728x90 AdSpace

Update
2 Mei 2018

Artikel: Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal


Drs. Dodo Suwondo, M.Si. 
(Dosen, Budayawan, Seniman dan ASN di Dinas Dikbud Kabupaten Kuningan)

suarakuningan.com - Berbagai fenomena sosial yang muncul akhir-akhir ini pun cukup mengkhawatirkan. Fenomena kekerasan dalam menyelesaikan masalah menjadi hal yang umum. Pemaksaan kebijakan terjadi hampir pada setiap level institusi. Manipulasi informasi menjadi hal yang lumrah. Penekanan dan pemaksaan kehendak satu kelompok terhadap kelompok lain dianggap biasa. Hukum begitu jeli pada kesalahan tetapi buta pada keadilan.

Tampaknya karakter masyarakat Indonesia yang santun dalam berperilaku, musyawarah mufakat dalam menyelesaikan masalah, local wisdom yang kaya dengan pluralitas, toleransi dan gotong royong, telah berubah wujud menjadi hegemoni kelompok-kelompok baru yang saling mengalahkan.

Hubungan antar manusia yang dulu dapat saling menghargai, saling menghormati, dan saling mengasihi telah hilang ditelan peradaban baru. Begitupun hubungan manusia dengan alam telah sedemikian kacau. Apakah kearifan lokal yang kita miliki seolah telah punah, dan hilang fungsinya dalam membentuk karakter di masyarakat? Inilah yang perlu kita temukan jawabannya.

Kearifan lokal adalah pandangan hidup dan ilmu pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan mereka. Dalam bahasa asing sering juga dikonsepsikan sebagai kebijakan setempat “local wisdom” atau pengetahuan setempat “local knowledge” atau kecerdasan setempat “local genious”.

Menurut Rahyono, kearifan lokal merupakan kecerdasan manusia yang dimiliki oleh kelompok etnis tertentu yang diperoleh melalui pengalaman masyarakat1. Artinya, kearifan lokal adalah hasil dari masyarakat tertentu melalui pengalaman mereka dan belum tentu dialami oleh masyarakat yang lain. Nilai-nilai tersebut akan melekat sangat kuat pada masyarakat tertentu dan nilai itu sudah melalui perjalanan waktu yang panjang, sepanjang keberadaan masyarakat tersebut.

Ilmuwan antropologi, seperti Koentjaraningrat, Spradley, Taylor, dan Suparlan, telah mengkategorisasikan kebudayaan manusia yang menjadi wadah   kearifan lokal itu kepada idea, aktivitas sosial, artifak2. Kebudayaan merupakan keseluruhan pengetahuan yang dimiliki oleh sekelompok manusia dan dijadikan  sebagai pedoman hidup untuk menginterpretasikan lingkungannya dalam    bentuk tindakan-tindakannya sehari-hari.

Negara Indonesia sangat majemuk dan mempunyai petatah-petitih Melayu, bahasa kromo inggil Jawa, dan tentu saja yang terdapat dalam adat istiadat orang Sunda dikenal dengan adanya undak-usuk basa dan tata krama urang Sunda, termasuk petuah yang diperoleh dari berbagai suku di Indonesia. Hal tersebut merupakan contoh keragaman ungkapan suku-suku bangsa yang menjadi bagian dari kearifan lokal, yang menjadi kendali dalam menjalankan kehidupan. Apa yang diutarakan dalam tulisan ini masih sangat minim, jika dibandingkan dengan seluruh suku-suku bangsa kita yang ada di nusantara (429 suku  bangsa besar).

Namun tulisan ini bermaksud mengetuk hati kita semua, bahwa kearifan budaya lokal dapat berperan besar dalam mewujudkan pendidikan karakter bangsa. Berikut ini merupakan beberapa contoh kearifan lokal yang berkembang dalam kehidupan suku Sunda.

Di bawah ini dideskripsikan kearifan lokal tatar Sunda, yang diutarakan lebih detail dari contoh suku-suku lainnya. Sebagaimana diketahui bahwa di tatar Sunda sebagai daerah bekas kerajaan Pajajaran beberapa ajaran dasar yang melandasi tingkah laku dalam kehidupan bermasyarakat. Saling memuliakan  merupakan sebuah tatanan sosial yang demokratis, karena sangat egaliter dan akomodatif terhadap berbagai tatanan termasuk aliran dan keyakinan keagamaan. Secara keseluruhan tatanan ini bertumpu pada falsahah “silih asih silih asah dan silih asuh”, yang merupakan common platform yang akomodatif terhadap kemajemukan.  

H.R. Hidayat Suryalaga mengatakan bahwa karuhun Sunda, para lokal genius telah lebih awal membuat semacam tarékah, atau konsep-konsep bermasyarakat agar anak-cucu serta alam lingkungan,  baik mikro maupun makro selalu dalam tatanan lingkungan hidup yang penuh harmoni3.

Hal ini mengisyaratkan bahwa karuhun telah menanamkan indikator kehidupan dimana harus terjalin hubungan yang harmonis baik antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam. Adapun hidup yang harmonis pada intinya adalah adanya saling ketergantungan (interdepedency)─dengan tidak melupakan jati diri  dan habitatnya masing-masing. Inilah makna utuh dari silih asih silih asah dan silih asuh.

Silih asih adalah tingkah laku yang memperlihatkan rasa kasih sayang yang tulus antar sesama mahluk Tuhan, terutama antar sesama manusia. Dengan maksud mewujudkan suatu kebahagiaan di antara mereka─antara kita. Gambaran silih asih salah satunya terlukis dalam sebuah rumpaka yang diwakili dengan ungkapan kasih sayang seorang ibu terhadap putrinya.

PUPUNDÉN ATI
Duh anak ibu,
Nu geulis pupundén ati
Geus bisa ulin,
Geus capétang jeung ngopepang
Teu weléh deudeuh,
Najan bangor tolohéor
Tambah kanyaah
Saréngkak saparipolah.4


Betapa besarnya kasih sayang seorang ibu kepada anaknya, sehingga senakal apa pun, anak  adalah anak, tak mungkin dapat tergantikan oleh nilai apa pun. Rumpaka di atas menggambarkan  ketika sang bayi sudah mulai kelihatan lebih lucu. Dia mulai belajar bicara, belajar berjalan,  mulai protes, meniru, ngopépang─yang didasari oleh rasa ingin tahu, dll.

Dan rumpaka di bawah ini adalah cara karuhun dalam melukiskan silih asih yang paripurna:

SUNDA MEKAR
Cacandraan para luluhur,
Ciri bumi dayeuh panca tengah
Lemah luhurna,
Lemah léngkobna,
Lemah padataranana,
Nagara mukti wibawa,
Panglambangna congkrang Kujang papasangan,
Yasana para déwata,
Teu sulaya ti nyatana. 5



Rumpaka tersebut mengamanatkan untuk mengasihi negeri, mengasihi bumi, atas darat,  air, dan udara, yang digambarkan dalam Lemah luhurna,  Lemah léngkobna, Lemah  padataranana, lalu menghormati Tuhan dan Rosul yang dilambangkan dengan congkrang  Kujang papasangan yang adalah dua kalimat syahadat, yang itu semua adalah karena kasih sayang Alloh─Mahapencipta.

Lalu silih asah adalah saling mencerdaskan, saling menambah ilmu pengetahuan,  memperluas wawasan dan pengalaman lahir batin. Dalam tradisi lisan Sunda cara mendidik  atau menyampaikan suatu ajaran sering pula disampaikan dalam bentuk  sisindiran─wawangsalan yang dalam rumpaka tembang disebutnya bangbalikan dangding.

TATALÉGONGAN
Bangkong dikongkorong Kujang,
Ka cai kundar cameti ... da kolé
Kolé di buah hangasa,
Ulah mopo saméméh leumpang ..., da hirup
Hirup ka tungkul ku pati,
Paéh teu nyaho dimangsa.

Naha bangkong dikongkorong,
Mawa Kujang teu ngarasa ..., mokaha
Nolog andon ngalalakon,
Ngarasa heunteu rumasa ..., ti mana
Asa gandang mawa ringkang,
Ka cai kundang cameti,
Ka darat mah kundang heurap,
Nyasaran kalangkang beurang.6


Walaupun disampaikan secara malibir dalam bentuk bangbalikan dangding, namun   diharapkan subjek didik mampu menerima dan memahami apa isi dari rumpaka tersebut.  Tatalégongan merupakan sebuah nasihat yang isinya adalah panggeuing atau sinyalemen   agar kita selalu mengingat bahwa  yang pertama Ulah mopo saméméh leumpang (jangan  memikirkan lelah sebelum melangkah); yang kedua hidup ini terbatas─Paéh teu nyaho  dimangsa (waktu kematian yang tak menentu). Kemudian pada bait yang kedua merupakan  gambaran bahwa manusia tidak bisa sombong sekalipun apa yang kita miliki lebih dari  cukup. Demikin silih asah, di mana antara kita harus saling menasihati dan saling mengisi.

Pada silih asuh terdapat makna yang paripurna dengan unsur-unsurnya yang saling  membimbing, menjaga, mengayomi, memperhatikan, mengarahkan, membina secara  saksama dengan harapan selamat lahir dan batin serta bahagia baik di dunia maupun di  akhirat.

Guguritan dalam pupuh Maskumambang di bawah ini adalah tindakan ketika mengasuh dalam rangka silih asuh. Silakan nikmati.

Hé barudak kudu mikir ti leuleutik,
manéh kahutangan,
ku kolot ti barang lahir,
nepi ka ayeuna pisan.


Adalah pesan kekhawatiran dari orang tua kepada anak-anak, khawatir jikalau anak-anak melupakan orang tuanya, tidak hormat kepada orang tua, berbuat aib yang berdampak memalukan orang tua, dan tidak memulyakan orang tuanya. Maka kepada mereka diberikan pencerahan sebagai pengingat, bahwa janganlah anak-anak melupakan jerih payah orang tua yang telah mengasihinya sejak kecil sampai sekarang.

________________
1.  F.X, Rahyono. Kearifan Budaya dalam Kata. Jakarta: Wedatama Widyasastra. 2009.
2.  Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru, 2009. h. 112.
3.  H.R. Hidayat Suryalaga, Kasundaan Rawayan Jati, Bandung, Yayasan Nur Hidayah, 2009 : 103
4.  H. Setia Hidayat, Sangkakala Padjadjaran, Bandung, Bina Rena Pariwara, 2004 : 143
5.  H. Setia Hidayat, Sangkakala Padjadjaran, Bandung, Bina Rena Pariwara, 2004 : 136
6.  H. Setia Hidayat, Sangkakala Padjadjaran, Bandung, Bina Rena Pariwara, 2004 : 138


  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Artikel: Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan