Suarakuningan (SK).-
Di sebuah ruang kelas yang mengajarkan tata bahasa dan mengarang, seorang guru meminta murid-muridnya merumuskan makna kritik. Namun yang lahir justru kalimat-kalimat berputar dan bolak balik. Ketika guru menyalahkan mereka karena miskin kosakata dan referensi, para murid memberontak secara menggelitik: mereka tidak pernah diajar berpikir, hanya diajar menghafal. Ironi pendidikan: menekankan struktur tetapi mengabaikan nalar, mengajarkan tata bahasa tetapi lupa membangun keberanian berpikir.
Di tengah generasi yang “rabun” pada sastra namun “nyalang” pada gadget, lahirlah pertanyaan besar: Apakah kesalahan ada pada murid yang tak mampu mengarang, atau pada sistem yang tak pernah mengajarkan mereka merdeka berpikir?
Kegelisahan itulah yang melahirkan pertunjukan seni kolaboratif “Negeri Tanpa Pertanyaan”, sebuah karya yang disajikan dalam Menu Budaya Gembira (MBG) di Gedung Kesenian Raksawacana Kuningan. Pementasan ini tidak sekadar menyuguhkan cerita, tetapi menjadi cermin yang mengajak penonton merenungkan kembali roh pendidikan: apakah ruang kelas hari ini masih memberi tempat bagi rasa ingin tahu?
Naskah ini merupakan tafsir ulang dari puisi “Pelajaran Tata Bahasa dan Mengarang” karya Taufiq Ismail yang sarat kritik sosial sekaligus reflektif terhadap praktik pendidikan. Puisi tersebut dihidupkan kembali melalui perpaduan teater, tari, musik, dan visual yang saling menguatkan, sehingga pesan yang disampaikan terasa dekat, komunikatif, dan relevan dengan realitas pendidikan saat ini.
Para pemeran tampil dengan penuh penghayatan sejak awal hingga akhir pementasan. Narasi dihadirkan oleh dua narator, Kak Ila Kampung Dongeng dan Nita Hernawati, yang tampil bergilir. Puluhan aktor dari berbagai jenjang usia, mulai dari anak usia dini hingga dewasa, berbaur dalam satu panggung, menghadirkan energi kolektif yang hidup. Sosok guru yang diperankan Deni Hamzah tampil tegas dan khas, memperkuat dinamika dramatik. Kehadiran anak-anak asuhan Kiki Katineung menegaskan harapan yang tetap menyala hingga akhir pertunjukan.
Pesan utama disampaikan dengan sederhana namun menghunjam: “Masa depan tak tumbuh dari mulut yang gemetar mengulang kata, melainkan dari suara-suara yang berani bertanya.”
Karya ini digarap secara kolektif oleh lintas komunitas. Bias Lintang Dialog, Ketua Yayasan Sado Aan Sugianto Mas bertindak sebagai Pemimpin Produksi. Penyutradaraan ditangani Roni Sumirat dari Teater Sado dengan Nita Hernawati sebagai asisten sutradara. Manajemen produksi dipegang Tedi Iskandar, sementara Ilham Akbar dari Bukusam bertugas sebagai show manager.
Dari sisi artistik, koreografer Melika Rahmawati mengolah gerak para penari dari komunitas Rineka dan Teater Pecut Dapur Sastra Universitas Kuningan menjadi bahasa visual yang kuat. Tata musik digarap oleh Gugun Gomex bersama Wihendar, dengan dukungan tim pemusik dari EMC² dan Wihendar Lokal Musica, menghadirkan lanskap bunyi yang hidup dan dinamis. Penataan cahaya ditangani oleh tim Dapur Sastra Uniku yang memperkuat suasana visual panggung. Dukungan artistik lainnya mencakup tata rias, kostum, properti, media, serta kru panggung dari berbagai unsur komunitas.
Didukung oleh kerja kolektif lintas komunitas seperti Teater Sado, Aduide Media, Bukusam, Dapur Sastra Universitas Kuningan, Ethnic Music Ciremai Creative, GHC Dance Community, Kampung Dongeng Kuningan, Komunitas Maca, Rineka Sunda, Teater Istunink SMAGAR, Wihendar Local Musica, hingga Yayasan Hibar Budaya Nusantara, pertunjukan ini menjadi wujud kolaborasi yang utuh dan hidup.
Pertunjukan “Negeri Tanpa Pertanyaan” mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan. Pada Jumat, 10 April, pementasan disaksikan sekitar 150 murid SMP dan SMA. Sementara pada Sabtu, sekitar 180 guru dari 43 sekolah jenjang SD, MI, SMP, MTs, MA, hingga SMK di Kabupaten Kuningan turut hadir. Penonton juga berasal dari unsur kepala sekolah, pengawas, serta media partner.
Pada sesi lainnya, pertunjukan turut disaksikan keluarga aktor, tim artistik, dan tim produksi. Pertunjukan ini masih dapat disaksikan hingga 26 April 2026, setiap Jumat, Sabtu, dan Minggu di Gedung Kesenian Raksawacana, Kuningan.
Humas MBG, Edi Supardi, yang juga Ketua Komunitas Teater Sado, menyampaikan, “Pertunjukan ini mengingatkan bahwa belajar tidak cukup hanya menerima materi, tetapi juga perlu memberi ruang bagi lahirnya pertanyaan. Di kelas, anak-anak perlu didorong untuk berani bertanya dengan rasa ingin tahu yang mendalam. Dari situlah logika tumbuh dan kebiasaan berpikir kritis terbentuk. Tugas guru bukan sekadar menyampaikan materi, melainkan membuka jalan agar murid berani mengemukakan gagasan. Pada akhirnya, belajar bukan sekadar menghafal, melainkan melatih cara berpikir dan bernalar.”




0 comments:
Posting Komentar
Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.