728x90 AdSpace

26 April 2016

Raja yang Terbuang di Kuningan

oleh: Tendy Chaskey 
Penulis adalah Orang Kuningan, Alumnus Intercultural Leadership Camp Programme, Victoria University of Wellington, New Zealand. Saat ini tengah menempuh Program Doktoral.

Suarakuningan.com - Membuang seseorang ke tempat yang jauh dari tempat asalnya karena suatu alasan tertentu (yang biasanya bersifat politis) merupakan strategi pengasingan politik yang telah dilakukan sejak lama, jauh sebelum datangnya orang-orang benua biru ke wilayah Nusantara.

Biasanya, tindakan semacam ini dilakukan oleh para raja, pangeran, atau anggota bangsawan kerajaan. Mereka menculik lawan politiknya untuk mencapai suatu tujuan yang biasanya berhubungan dengan masalah kekuasaan. Saat bangsa Eropa datang dan menguasai sejumlah wilayah di Nusantara, praktik-praktik yang demikian ini menjadi amat marak, terutama yang dilakukan oleh VOC terhadap lawan-lawannya.

Ketika gusti tanah pertiwi telah beralih pada pemerintah kolonial, strategi pembuangan ini menjadi salah satu kebijakan dari exorbitante rechten atau hak-hak istimewa Gubernur Jenderal. Pemimpin Hindia Belanda itu dapat mengasingkan seseorang di dalam wilayah kolonial (interneering) ataupun membuang seseorang ke luar wilayah kolonial (externeering). Melalui hak istimewa ini, praktik pengasingan politik jauh dari prinsip keadilan karena tidak lagi menjadi suatu masalah hukum, melainkan dianggap sebagai masalah administratif semata. Hal itulah yang membuat kegiatan pengasingan para tahanan tidak disertai dengan proses peradilan yang jelas.

Menurut Robert D. Cribb dalam Historical Dictionary of Indonesia yang diterbitkan Scarecrow Press, terdapat sekitar 1150 kasus dengan dasar exorbitante rechten Gubernur Jenderal dalam kurun waktu 1855 hingga 1920. Jumlah kasus yang tentunya bisa dibilang tidak sedikit.

Satu jejak berbentuk makam dari ribuan korban program pengasingan itu terdapat di Sangkanurip, Kuningan. Namanya adalah Jacob Ponto, seorang raja berani yang berasal dari wilayah Siau. Jacob Ponto menjadi Raja Kerajaan Siau setelah kepemimpinan Nicolas Ponto (m. 1839-1850) berakhir, ia terkenal sebagai raja yang gagah berani dan tidak mengenal kata takut. Daigaku dan Sentā melalui Silsilas/Tarsilas (Genealogies) and Historical Narratives in Sarangani Bay and Davao Gulf regions, South Mindanao, Philippines, and Sangihe-Talaud Islands, north Sulawesi, Indonesia, mengungkapkan bahwa Jacob Ponto dikenal sebagai `I tuang su Sirebong' (Tuan Raja di Cirebon) karena ia telah diinternir oleh Belanda ke wilayah administrasi Keresidenan Cirebon, yaitu Sangkanurip Kuningan.




Pada mulanya, kedatangan Belanda sejak pertengahan abad 17 ke tanah kepulauan di Sulawesi utara itu tidak terlalu banyak memberi pengaruh pada Kerajaan Siau dan beberapa kerajaan lainnya. Namun seiring menghilangnya kekuatan Spanyol yang banyak bermitra dengan sekian kerajaan di wilayah itu, Belanda menjadi semakin kuat dan mulai menguasai kerajaan-kerajaan tersebut satu demi satu. Kondisi itu tentunya membuat stabilitas beberapa kerajaan menjadi terganggu, satu di antaranya adalah Kerajaan Siau.

Kondisi itu semakin terasa ketika Belanda melancarkan penetrasinya yang semakin dalam ke Siau pada masa pemerintahan Jacob Ponto di abad ke-19. Belanda meminta Siau untuk menelurkan sejumlah kebijakan yang sangat merendahkan dan memberatkan masyarakat Siau. Menanggapi tuntutan itu, Jacob Ponto tentu menolaknya mentah-mentah. Ia melawan karena tidak menginginkan rakyatnya terbebani oleh sejumlah permintaan yang ditujukan untuk kepentingan bangsa lain.

Dalam Daerah Perbatasan, Keterbatasan, Pembatasan: Kawasan Sangihe-Talaud-Sitaro, Salindeho dan Sombowadile mengungkapkan bahwa perlawanan Jacob Ponto itu terlihat dari tindakannya yang menolak penggantian bendera Kerajaan Siau saka-saka merah putih, yang adalah simbol warna dua dewa daratan dan lautan, oleh bendera Hindia Belanda. Selain itu, ia pula menolak instruksi Belanda yang menginginkan agar Siau menaikkan pajak kepala yang tentunya akan sangat mencekik perekonomian masyarakat.

Sejak merebaknya berita penolakan Raja Siau itu, Belanda mulai menganggap Jacob Ponto sebagai orang yang berbahaya. Akhirnya, pada tahun 1889, Belanda membuang Raja Siau itu ke Cirebon dengan siasat yang amat licik. Wakil Residen Manado memintanya naik ke kapal yang sedang berlabuh di pelabuhan Ulu Siau untuk berunding. Namun saat telah berada di kapal, Raja Jacob Ponto malah ditawan dan diinternir Belanda. 

Di Cirebon, Ponto dibiarkan hidup sederhana. Hal itu diperparah oleh keadaannya di dalam kapal yang amat tidak manusiawi sehingga kemudian membuat ia menderita sakit, yang salah satunya adalah penyakit kulit. Karena itu, Raja Siau ini meminta untuk dipindahkan dari Cirebon ke tempat yang memiliki sumber air panas alami agar dapat menyembuhkan penyakit kulitnya tersebut. Akhirnya, permintaan itu disetujui sehingga ia dapat hidup di Sangkanurip Kuningan.

Sayangnya, proses adaptasi yang kurang baik membuat Jacob Ponto hidup dengan sangat memprihatinkan dan bahkan meninggal dalam keadaan yang amat mengenaskan, mengambang di kolam air panas Sangkanurip. Meskipun pada saat itu warga tidak mengenali identitas Ponto, mereka tetap mencoba memberi pertolongan. Namun, untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, hidup Raja Siau itu ternyata tidak dapat tertolong. Masyarakat pun akhirnya memakamkannya di pemakaman desa meski tak mengetahui asal-usulnya.

Titik terang mengenai identitas Jacob Ponto baru diketahui saat seorang keturunannya yang menelusuri jejak Raja Siau itu pada sekitar tahun 1960-an, yaitu G.D. Ponto, datang dan mengungkapkan bahwa orang yang dimakamkan oleh masyarakat pada tahun 1890 itu adalah seorang Raja Siau yang dibuang oleh Belanda.

Kini, lawan politik Belanda itu memang sudah tidak ada lagi dan hanya meninggalkan namanya pada sebuah nisan yang berangka tahun 1890 di pemakaman umum Dusun Simenyan, sekitar 200 meter arah timur kawasan wisata Sangkanhurip. Meski demikian, semangatnya untuk melawan pelbagai macam tekanan dan campur tangan asing, patut tetap kita resapi dan teladani di dalam kehidupan. Semoga.. (Tendy Chaskey)
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

1 komentar:

  1. Artikel2 kang Tendy sungguh membuat saya merasa seolah bisa memutar mesin waktu untuk kembalike srbuah masa diratusan tahun silam...
    Luar biasa !! Bravo kang Tendy

    BalasHapus

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Raja yang Terbuang di Kuningan Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan