728x90 AdSpace

Update
31 Oktober 2016

Merokok Mati Tak Merokok Juga Mati, Mending Merokok Sampai Mati?


Benarkah Pernyataan Tersebut?

Oleh : Andri Muhyar

Rokok? Siapa yang tak mengenal barang yang satu ini, barang yang merupakan “magnet” karena “Sang Rokok” ini telah memikat jutaan hati para penggemarnya dengan daya adiksinya yang sangat kuat; di dalam rokok terdapat zat nikotin yang bisa menyebabkan seseorang kecanduan.

Menurut Wikipedia, rokok adalah silinder dari kertas berukuran panjang antara 70 hingga 120 mm (bervariasi tergantung negara) dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah. Rokok dibakar pada salah satu ujungnya dan dibiarkan membara agar asapnya dapat dihirup lewat mulut pada ujung lainnya

Lantas kenapa dengan rokok? Ada masalah apa? Kita bisa berkata “Tidak kok semua berjalan baik-baik saja!” (sama seperti ungkapan bohong seseorang saat menyembunyikan perasaannya hahaha) ah ngomong apaan sih? Entahlah mungkin hanya kode perasaan saja, abaikanlah he he.

Sebatang rokok ini tak sulit untuk kita jumpai dimana saja, rokok biasanya dijual dalam bungkusan berbentuk kotak atau kemasan kertas yang dapat dimasukkan dengan mudah ke dalam kantong maupun saku. 

Sejak beberapa tahun terakhir bungkusan-bungkusan rokok tersebut juga umumnya sudah disertai dengan pesan kesehatan dan gambar-gambar yang “mengerikan” yaitu dampak buruk akibat dari rokok dengan tujuan untuk memperingatkan perokok akan bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan misalnya kanker paru-paru, serangan jantung, impotensi, gangguan janin, gangguan kehamilan dan masalah-masalah kesehatan lainnya (walaupun pada kenyataannya itu hanya tinggal hiasan semata, jarang sekali dipatuhi).

Tidaklah begitu sulit mendapatkan sebatang rokok di negara tercinta Indonesia kita ini.  Cukup dengan modal uang kurang lebih Rp. 2.000 saja kita sudah dapat menikmati sebatang rokok dengan merk tertentu, sementara harga perbungkusnya bisa didapat dengan uang kira-kira hanya Rp 20,000 saja di warung-warung, toko kelontongan, dan di tempat penjualan lainnya.

Kalau boleh sedikit curhat, keluarga penulis sendiri juga rata-rata adalah seorang perokok aktif. Begitu juga dengan teman-teman penulis. Dan yang lebih memprihatinkan lagi, Indonesia  merupakan peringkat ke-3 terbanyak jumlah perokoknya di dunia. Indonesia hanya kalah dari negara negara Tiongkok di peringkat dua dan India di peringkat satu  (Itu menurut sumber yang didapatkan penulis pada saat mengikuti seminar nasional beberapa hari yang lalu di Kuningan dan masih sangat anget).

Sepertinya faktor jumlah penduduk sangat mempengaruhi disini, karena kita tahu Tiongkok, India serta Indonesia merupakan 3 negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia. Penulis sendiri sangat tidak bangga dengan posisi Indonesia sebagai negara perokok terbanyak ke-3 di dunia tersebut. Penulis sangat berharap jumlah perokok di Indonesia dapat berkurang.

Banyak anggapan bahwa rokok dapat meningkatkan kegantengan dan kejantanan seseorang terutama pria (Lho bukannya sebaliknya ya, malah dapat menimbulkan impoten dikemudian hari, wah ini sangat bahaya nih bagi kaum pria) dan ada juga yang bilang bahwa kalau tidak merokok tidak gaul lah, cupu lah, culun lah, inilah, itulah.

Ada juga ungkapan ungkapan dalam bahasa Sunda seperti: “Ah maneh mah teu ngaroko lah teu gaul..” ada juga yang rada lucu seperti ini “ngaroko atuh bray da lain di pom bensin ieu teh..” dan dari dalam hati saya bergumam “Ah kumaha maneh welah nu penting maneh senang hahaha..”, itu berdasarkan celetukkan-celetukkan nyata teman-teman penulis yang kebanyakan adalah seorang perokok aktif.

Terus benarkah demikian dengan pernyataan nada-nada “celetukkan” tersebut? Ah itu mungkin hak mereka untuk beranggapan bahwa anggapan mereka itu benar, namun mungkin tidak bagi sebagian orang termasuk penulis sendiri yang agak “terganggu” dengan klaim-klaim seperti itu. Kebetulan penulis bukanlah seorang perokok aktif namun lebih ke perokok pasif yang sama-sama bahayanya.

Perokok aktif menurut penulis adalah mereka yang telah terbiasa dan nyata menghisap rokok dan menanggung sendiri akibatnya. Mereka bisa menghabiskan sampai 1 bungkus rokok perhari --bahkan mungkin lebih. (Kebayang berapa uang yang harus dikeluarkan tiap harinya hanya demi sebungkus rokok belum dikalikan perbulannya, coba kalau uang tersebut ditabung dan disedekahkan mungkin akan jauh lebih bermanfaat).

Selanjutnya adalah perokok pasif yaitu mereka yang sebenarnya tidak merokok namun karena ada orang lain yang merokok didekatnya maka ia mau tidak mau terpaksa harus ikut menghisap asap rokok tersebut tentu dengan segala akibat dan dampak bahaya yang ditimbulkannya.

Konon katanya si “perokok pasif” ini jauh lebih berisiko berbahaya ketimbang si perokok aktifnya itu sendiri, maka dari itu penulis sangat menyarankan bagi para perokok pasif yang tidak merokok apabila didekatnya ada orang yang merokok maka lebih baik dihindari saja dengan cara yang baik-baik dengan tidak  menyinggung perasaan orang yang merokok tersebut.

Kita tahu adalah haknya seseorang untuk merokok sementara di lain sisi hak kita juga bagi perokok pasif untuk mendapatkan udara yang bersih dan sehat terbebas dari polusi asap rokok.

Anggapan lainnya yang sangat super dan tidak kalah nyeleneh dari celetukkan-celetukkan di atas yang penulis dapat dari seorang teman perokok aktif ketika disinggung tentang rokok dan bahaya rokok bagi kesehatan ada yang beranggapan bahwa: “kalau merokok akan mati tidak merokok juga sama akan mati, mending merokok aja sampai matiiiiiiiii”. Begitu katanya. Lah itu bagaimana urusannya ya? Penulis sendiri rada kurang paham akan arti dari kata-kata “super” tersebut.

Kalau anggapannya memang seperti itu lantas kenapa tidak dari sekarang aja kalau memang mau mati tidak perlu repot-repot menunggu dampak bahaya dari rokok tersebut untuk mati, ya setidaknya apabila tidak merokok mungkin akan jauh lebih “sejahtera”. Sudah jelas dunia ini pun mengakui bahwa rokok itu sangat berbahaya bagi jiwa dan kesehatan seseorang tidak perlu repot-repot juga jadi pecandu rokok hanya untuk menunggu sampai ajal menjemput hanya karena bisa “bersembunyi” dibalik kata-kata yang mereka anggap suci.

Kita tahu di dalam rokok terdapat zat-zat yang sangat bebahaya seperti zat nikotin yang dapat mengakibatkan kecanduan dan ketagihan untuk merokok, terus ada zat tar yaitu bahan dasar yang digunakan untuk pembuatan aspal yang dapat menempel pada paru-paru dan bisa menimbulkan iritasi bahkan kanker.

Penulis kadang membayangkan bila zat bahan aspal yang biasa kita hirup dalam sebatang rokok terus menempel di paru-paru bisa-bisa paru-paru kita jadi kayak aspal curah seperti di jalan-jalan raya hehehe.

Zat-zat berbahaya lainnya adalah karbon monoksida yang bisa menimbulkan penyakit jantung karena gas ini bisa mengikat oksigen dalam tubuh, zat karsinogen berpotensi memicu pertumbuhan sel kanker dalam tubuh, iihhh ngeri ya, belum zat lainnya lagi semisal iritan yang dapat mengotori saluran udara dan kantung udara dalam paru-paru serta dapat menyebabkan batuk.

Selain itu masih banyak zat-zat berbahaya lainnya yang terdapat dalam sebatang rokok tadi, woow mengerikan bukan dampak-dampak berbahaya yang ditimbulkan rokok, oleh karenanya dari sekarang mari kita hindari atau bahkan berhenti untuk merokok

Penulis yakin, meskipun agak sulit untuk berhenti merokok tapi kalau dengan niat yang sungguh-sungguh dan memulainya dengan cara bertahap maka Insya Allah kedepannya niat untuk berhenti merokok tersebut bisa terwujud.

Menurut agama Islam pun merokok tidaklah membawa manfaat yang signifikan bahkan mungkin tidak ada manfaatnya sama sekali. Justru yang ada dikemudian hari adalah potensi sakit-sakitan yang akan dirasakan. Bagaimanapun yang jelas merokok banyak makruhnya dan yang paling utama penyakit-penyakit kronik siap menanti secara perlahan-lahan dan itu tentu saja sangat merugikan kita semua baik dari segi ekonomi maupun juga kesehatan.

Penulis adalah Mahasiswa Semester 7 Jurusan Kesehatan Masyarakat,  Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kuningan (STIKKU)
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Merokok Mati Tak Merokok Juga Mati, Mending Merokok Sampai Mati? Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan