Hot News
23 Mei 2025

Keikhlasan yang Dipaksa, Pendidikan yang Terluka



Oleh Asep Amat Sopian

Di negeri ini, ada satu kalimat yang kerap digaungkan dengan nada luhur, namun diam-diam menyimpan luka tersembunyi: “Menjadi pengajar itu harus ikhlas, karena itu ibadah.”

Ia diucapkan dengan nada sakral, seolah menjadi kredo tak tertulis dalam dunia pendidikan kita. Kalimat ini terdengar mulia, bahkan menggetarkan hati, namun justru karena itu pula ia sering digunakan untuk membungkam jeritan yang paling manusiawi, jeritan atas hak, atas keadilan, atas kesejahteraan.

Sungguh, tak ada yang salah dengan keikhlasan. Ia adalah mahkota tertinggi dari niat baik, persembahan batin terdalam yang tak meminta imbalan duniawi. Namun ketika keikhlasan dijadikan standar mutlak dalam ruang kerja profesional, ia berubah menjadi belenggu.
Apalagi jika keikhlasan itu bukan lahir dari kesadaran jiwa, melainkan hasil dari paksaan budaya dan tekanan sistem. Maka di sanalah letak kezaliman yang tak tampak, pemaksaan moral yang dikemas dalam bungkusan religiusitas.

Kita lupa bahwa pengajar, guru, dosen adalah profesi. Ia menuntut waktu, tenaga, pikiran, bahkan kesehatan mental. Maka seperti profesi lain, ia layak dihargai secara layak pula. Bukan hanya dengan apresiasi kata-kata, tetapi dengan kompensasi yang setimpal. Sayangnya, di banyak tempat, kompensasi untuk para pendidik seakan menjadi perkara nomor sekian bahkan sering kali dilupakan, karena sudah ada "ikhlas" yang siap dijadikan tameng.

Ironi ini menganga begitu lebar. Kita menaruh harapan setinggi langit kepada para guru untuk mencetak generasi unggul, namun kita tak memberi mereka ruang hidup yang layak di bumi. Kita berharap mereka membakar semangat belajar anak-anak, padahal dapur mereka pun nyaris padam. Kita ingin mereka menjadi suluh, tetapi terus mengurangi minyak dalam pelita mereka. Lalu ketika mereka lelah, kecewa, atau mengeluh, kita tuding: “Kurang ikhlas.” Tidakkah ini bentuk eksploitasi yang dibungkus dengan moralitas?

Sementara itu, sistem pendidikan terus dibebani oleh impian-impian besar, inovasi kurikulum, transformasi digital, peningkatan kualitas, kompetensi global. Tapi semua itu mustahil terwujud jika para pengembannya, para pendidik tak mendapatkan dukungan dasar yang paling mendasar yaitu kesejahteraan. Kita tak mungkin berharap guru mengajarkan tentang dunia, jika ia sendiri tak mampu menembus batas hidupnya sendiri.
Sebagian mungkin berkilah “Tapi bukankah menjadi guru itu pahala besar?”
Tentu. Tapi pahala adalah urusan langit. Dan langit tak pernah mewajibkan manusia menafikan haknya sendiri demi mendapatkan surga. Tuhan tak pernah mengharuskan pengabdian dalam kelaparan. Yang meminta seperti itu justru kita sendiri, manusia, yang sering bersembunyi di balik dalih agama untuk menutupi kelalaian sistem.

Adalah tugas kita masyarakat, pemangku kebijakan, dan lembaga pendidikan untuk membangun ekosistem yang adil bagi para pengajar. Bukan hanya demi mereka, tetapi demi kualitas pendidikan itu sendiri. Guru yang sejahtera akan lebih fokus, lebih sabar, lebih kreatif. Mereka akan hadir bukan hanya secara fisik, tetapi juga dengan seluruh jiwanya.

Ironisnya, seruan agar pengajar tetap ikhlas dan menjadikan pengabdian sebagai ibadah paling mulia justru kerap keluar dari mereka yang turun dari mobil mewah, bersetelan rapi, duduk di ruang berpendingin, menandatangani kebijakan dengan tinta emas sementara para guru harus berjalan kaki menembus hujan, mengajar dengan peralatan usang, dan pulang dengan amplop tipis yang bahkan tak cukup untuk membeli harga sebuah keikhlasan itu sendiri. Betapa timpang panggung ini, yang berseru tentang surga, justru tak pernah mencicipi getirnya menjadi pengabdi yang terus-menerus dipaksa pasrah.

Relasi antara pengajar dan lembaga pendidikan adalah kontrak sosial, bukan perjanjian langit. Ketika kita memaksa mereka untuk ikhlas tanpa menghitung lelahnya, kita sedang mereduksi kemuliaan ilmu menjadi beban tanpa balas. Kita sedang menulis kisah pengabdian dengan tinta pengabaian.

Seringkali, kata "ikhlas" dijadikan selimut untuk menutupi dinginnya kesejahteraan. Seolah-olah gaji layak akan mencemari niat baik. Padahal, justru dengan memberikan kesejahteraan yang memadai, kita sedang membangun pondasi pendidikan yang lebih kokoh. Karena guru yang dihargai akan mengajar dengan lebih tenang, lebih utuh, dan lebih tulus. Bukan karena dipaksa, tapi karena merasa cukup.

Namun jika terus dipaksa bertahan dengan alasan keikhlasan, maka kita sedang menyiapkan keruntuhan sunyi. Mereka mungkin tetap mengajar, tapi dengan hati yang perlahan mengering. Mereka tetap tersenyum, tapi di baliknya ada luka yang diam-diam tumbuh. Dan pendidikan pun hanya jadi rutinitas, bukan pembebasan.

Maka mari kita berhenti memaksa keikhlasan. Biarkan ia menjadi urusan hati, biarkanlah urusan hati itu menjadi wilayah Tuhan. Jangan kita campuri, karena itu bukan kebijakan publik. Tugas kita bukan menuntut pengajar menjadi malaikat, tapi menyediakan ruang yang manusiawi bagi mereka untuk berkarya dan hidup. Karena menghargai guru bukan hanya tentang menyebut mereka sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, tapi tentang keberanian memberi mereka apa yang semestinya menjadi haknya. 

Tugas kita adalah memastikan bahwa kapal pendidikan ini berlayar dengan bekal yang cukup bukan hanya doa, tapi juga penghargaan.
 
Sebab bagaimana mungkin kita berharap mengarungi lautan ilmu, jika nakhodanya terus menerus diminta berlayar dalam perahu bocor, berbekal semangat tanpa sandang, berharap surga tapi hidup dalam kepiluan. Sudah saatnya kita sadar, memuliakan pengajar bukan sekadar pujian manis, tetapi tentang keberanian untuk membayar mereka dengan layak.
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Keikhlasan yang Dipaksa, Pendidikan yang Terluka Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan