728x90 AdSpace

Update
12 April 2018

Tari Tetenong Dan Goong Renteng Jadi Simbol Hajat Bumi Desa Cikeleng

suarakuningan.com – Acara babarit atau hajat bumi merupakan upacara adat sebagai bentuk ungkapan rasa syukur atas melimpahnya hasil panen yang prosesinya hingga saat ini senantiasa diperingati masyarakat beberapa desa di Kabupaten Kuningan.

Namun, meskipun esensinya sama, tetapi tiap desa yang menggelar budaya warisan leluhur itu memiliki ciri khas masing – masing, seperti beberapa tempat yang terletak di Kecamatan Cilimus, meskipun mereka berada di tatar Pasundan, tetapi saat melangsungkan babarit, puncak acaranya ditutup dengan pagelaran wayang kulit.

Berbeda dengan desa desa yang berada di wilayah Cilimus, di Desa Cikeleng, Kecamatan Japara, tampak lebih menonjolkan kesenian khas desa mereka yang menjadi sarana hiburan masyarakat, yakni kesenian goong renteng, dan tari tetenong, ditambah satu kebiasaan turun temurun menyembelih satu ekor kerbau, dimana dagingnya harus dibagikan rata ke setiap rumah warga.

Dijelaskan Rohendi Kepala Desa Cikeleng, bahwa perhelatan hajat bumi pertama kali dilakukan tatkala nenek moyang desa terluas di Kabupaten Kuningan ini mengalami musibah gagal panen, kemudian mereka bermusyawarah, serta bermunajat kepada sang Khalik memohon pertolongan, seraya mengikrarkan janji jika panen pada musim selanjutnya berhasil, mereka akan melakukan pesta syukuran babarit.

“Munajat dan ikrar sesepuh kami tersebut dilakukan tempat yang hingga saat ini disakralkan di desa kami, serta menjadi lokasi acara puncak perhelatan upacara adat hajat bumi, yakni makam keramat Rama Buyut,” terang Rohendi.

Jadi, kata dia, kebiasaan menggelar upacara adat hajat bumi merupakan tradisi turun temurun yang diwariskan sejak zaman nenek moyang, sebagai bentuk penepatan janji, sekaligus perwujudan rasa syukur kepada Allah SWT, setelah para petani melaksanakan panen.

Rohendi menuturkan, prosesinya sendiri dimulai pada malam sebelum dilaksanakannya gelaran hajat bumi, seluruh masyarakat mengadakan kenduri Tahlilan, dan bersama membacakan Al Quran surat Yasin di makam keramat Rama Buyut yang memiliki luas tanah sekitar 1,5 heltar, dilanjutkan penyembelihan hewan kerbau, seusai melaksanakan ibadah shalat Subuh.

Saat matahari mulai terang, sambung Rohendi, rangkaian upacara adat dimulai dengan pementasan goong renteng, dan tarian tetenong (tempat menyimpan lauk pauk teman nasi zaman dahulu) yang berfungsi sebagai sarana menghibur masyarakat, juga menyambut kehadiran para tamu dari luar daerah, atau para pemimpin dari kecamatan dan kabupaten.

“Kedua jenis kesenian ini, yakni tari tetenong dan goong renteng merupakan kekayaan budaya asli milik Desa Cikeleng. Terutama goong renteng, dimana gamelannya sendiri merupakan hadiah dari Keraton Kasepuhan Cirebon pada zaman para wali, dengan bahan asli dari perunggu hitam, dimana ditabuhnya hanya diperbolehkan pada waktu waktu tertentu, dan para penabuhnya juga harus khusus dari para keturunan keraton yang saat ini berada di Kampung Kalapa Ciung, Blok Wage, Desa Cikeleng,” kata Rohendi.

Usia tampilan goong renteng dan tari tetenong, seluruh masyarakat, juga para tamu berkumpul di makam keramat Rama Buyut, untuk makan bersama secara lesehan, dengan nasi dan lauk pauk hasil patungan masyarakat, serta diakhiri dengan pembagian daging kerbau kepada setiap kepala keluarga, dimana para penerima mendapakan daging seanting (daging diiris kecil dengan diameter kurang lebih 8 cm dan diikat tali dari bambu).

“Sudah sejak zaman pendahulu hewan yang disembelih dan dibagikan pada warga adalah kerbau, karena konon katanya, pernah satu saat diganti dengan kambing, malah terjadi musibah, dimana kerbau milik petani Cikeleng tiba tiba terperosok ke tanah yang tiba tiba amblas saat tengah membajak,” tuturnya.

Namun, Rohendi menegaskan, jika sebenarnya pemakaian daging kerbau karena hewan tersebut berukuran besar, sehingga saat dipotong, meskipun cuma satu ekor bisa mencukupi untuk seluruh warga desa, dibanding domba, dan hewan itu juga banyak dipelihara masyarakat Cikeleng, disamping itu, di zaman nenek moyang daging sapi belum populer.(Yud/red)
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Tari Tetenong Dan Goong Renteng Jadi Simbol Hajat Bumi Desa Cikeleng Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan