728x90 AdSpace

Update
11 April 2018

Bagus Jaka: Cirebon, Cibingbin, dan Andamui? (Bagian 2)

Oleh: T. Chaskey
Divisi Senja Merah Komunitas SAUNG INDUNG

Sebelumnya: Bagus Jaka: Cirebon, Cibingbin, dan Andamui? (Bagian 1)

“Kalau begitu .... kau adalah anakku, Bagus Jaka,” Girilaya memandang Bagus Jaka seolah tidak percaya bahwa anaknya ini telah dewasa dan berubah menjadi sosok yang amat gagah.

“Maafkan ayahanda yang meninggalkanmu sejak kecil, aku mesti kembali ke tanah Caruban dan mengemban amanah sebagai pemimpin negeri ini.”

“Iya tidak apa-apa ayahanda. Ibu sudah menceritakan semuanya, ananda mengerti,” Bagus Jaka memahami kondisi yang membuat ayahnya itu mesti pergi dari Cibingbin dan meninggalkan dirinya serta ibunya.

“Tapi, apakah kau benar-benar akan menghadapi Adipati Tandakodur, anakku? Ayah sangat mengkhawatirkanmu, baru saja kita bisa bertemu,” tanya sang panembahan terhadap pemuda di depannya.

Bagus Jaka menjawab kekhawatiran ayahnya itu dengan senyuman, seraya bergumam, “Iya ayah, aku sanggup. Kita harus bisa membela harga diri bangsa kita.”
***

Tekad bulat Bagus Jaka untuk menghadapi Adipati Tandakodur sudah tidak dapat diganggu gugat lagi, bahkan oleh ayahnya sekalipun. Ia pun segera berangkat ke medan laga meski hanya seorang diri. Ratu Cirebon sebenarnya sudah menawarkan pasukan-pasukan terbaiknya untuk mengiringi dan menemani Bagus Jaka ke Losari, namun ternyata sang putra Cibingbin menolak hal itu dengan halus. Ia tidak ingin merepotkan banyak orang.

Sesampainya di Losari, tempat mukim sang adipati Mataram bersama wadya bala-nya, Bagus Jaka langsung mengutarakan maksudnya kepada penjaga kemah. “Saya Bagus Jaka dari Cirebon. Saya ingin bertemu dengan Adipati Tandakodur dan menghadapinya,” sebut Bagus Jaka saat itu.
Mendengar ungkapan itu datang dari seorang pemuda yang dianggap masih bau kencur dan belum tahu apa-apa, para pengawal sang adipati pun tertawa terbahak-bahak. Para pasukan Mataram yang mendengar suara gaduh di depan pintu kemah pun langsung berdatangan dan mengerumuni Bagus Jaka sembari menertawainya.

Alih-alih gentar dan ketakutan, Bagus Jaka justru malah ikut tertawa terbahak-bahak bersama para tentara Mataram itu. Kerumunan pasukan perang itu pun keheranan, sehingga kemudian salah seorang pemimpinnya berseloroh, “Hey anak muda, seharusnya kamu takut dengan gertakan kami dan segera pergi dari sini. Bukan malah ikut tertawa seakan kami ini bukan apa-apa.”

“Justru itu, aku berharap bertemu dengan ksatria-ksatria besar yang dapat menghargai lawannya. Namun ternyata aku malah bertemu kalian, yang perilakunya sama sekali tidak mencerminkan jiwa kesatria,” jawab Bagus Jaka sambil terkekeh-kekeh.

Mendengar hal itu, kepala pengawal kemah pasukan Mataram pun mukanya langsung memerah dan naik pitam. Ia mendekati si pemuda dan mencoba menarik pedang dari sarungnya. Namun belum juga keluar secara sempurna pedang itu, dari sisi dalam kemah terdengar suara tegas yang menggetarkan sang pengawal, “Pengawal, hentikan semua itu. Aku akan segera keluar!”.

Dari belakang sekumpulan pasukan Mataram ini, keluarlah seorang lelaki berperawakan tegap dan bermata tajam. Otot besar dan sejumlah luka yang tidak sepenuhnya hilang dari tubuhnya menunjukkan bahwa ia bukanlah orang sembarangan, ia orang yang sangat berpengalaman.

“Aku dengar keberaniamnu untuk menantangku, anak muda. Tapi jujur, aku sungguh tidak habis pikir kenapa Cirebon malah mendatangkan seorang anak yang tidak tahu apa-apa untuk melawanku. Mungkin itu adalah bentuk rasa frustasi mereka, hehehe..” Tandakodur meremehkan Bagus Jaka.
Hal itu segera dijawab ketus oleh Bagus Jaka, “Justru aku menyangka bahwa engkau dan pasukanmu lah yang merasa frustasi karena dari tadi hanya meremehkanku tanpa sekalipun berani menyentuhku.”

Ucapan itu ternyata menyulut amarah Tandakodur, ia pun langsung merangsek ke depan Bagus Jaka dan melancarkan pukulan-pukulan mautnya. Dengan tenang, sang pemuda dapat menahan setiap serangan yang dilancarkan oleh si panglima besar. Tidak ada pukulan sang adipati Mataram yang mengenainya.

Mendapati orang yang dihadapinya bisa menghindari semua jurus dan serangan yang dilakukan, maka Tandakodur pun langsung mengangkat pedang pusaka andalannya agar bisa segera mengakhiri duel ini. Dengan jelas terlihat bahwa ia tidak ingin kehilangan muka di depan pasukan-pasukannya. “Aku tidak akan main-main lagi, terimalah serangan pedang pusakaku ini, Bagus Jaka!!!!”

Tandakodur menerjang ke arah Bagus Jaka. Pedang pusaka yang tajam itu benar-benar terhunus ke tubuh sang pemuda. Jaraknya sangat dekat, tak mungkin ia dapat menghindarinya. Dan, “Sriiiiiiing, sriiiiiiing, sriiiiiiiing,” ternyata pedang itu seakan menembus angin!

Bagus Jaka terlihat seperti tidak merasakan apa-apa, ia tetap berdiri di depannya. Melihat hal itu, Tandakodur pun langsung mengayunkan kembali pedangnya ke arah si pemuda. Lawannya itu tidak sedikitpun berusaha menghindar, ia hanya berdiri seolah menantang Tandakodur.

Alih-alih melemahkan dan kemudian membunuh Bagus Jaka, setiap sabetan pedang yang menerjang Bagus Jaka ternyata malah semakin membuat pemuda itu terlihat semakin sakti. Setiap tebasan pedang yang mengenai tubuhnya, malah membuat ia semakin membesar. Dalam jangka waktu tertentu, ia pun sudah seperti seorang raksasa. Tidak hanya Tandakodur yang keheranan, namun juga seluruh pasukannya yang semakin menjauh dari medan laga itu.

Ketika Tandakodur kembali menghunuskan pedangnya ke kaki Bagus Jaka yang sudah membesar itu, tangan raksasa si pemuda sudah dapat meraih tubuh sang panglima. Pedangnya pun terlepas entah kemana, dan tubuhnya digenggam dengan mudah. Tandakodur tidak dapat berbuat apa-apa, ia hanya bisa meringis kesakitan karena tubuhnya seolah remuk berada dalam sebuah tangan besar yang tidak bisa ia lepaskan. Pasukan Mataram lainnya yang menonton adu laga itu, tidak berani turut serta melawan si pemuda yang telah menjadi raksasa. Mereka hanya memperhatikan nasib panglimanya.

“Hei Tandakodur, kami orang Cirebon tidak mau melakukan peperangan dengan Mataram atau siapapun. Oleh karena itu, baiknya kalian jangan pernah mengganggu kami lagi disini. Sebagai orang yang berjiwa ksatria, aku juga tak akan membunuhmu yang sudah tidak berdaya ini,” ucap Bagus Jaka kepada orang yang tengah merintih kesakitan di dalam kepalan tangannya. Pemuda itu melepaskan Adipati Tandakodur dari genggaman tangannya, dan ia akan kembali ke Cirebon.

Namun sebelum ia pergi, Adipati Tandakodur kembali memanggil Bagus Jaka dan berbicara kepadanya sambil membawa kuda tunggangannya, “Aku salut pada jiwa ksatriamu anak muda. Namun sebelum aku pergi dan melaporkan hal ini kepada Susuhunan Mataram, aku ingin sekali meminta tanda darimu yang berhasil mengalahkanku di dalam kuda ini.”

Sesama ksatria, Bagus Jaka menerima tulus permintaan lawannya itu. Ia meletakkan tangannya di salah satu bagian kuda itu, dan sekonyong-konyong terlihat jelas bekas telapak tangan Bagus Jaka disana.

“Aku akan selalu mengingat TANDAMU INI, anak muda,” ucap Tandakodur yang kemudian membawa kembali pasukannya ke Mataram dari Losari.
***

Sejak peristiwa itu, Bagus Jaka dikenal sebagai Ki Tandamuhi yang berasal dari kata-kata yang dikatakan oleh Adipati Tandakodur. Di beberapa naskah, Ki Tandamuhi dinarasikan sebagai orang yang sangat sakti, dan bahkan pernah melakukan huru hara di Mataram, bersama Ki Jagasatru, dan lainnya.

Meskipun Bagus Jaka dewasa, yang telah dapat membuktikkan siapa dirinya itu dan berubah menjadi Ki Tandamuhi, sering pulang pergi Cibingbin-Cirebon dalam kurun waktu tertentu, ternyata beberapa makam-nya yang masih terlacak terdapat di wilayah Cirebon, di antaranya di Kejawanan dan Jamblang.

Jika Bagus Jaka dengan Cirebon dan Cibingbin sudah jelas terlihat hubungannya, lalu apa yang mengaitkannya dengan nama Andamui yang merupakan sebuah desa di Ciwaru, Kuningan, itu? Sekilas, dari nama dan penyebutan, keduanya memiliki kemiripan. Bukan tidak mungkin, setelah mendapat gelar Ki Tandamuhi, Bagus Jaka dianugerahi tanah yang sangat luas oleh Cirebon di sebelah tenggara Luragung. Dan sekarang, tanah itu adalah Andamui, yang berasal dari nama Ki Tandamuhi.
Wallahu’alam bishowab..

Tamat

Note:
Uraian kisah ini disarikan dari obrolan penulis dengan sejarah dan budayawan Cirebon, Dr. R. Opan S. Hasyim, M.Hum.
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Bagus Jaka: Cirebon, Cibingbin, dan Andamui? (Bagian 2) Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan