SuaraKuningan (SK).-
Film Mulih karya Bonti Cinema Kuningan membuktikan bahwa kedalaman gagasan tak selalu menuntut perangkat produksi besar. Dengan pendekatan visual puitis, simbolisme kuat, dan bahasa sinematik yang matang, film ini layak menyabet Juara 3 FLS2N 2025 dan Film Terbaik Kategori Pelajar Festival Film Pendek TVRI Jabar 2025. Kemenangan itu bukan semata-mata soal teknis, tetapi tentang bagaimana Mulih berhasil membangun refleksi sosial dengan kesederhanaan yang terukur dan ketepatan naratif yang jarang terlihat di level pelajar.
Sejak adegan pembuka—tangan Raka yang muncul dari tanah kering, menghempaskan sepotong singkong—penonton langsung digiring masuk ke dunia metafor. Bonti Cinema tidak sekadar menyusun cerita; mereka merancang pengalaman visual. Komposisi hutan jati, warna senja yang muram, serta gerak kamera yang membingkai kondisi psikologis Raka yang tertekan dan terus merasa dikejar, baik oleh sesuatu di luar dirinya maupun oleh ketakutan batinnya sendiri. Ini memperlihatkan kematangan visi penyutradaraan. Transisinya ke rumah tua—yang asing namun familiar—menjadi pintu menuju ruang-ruang imajinasi yang mengkritik struktu sosial secara halus namun tegas.
Bagian terkuat film ini adalah serangkaian ruang abstrak yang ditampilkan dalam format one take: empat orang dengan wajah rata yang menerima jatah roti tak seimbang, dua manusia yang makan dalam ketimpangan ekstrem, poster janji yang selalu jatuh, dan sajian serabi yang ternyata hanya pisang. Semua terbangun sebagai alegori tentang ketimpangan, janji-janji kosong, dan kegagalan kebersamaan. Simbol-simbol ini tampil jelas, lugas, namun tidak menggurui—sebuah kemampuan bercerita yang tidak mudah dicapai oleh pembuat film muda.
Secara tematik, Mulih menawarkan perjalanan kembali ke jati diri. Adegan ketika Raka memakai iket Sunda dan memainkan karinding menjadi momen kultural yang penting. Dalam kesunyian, film ini mengembalikan identitas Sunda sebagai fondasi moral dan spiritual. Ketika suara karinding menandai kebangkitan Raka, film ini seolah menegaskan bahwa kembali kepada akar budaya adalah jalan pulang yang paling terang.
Dari sisi teknis, Mulih menonjol lewat penggunaan cahaya rendah (Low Key) dan komposisi simetris yang konsisten. Teknik fade in dan fade out dipakai bukan sebagai ornamentasi, tetapi sebagai struktur ritmis yang memandu emosi. Penataan artistik yang minimalis namun efektif memperlihatkan penguasaan terhadap estetika visual storytelling. Bahkan tanpa dialog, film ini mampu berbicara lantang melalui simbol, gerak, dan ruang.
Di penghujung film, ketika Raka terbangun dan menatap buku yang berjudul “Rumah Ini Punya Siapa” kemudian nilai-nilai Panca Waluya terpampang didinding kamar, membuat pesan yang hendak disampaikan menjadi penuh: kembali pada “jati”—baik jati diri maupun jati budaya—adalah kunci untuk membaca masa depan.
Dengan kematangan konseptual, kepekaan visual, serta kemampuan meramu kritik sosial ke dalam bingkai budaya lokal, Mulih tampil sebagai karya yang tidak hanya kuat di festival pelajar, tetapi juga layak diperhitungkan dalam lingkup yang lebih luas. Di tangan Bonti Cinema, film ini berubah menjadi ruang kontemplasi yang segar, jujur, dan relevan. Tidak berlebihan jika Mulih dianggap sebagai salah satu capaian penting sinema pelajar Jawa Barat tahun 2025.









0 comments:
Posting Komentar
Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.