728x90 AdSpace

Update
23 Agustus 2016

Tidak Ada Kemerdekaan



Freedom is never given; it is won. Kata bijak yang diungkapkan oleh A.Philip Randolph tersebut ialah ungkapan bahwa suatu kemerdekaan sejatinya merupakan sebuah perjuangan yang dimaktubkan menjadi kemenangan. Kemenangan atas sacrifice para leluhur kita yang rela mengorbankan hayat yang dikandungnya, jua badan yang mengandung hayatnya demi sebuah kemerdekaan yang hakiki. 

Kemerdekaan yang notabene telah difatwakna oleh PBB menjadi hak setiap bangsa dan negara di dunia ini.  Namun kenyataan tak demikian, bagaimana status quo menggambarkan bahwa PBB dikuasai oleh negara – negara adikuasa yang penuh kepentingan pribadi, kepentingan untuk menguasai resources dunia. 

Menilik kasus Crimea yang diklaim oleh Rusia; atau Laut Tiongkok selatan yang sudah syah secara de facto & de jure milik negara – negara ASEAN seperti filipina, Thailand, Filiphina, Malaysia & Indonesia tetapi tetap diakui paksa oleh Tiongkok; atau juga yang paling panjang kisahnya ialah genosida, perbudakan, & penjajahan Israel atas tanah  Palestina. Dengan demikian masih adakah kemerdekaan yang haq di dunia ini?

Past, Present & Future ialah rentang waktu yang haram hukumnya jika kita tak perhatikan. Sebab, hanya dengan melihat masa lalu (past) bagaimana perang menitik beratkan kepada Senjata, Legitimasi, & Sumber daya alam. Lihatlah ketika Indonesia dijajah sumber dayanya baik alam maupun insan citanya oleh bangsa Portugis, Inggris, Belanda dan Jepang selama ± 350 tahun yang dampaknya dapat terasa hingga sekarang. Atau Nippon yang dibumi hanguskan dengan bom atom oleh negri Paman Sam. Semuanya menggunakan weapon tanpa ampun dan belas nurani untuk mengupayakan kemenangan. 

Sekarang (present) perang beralih bagaimana semua negara dapat menguasai berbagai aspek kehidupan atau yang kita kenal sebagai FFFUN ; Food (Makanan), Fashion (Pakaian), Fun (Gaya Hidup). Semuanya tergilas massive oleh arus globalisasi dunia. Atau bahasa kekinian menamakannya dengan Proxy War yakni perang dengan menggunakan pihak ketiga.

Jadi yang kita lihat tidak akan ada negara yang memerangi satu sama lain secara kasat mata tapi dampaknya sangat berpengaruh besar terhadap perkembangan suatu negara. Istilah tersebut dinamakan non state actor. Lalu apa yang diwaspadai ? realitas sosial lah yang dapat kita lihat dan perhatikan terus menerus. Bagaimana LGBT makin menjadi, Gerakan separatis kian mengikis, aliran kanan/kiri/keras terus makin menjadi kelas, terlebih para pendongeng di tatanan wakil rakyat makin hobby berceritera kebohongan memberi harapan palsu kepada para golongan proletariat atau kaum murba.

Kedepan (future) perang dunia akan lebih mengarah kepada Complicated WAR atau perang kompleks dengan menggunakan Weapon & Proxi. Mengapa demikian? Mengutip perhitungan para ahli yang mengungkapkan bahwa tahun 2060 minyak akan habis, sumber daya alam makin berkurang, jumlah penduduk makin bertambah sedang daya tampung bumi hanya bisa memuat sekitar 10 milyar manusia. 

Ini yang paling berbahaya, jika memang akan terjadi demikian. Dunia madani, dunia penuh kasih sayang yang kita idamkan. Hanya akan jadi mimpi kita di hari kemudian. Masa depan akan lebih nampak seperti De Javu dimana kita merasa seperti sesuatu yang berlangsung telah terjadi sebelumnya. Atau jua mewujud skizofernia yakni kondisi dimana kita terlalu lama berada diruang imajinasi sehingga kita nampak sulit membedakan mana riil mana imaji. 

Menilik kamus bahasa Indonesia (KBBI) makna lama merdeka ialah terlepas dari penghambaan, penjajahan, berdiri sendiri dan bebas. Semua makna tersebut mengungkapkan bahwa merdeka itu tidak terikat oleh apapun. Pertanyaannya, sudahkah Indonesia bebas? Atau merasakah kita ini bebas? Apa yang dimaksud bebas jika kita masih bergantung beras kepada Thailand padahal kita negara agraris? Apa yang dinamakan berdiri sendiri jika kita masih membeli garam dari Vietnam padahal kita negara maritim? Apa yang dinamakan merdeka jika kita masih berhutang triliunan uang kepada amerika dan konco – konconya? Apa yang dinisbatkan tidak terikat jika teknologi dan  transportasi sangat didominasi oleh negeri mata sipit? Inikah yang dimaksud merdeka? 

Soekarno pernah berkata dengan penuh gegap gempita bahwa “Perdjoeangan kalian lebih berat, sebab yang kalian hadapi adalah perang melawan bangsa sendiri”. Sejujurnya tak akan ada impor beras, garam, teknologi, transportasi, hutang dll jika tampuk kekuasaan di Negara ini dipimpin dengan benar bukan dipolitisir. Pada dasarnya politik juga sebuah cabang ilmu yang patut kita pelajari demi mengelola suatu bangsa. 

Tapi kenyataannya, politik dijadikan alat kekuasaan untuk menguasai apa yang tak seharusnya dikuasa. Terlebih, menyalah gunakan wewenang demi kepentingan politik. Benar adanya ungkapan filsuf barat “politics is not dirty, but politician makes it dirty”. Inilah yang saya tekankan tidak ada kemerdekaan yang hakiki di negara ini selama para polotikus bertindak seperti tikus. 

Jikalau dulu korupsi itu dilakukan dibawah meja dan sembunyi – sembunyi. Sekarang korupsi itu dilakukan di atas meja dan secara berjamaah alias sistematis dan bersama – sama. Sebab sangat mustahil jika korupsi dilakukan seorang diri. Resistensi akan terungkap dan diungkapnya sangat jelas tinggi oleh lembaga tinggi anti rasuah, polri dsb.

Fakta lain negara ini belum merdeka ialah bagaimana perang melawan suatu yang tidak benar dewasa ini makin menjadi, menggurita dan kasat mata. Masih ingat bagaimana para pimpinan KPK dikriminalisasikan ? dari mulai Antasari azhar yang dikaitkan dengan sengketa nona belia, Abraham Samad dengan dugaan kelam rekam jejak masa lalunya sebagai pengacara, atau juga Bambang Widjayanto yang sedang mengantar anak sekolah ditangkap tanpa ada peringatan/panggilan terlebih dahulu seperti menangkap dedengkot teroris, terakhir penyidik kelas kakap yang kapasitasnya tak bisa diragukan lagi Novel Baswedan yang dikotori dengan serpihan kasus masa lalu yang sama sekali tak lazim untuk diungkap dan disorot ulang.

Inilah tedeng aling – aling, yang membuat negara ini benar – benar belum merdeka, belum lagi kasus – kasus menyentuh yang kita akan nampak keheranan mengamatinya.Seorang Guru yang diistirahatkan dihotel prodeo karena mencubit muridnya; seorang panutan yang dihajar babak belur bersimbah darah karena menghukum anak asuhnya; atau juga aktivis kemanusiaan yang jelas – jelas telah dibunuh secara terencana namun tidak diusut kasusnya. 

Seharusnya harapan cerah patut dialamatkan pada golongan kaum Muda yang (katanya) tulang punggung bangsa. Tapi kembali, para aktivis – aktivis mahasiswa telah dicokoki prgamatisme tingkat dewa, disunat keberanianya dengan lembaran merah rupiah, digugurkan rasa pahlawanya dengan perjanjian kursi panas. Inilah yang terjadi sekarang. Si merah jadi underbownya kerbau, si biru jadi sangat keras melihat perbedaan fikroh religi, Si hijau nampak mesra berdiaspora dengan berbagai elite penguasa yang sarat politis. 

Nampaknya bendera yang dikibarkan nanti lebih cocok untuk berkibar setengah tiang demi menghormati, menghargai pahlawan – pahlawan bangsa di masa lalu, untuk berkabung menyaksikan kenyataan yang nampak tak nyata karena kedzoliman yang terang benderang, dan guna merasakan pedihnya harga diri di injak – injak oleh kaum Ambtenaar  demi pemuas hasrat berkedok benar. Dengan ini semua saya katakan Tidak Ada Kemerdekaan.

Penulis    : Putri Jianti 
(HMI Komisariat Syariah Cabang Cirebon - IAIN SYEKHNURJATI CIREBON)
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Tidak Ada Kemerdekaan Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan