnya Ipad yang sedari tadi tergeletak di dekat bantal. Beberapa pesanan kue dan permintaan catering diceknya kembali. Bisnis semacam ini sangat menguntungkan bahkan hasilnya terbukti bisa menguliahkan puterinya di UGM. Murni tidak pernah menggantungkan persoalan ekonomi keluarga kepada suami. Ia kuat dan tangguh. Katakan saja, penghasilannya lebih besar dari Januar yang hanya seorang pegawai negeri golongan III B. Off the record, bahkan posisi dan kedudukan suaminya saat ini pun karena jasa orang tua Murni.

Sudah dua tahun ini, hubungan rumah tangganya tidak harmonis dan cenderung dingin. Semenjak anak kedua lahir, perselisihan kecil sering terjadi. Januar mulai dirasa menjauh dan memiliki dunianya sendiri. Padahal ia membutuhkan bahu kuat untuk menjalani kerasnya bisnis.  

Jeda satu menit, ia teringat suaminya lagi. Murni terdiam kosong dan tidak terasa air matanya menetes pelan. Ruang kamar terasa sepi.

***

Sucilia duduk di teras kontrakan. Kaos putih longgar cekak, celana jeans pendek sepaha. Rambutnya basah digulung handuk hijau muda. Tato kupu kupu kecil menempel di punduknya. Dengan santai ia duduk dengan kedua kakinya naik ke atas kursi. Usianya baru 21 tahun ketika ia memutuskan untuk bercerai dan menjadi janda beranak dua. 

Sore terlihat bergeser, dan malam pelan menguasai. Sucilia bergegas bersolek untuk berangkat kerja. Ia seorang pemandu lagu di sebuah kafe. Suaranya merdu pas-pasan, dibalut senyum berlesung dan kulitnya kuning bersih. Disorot lampu meremang dan suasana riuh denting botol minuman beralkohol, ia terlihat seperti siluet.

Selepas kerja, Sucilia dijemput Brio putih yang sedari setengah jam lalu sudah menunggu di parkiran. Yopie, langsung injak gas laju tanpa tergesa menembus kelam malam yang sebentar lagi bergeser. Tidak memakan waktu lama, mereka tiba di kontrakan bercat biru laut. Sebuah Opel Blazer kelabu sudah menunggu sembunyi tertutup rimbun pohon bougenville ungu tua yang merambat di pagar tembok.

Semburat lampu teras rumah nampak agak gelap tetutup seekor kupu kupu cokelat yang hinggap pada bohlam, mencari kehangatan. Sucilia turun dari mobil dengan bergegas menghampiri gagang pintu bulat. Seorang lelaki berusia sekitar 49 tahunan membuka pintu dari dalam menyambut dengan senyum tertahan. Berdua mereka di sana sampai ..... Sudahlah.

***

Yopie, terus melaju dengan tidak banyak bicara. Malam ini masih ada 3 langganan yang harus ia jemput di kafe yang berbeda. Setiap malam 5 orang pemandu lagu harus diantarnya. Mereka baik, karena sering memberi lebih. 

Yopie seorang lajang berusia 25 tahun. Orang tuanya sudah lama pergi memilih jalan masing-masing tanpa perceraian. Seringkali Perceraian menjadi kasus yang rumit untuk disetujui oleh gereja. Sehingga secara sembunyi namun real, kebanyakan orang lebih memilih berpisah dan berumah tangga lagi tanpa melakukan perceraian. Dengan modal yang dipinjam dari sahabatnya, ia menyicil mobil untuk bekerja sebagai seorang sopir online.  Ia benci kedua orang tuanya.

Sebuah rosario hijau fosfor menggantung pada kaca spion dalam mobil, hanya itu yang menemaninya menembus setiap sunyi perjalanan. Berharap setiap dosa dapat dibersihkan dan hari esok masih ada harapan dalam hidupnya. Ia tidak pernah pulang ke rumah dan memilih tidur di dalam mobil.

Siang itu setalah terbangun, ia segera mencuci jok belakang mobilnya. Malam tadi, seorang pemandu lagu yang tengah hamil, pecah ketuban saat menuju bidan. Tercium bau amis. Itu cerita biasa, dan entah siapa lelakinya, ia tidak begitu ingin ikut campur. Ia tidak membenci Tuhan.

***

Januar melepas jam tangan Omega dan menaruhnya di meja kaca berhias pasir putih kerang laut. Beberapa proyeknya gagal, karena pemilik uang dari jepang dan Korea batal investasi. Itu tidak menjadi masalah, karena ia seorang pegawai negeri yang memiliki gajih tetap.

Sebagai anak tertua di keluarga, Januar diam-diam mengirimkan uang kepada adiknya di Semarang yang sudah dua tahun menganggur. Sebagian ia kirim kepada adik bungsunya di Purworejo untuk mengurus ibunya yang melakukan pengobatan radang sendi kaki. Tidak lupa secara rutin mentransfer uang jajan untuk puteri tercintanya yang sedang berjuang kuliah di UGM.

Ia bangga kepada perempuan kuat dan mandiri seperti Murni, isterinya. Namun kesibukan pekerjaan dan bisnis telah lama membuat suasana menjadi hambar. Ada saat ketika ia ingin bercerita tentang ibunya yang sakit, tetapi Murni begitu larut menghitung laba dan rencana. Murni tidak bisa lagi diajak bicara dari hati ke hati dan cenderung menggurui, ketimbang memahami. Isterinya telah berubah menjadi angkuh dan sombong dengan segala yang mampu diraihnya. Ini soal rasa, tidak bisa dijawab hanya dengan logika. Ia lebih memilih diam dan pergi, menginap dan menenangkan diri di rumah sahabatnya.

***

Sucilia menunduk dalam ketika Brio putih membawanya ke arah timur kota. Dengan suara menghela, Yopie berkata kepada Sucilia:

“Ini sudah kedua kalinya aku mengantarmu ke bidan laknat itu untuk aborsi. Kenapa kamu terus mengulanginya dan mengulanginya?”

“Om Joe tidak ingin anak ini. Ia memberiku 10 juta. Seorang anak jadah hanya akan menghambat dan menghancurkan kariernya di pusat.”

“Kamu tidak takut dosa?”

Sucilia tidak dapat menjawabnya, dan ia mulai tersedu menangis dalam Brio putih itu, sepanjang jalan.

Yopie membelokan arah mobilnya ke selatan menyusuri jalanan yang penuh pohon jabon. Sampai di sebuah desa, samping pom bensin mini belok kanan ke sebuah gang kecil. Tiga ratus meter lurus menjumpai gardu, lima rumah dari situ, mobil berhenti. Suasana gelap hanya diterangi bulan dan lampu-lampu pijar. Di sebuah rumah kecil menghadap empang, dituntunya Sucilia masuk ke sana.

“Kamu sembunyilah di sini sampai anak itu dilahirkan. Dan mulailah hidup yang baru.”

***

Januar akhirnya pulang ke rumah. Dituangnya air dari dispenser, lalu diminumnya dengan dahaga. Murni melihatnya dari arah kamar lalu menghampiri dengan tidak bersuara. Emosi dan kekesalan yang selama ini dipendam ingin diluapakannya segera. Diraihnya cangkir kopi yang sedari tadi berada disampingnya. Dengan kekuatan penuh disiramkannya kopi dingin itu ke wajah Januar, suaminya. 

“Ternyata kamu masih punya muka untuk pulang ya! Dari mana kamu selama ini?! Menginap di rumah PL ya?! Aku banting-tulang menafkahi keluarga, tapi kamu hanya keluyuran tidak karuan! Bawa pakaianmu semua! Kita cerai saja!”

Murni membanting pintu kamar dan mengunci diri. Tersimpuh lemas di lantai dekat ranjang tidurnya. Menangis tersedak, meratapi nasibnya sebagai seorang perempuan malang. Di kamar itu ia mengurung diri untuk beberapa hari. Sepertinya bahtera rumah tangga yang selama ini diarungi bersama, harus karam diterjang ombak.

Januar menyeka wajahnya dari cairan kopi yang ditumpahkan. Ia tidak berusaha menjawab. Bergegas ia membereskan pakaian dan memasukannya ke dalam travel bag. Lalu keluar rumah dan masuk ke dalam Avanza hitam miliknya. Dibenturkan kepalanya pada stir mobil. Ia mulai menangis tanpa tertahan. 

Dengan gamang dan tatapan kosong, Januar mengendarai mobil ke arah rumah ibunya. Sesampainya di sana, Januar langsung menagis sejadinya di hadapan peti jenasah ibunya. Nyanyian gereja dan kotbah pemakaman seolah tidak dapat ia dengar. Jiwanya hancur remuk tidak tersisa.

“Mas, Isterimu tidak diajak ke sini?” 

Ia tidak mampu menjawab. Tenggorokannya seperti menelan duri dan mulutnya seperti terkunci. Dengan lirih dan perjuangan keras, ia berbisik di samping salib kayu yang menancap pada pusara penuh bunga itu,

“Tuhan, tolonglah aku..........” 

***

Brio putih yang sedang melaju, terus saja dibuntuti oleh Opel Blazer kelabu sedari Solo lanjut di jalan Tol Trans Jawa. Masuk arah perbatasan Ngawi, Brio putih itu langsung dipepet dengan kecepatan tinggi, sehingga oleng dan terbanting keluar jalur dan menghantam pembatas beton.  Rosario hijau fosfor terjatuh, Yopie tertunduk berlumur darah. tidak berapa lama, ia menghembuskan nafas.

Setiap senja berganti malam, Sucilia mengintip dari jendela rumah, ke arah luar jalan. Tidak juga datang yang ditunggunya. Sudah tiga bulan, Yopie tidak menjenguknya. Perutnya semakin membesar. Ditatapnya terus lukisan Sang Bunda Kudus, sambil berharap dalam hati, “Tolonglah hambaMu yang berdosa ini.”

***

Kebodohan dan sikap yang hanya mementingkan diri sendiri, hanya akan membawa kita kepada kehancuran dan penderitaan. Kebahagian akan sangat sulit diraih, ketika kita saling menyakiti.


Majalengka, akhir Juli 2021

Di musim kemarau


  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Cerpen: “PL” Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan