Oleh: Yumna
Di tengah kondisi ekonomi yang semakin sulit, persoalan finansial menjadi salah satu tekanan yang dirasakan oleh generasi muda. Lebih dari 48% Gen Z menyatakan bahwa mereka tidak merasa aman secara finansial. Kondisi tersebut tidak terlepas dari meningkatnya biaya hidup dan kebutuhan yang harus dipenuhi, sementara pendapatan yang diperoleh belum tentu mampu mengimbanginya.
Tekanan finansial tersebut seharusnya mendorong seseorang untuk semakin berhati-hati dalam mengalokasikan pendapatan. Namun, di sisi lain, muncul fenomena menarik di kalangan Gen Z. Di tengah tekanan ekonomi, pengeluaran untuk self-reward, healing, hiburan, hingga berbagai bentuk gaya hidup justru tetap dilakukan dan dianggap sebagai kebutuhan emosional, bukan sekadar kemewahan. (kompas.com/12Agustus)
Self-reward dan healing pada dasarnya tidak selalu merupakan sesuatu yang salah. Namun, ketika aktivitas tersebut dilakukan secara berlebihan dan menjadi bagian dari gaya hidup yang harus terus dipenuhi, pengeluaran yang awalnya dianggap sebagai kebutuhan emosional dapat berubah menjadi pola konsumsi yang sulit dikendalikan. Terlebih ketika keputusan tersebut didorong oleh Fear of Missing Out (FOMO), tren di media sosial, dan keinginan untuk mendapatkan pengakuan dari lingkungan.
Sistem Kapitalisme menuntut manusia, termasuk Gen-Z untuk selalu menjadikan harta sebagai patokan kebahagiaan dan prioritas kehidupan, dan dari hal tersebut sistem Kapitalisme menciptakan tekanan ekonomi yang menghimpit para Gen-z. Karena saat ini seluruh biaya hidup yang kita butuhkan semakin hari semakin meningkat sedangkan uang/gaji yang didapatkan tidak mencukupi untuk memenuhinya.
Lebih dari itu, negara juga tidak ikut andil dalam menjamin kebutuhan dasar dari segi pendidikan, kesehatan, kemanan dan yang lainnya yang merupakan tanggungan negara. Dampaknya generasi muda berjuang sendiri dalam memenuhi kebutuhan dasar tersebut. Terlebih lapangan pekerjaan yang harusnya mudah didapatkan, malah sangat sulit untuk didapatkan. Inilah yang menyebabkam Gen-z cemas akan masa depan finansial mereka.
Sisten Kapitalisme juga membawa paham sekuleris-liberalis yang memisahkan agama dari kehidupan untuk membentuk pola pikir dan cara pandang Gen-z terhadap kebahagiaan. Dimana kebahagiaan tersebut dapat mereka capai dengan kebebasan memenuhi keinginan konsumsi mereka. Tak heran lagi jika saat ini Gen-z melakukan apa yang mereka inginkan tanpa batasan dan menormalisasikan kebahagian yang didefinisikan kapitalisme sehingga timbul budaya hedonis.
Salah satu alat yang digunakan untuk menyebarluaskan kehidupan hedonis yang dijadikan sebagai cermin kehidupan Gen-z saat ini yaitu media sosial. Media sosial terus menyuguhkan berbagai tren yang berperan dalam memengaruhi seseorang sehingga mereka merasa harus mengikuti apa yang sedang viral agar mereka tidak merasa tertinggal.
Akibatnya, seseorang dapat membeli sesuatu bukan karena benar-benar membutuhkannya, melainkan karena takut tertinggal, ingin mendapatkan validasi, atau ingin merasakan kepuasan sesaat. Dalam kondisi seperti ini, self-reward dan healing yang awalnya dapat menjadi bentuk istirahat justru berpotensi berubah menjadi alasan untuk terus melakukan konsumsi.
Namun, persoalannya tidak berhenti pada ekonomi dan gaya hidup. Persoalan yang lebih mendasar yaitu krisis tujuan hidup. Ketika kehidupan dipandang hanya dari sisi materi dan kesenangan, kebahagiaan akhirnya mudah diukur dari apa yang dimiliki dan apa yang dapat dikonsumsi. Kesuksesan dinilai dari pendapatan, barang yang dimiliki, tempat yang dikunjungi, atau pengalaman yang dapat ditampilkan kepada orang lain.
Sejatinya, manusia diciptakan tidak hanya untuk mengejar kesenangan dunia. Allah SWT berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Dalam Ayat tersebut telah jelas menunjukkan bahwa tujuan utama manusia adalah beribadah kepada Allah. Karenanya, tatkala tujuan hidup tidak lagi berlandaskan hubungan manusia dengan Allah, orientasi kehidupan dapat bergeser menjadi sekadar mengejar materi, kesenangan, dan pengakuan manusia.
Sistem Islam juga mengatur perilaku konsumsi manusia agar tidak berlebihan dan tidak menjadikan harta sebagai tujuan kehidupan. Allah SWT berfirman:
وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
“Janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”(QS. Al-A'raf: 31)
Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, media juga memiliki peran besar dalam membentuk pola pikir generasi. Karena itu, media dalam sistem Islam diarahkan untuk memberikan informasi dan edukasi yang bermanfaat serta membangun ketakwaan, bukan terus-menerus mendorong masyarakat kepada konsumsi dan gaya hidup hedonis. Dengan lingkungan yang mendukung ketakwaan dan kontrol terhadap konten yang merusak, generasi tidak hanya diajarkan bagaimana memperoleh harta, tetapi juga bagaimana memandang dan menggunakan harta sesuai dengan aturan Allah SWT.
Pada akhirnya, solusi terhadap persoalan Gen Z tidak cukup hanya dengan memberikan pekerjaan atau meningkatkan pendapatan. Generasi juga membutuhkan visi hidup yang benar. Islam membangun paradigma bahwa manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah. Dari paradigma tersebut lahir orientasi kehidupan yang berbeda. Harta bukan lagi tujuan akhir, melainkan sarana untuk menjalankan kehidupan sesuai dengan syariat.
Dengan akidah yang kokoh, generasi muda tidak lagi menjadikan tren, validasi sosial, atau kesenangan materi sebagai ukuran utama kebahagiaan. Mereka diarahkan untuk memiliki tujuan yang lebih besar: menjadi generasi yang bertakwa, produktif, dan berkontribusi dalam membangun peradaban Islam.
Dengan demikian, Islam menawarkan penyelesaian yang tidak hanya menyentuh perilaku individu, tetapi juga membangun sistem ekonomi, sosial, dan politik yang menurut perspektif Islam ditujukan untuk menjamin kesejahteraan rakyat sekaligus menjaga ketakwaan mereka. Namun, ini hanya akan terwujud apabila sistem Islam diterapkan dalam seluruh aspek Kehidupan dalam bingkai daulah Khilafah.
Wallahu'alaam Bishshowwab.








0 comments:
Posting Komentar
Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.