Menyambut Cahaya (04): "Berkata atau Diam ?"


Tulisan sebelumnya: Menyambut Cahaya ( 03): " Stop marah"

Eli Solihati

Pengajar SDIT Riyadlul Huda - Kuningan


Berkata- kata adalah satu cara mengungkapkan, segala sesuatu agar bisa tersampaikan maksud dan tujuan. Dengan berkata dan berucap semua bisa terungkap. Rasa sayang, rasa senang, rasa takut atau rasa benci sekalipun. Namun ada banyak alasan ketika perasaan seorang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Ada kalanya perlu memikirkan juga akibat dari kejujuran dalam mengutarakan perasaan akan berdampak buruk, atau menyakitkan. Bijak memang sikap seorang yang selalu berfikir sebelum berkata kata, jangan sampai menyesalinya. 

Tapi di waktu dan kesempatan yang lainnya, kelugasan mengutarakan kata kadang sangat di tunggu. Misalnya seorang hakim yang memutuskan perkara. Bisa juga seorang yang melerai yang bersengketa. Atau ucapan fatwa dari seorang Ulama, yang sudah pasti di nantikan umat. Jika melihat hal tersebut berarti mengucapkan kata2 di sini sangat perlu. 

Bagaimana dengan mengungkapkan kata2 walaupun itu kejujuran sekalipun, jika hal ini akan menimbulkan perpecahan keluarga, pertemanan atau bahkan  perpecahan di masyarakat. Tentu yang di lihat adalah dampak buruk yang lebih besar itu cukup menjadi alasan untuk tidak berkata dan  berucap. 

Sabda Nabi

من كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليقل خيرا او ليصمت

" Barang siapa yang berIman kepada Alloh dan hari ahir, maka berkatalah yang baik atau diamlah" (HR. Muslim)

Dari sini kita bisa melihat, dan menimbang posisi kita dalam berkata kata, agar tercapai segala tujuan2 baik dan meninggalkan hal2 yang tidak baik. Apalagi jika di media sosial mungkin kehati hatian untuk berkata2 itu harus lebih besar, karena besar dan luasnya jangkauan media. Sering kali apa yang menjadi tujuan penulis/ pembicara bisa di tafsirkan berbeda, dan itu bisa berlaku kepada siapa saja, kata2 baik tujuan baik, belum tentu 100 % di terima baik. Yang lebih baik memang bersikap lugas dan positif thinking saja.

Lalu bagaimana jika berkaitan dengan Rasa?  apakah juga di samakan caranya....tentu itu tergantung manusia itu sendiri, siapkah dengan resiko kejujuran nya? Tapi menurut pengalaman sendiri, jika baik yaa ungkapkan, kalau kurang baik mending di tahan, selama itu masih tentang perasaan dan bukan tentang hukum dan aturan. Seorang motivator berkata 

"More you give , more you get"

Banyak memberi akan banyak menerima. Jadi berkatalah yang baik dan berikan yang terbaik....semangaat

 والله اعلم

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Menyambut Cahaya (04): "Berkata atau Diam ?""

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.