Iklan Google 728

26 Juli 2019

Bumi Pun Butuh Cinta

Artikel
Oleh: Ifan M M Arifin
(Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam semester VIII di IAIN Syekh Nurjati Cirebon)

Sejak terbentuk kira-kira 4,6 miliar tahun lalu, bumi telah banyak mengalami perubahan. Bermula dari kumpulan awan debu yang terbentuk akibat tumbukan gelombang kejut dari ledakan bintang bermassa besar di salah satu lengan spiral Bimasakti, terus berproses, menghadapi bombardir batuan angkasa hingga terbentuk benua, samudera, dan atsmosfer.

Belum selesai, butuh 1 miliar tahun setelah bumi lahir kehidupan baru muncul di samudera, dan butuh miliaran tahun lagi untuk hadir di daratan. Perjalanan panjang bumi telah berbuah suatu sistem yang lebih teratur dan kompleks, dimana batuan dan fosil-fosil menjadi buktinya.

Jika sejarah 4,6 miliar tahun bumi digambarkan dalam kurun 1 tahun, seperti yang ditulis oleh Nathalie Fredette, dkk,  dalam buku “Understanding Planet Earth”, bahwa “bila bumi terbentuk pada 1 Januari tengah malam, bentuk kehidupan yang pertama muncul pada bulan April. Tumbuhan hadir di daratan pada akhir November. Dinosaurus merajai bumi pada pertengahan Desember dan musnah pada 25 Desember pukul 19:00, hadirnya manusia mulai 31 Desember pukul 23:25 dan membangun Piramida di Mesir pada 23:59.29. Sementara penemuan Benua Amerika terjadi pada 23:59.57”. Seperti itu kira-kira skala waktu perjalanan sejarah bumi jika dipersingkat.

Perjalanan panjang yang menakjubkan telah dilewati bumi. Belum lagi sejarah tentang benua besar bernama “Pangaea” yang kini menjadi belahan daratan dunia di tengah-tengah luasnya samudera, tentang evolusi binatang dan tumbuhan yang demikian kompleks, tentang struktur bumi dan pergerakan lempeng hingga proses terbentuknya ribuan jenis bebatuan dari jenis “Talk” yang lunak sampai “Intan” yang tidak bisa tergores, dan tentang sejarah kemunculan manusia dari Homo Habilis hingga manusia modern. 

Semuanya di luar kendali manusia yang konon kini menjadi pemimpin peradaban di muka bumi. Manusia tak pernah sedikit pun terlibat dalam proses penciptaan dirinya, karena dia lahir dari suatu proses yang berada di luar jangkauan kekuasaan dirinya. Maka menurut Syahidin, sandaran yang bersifat wahyu sangat diperlukan dengan harapan manusia dapat memahami hakikat dirinya melalui petunjuk illahi.

Dalam pandangan al-Qur’an dikatakan bahwa manusia merupakan makhluk paling sempurna yang diciptakan Allah SWT dengan segala pengetahuan yang diberikan oleh-Nya, manusia memperoleh kedudukannya yang paling tinggi dibandingkan dengan makhluk lainnya. Manusia diciptakan Allah selain menjadi hamba-Nya, juga menjadi khalifah di atas bumi. 

Sebagai hamba dan khalifah, manusia telah diberi potensi jasmaniah dan rohaniah yang dapat dikembang-tumbuhkan seoptimal mungkin, sehingga menjadi alat yang berdaya guna dalam ikhtiar kemanusiaannya untuk menjalankan tugas pokok kehidupan di dunia.

Bumi yang kita tempati senantiasa berganti keadaan dari siang kemudian malam, dan terus berputar-putar. Sama halnya dengan manusia yang memiliki potensi untuk menjadi baik dan buruk, juga terus berputar-putar. Artinya selama di dunia manusia tidak mungkin menghilangkan keburukan atau mengabadikan kebaikan. Seperti dalam sejarahnya bahwa Malaikat diperintah oleh Allah Swt. untuk bersujud kepada Adam-- manusia pertama kali. 

Ada yang mengistilahkan ke dalam bahasa sunda bahwa Malaikat bersujud disebut dengan “Ngawula”, artinya bukan bersujud seperti sujud shalatnya manusia, adapun makhluk Allah lainnya yang diperintah untuk bersujud adalah Iblis, tetapi Iblis enggan bersujud dan takabur sehingga disebutlah kafir, maka kemudian Iblis merupakan pengibaratan terhadap sesuatu yang ada pada diri manusia yang bersifat menjatuhkan ke jalan neraka dan jalan keburukan yang disebut hawa nafsu. Hal inilah yang menjadi sebab berwarnanya bentuk kehidupan di muka bumi, ada yang konstruktif dan destruktif.

Begitu panjangnya perjalanan sejarah terbentuknya bumi, seakan bumi mengetahui kebutuhan manusia di masa mendatang. Perjalanan panjangnya menghasilkan begitu banyak sumber daya alam untuk kehidupan manusia masa kini. Sayangnya sumber daya manusia yang kerapkali destruktif mengakibatkan kekacauan di muka bumi. Kekacauan terjadi karena manusia tidak hidup dengan cinta, manusia sama sekali tidak memanifestasikan sifat penciptanya yaitu ar-Rahman dan ar-Rahim yang diartikan sebagai cinta. 

Begitu Maha cintanya sang pencipta kepada ciptaan-Nya, segala hal telah disediakan di bumi tanpa syarat dan bayaran apapun. Hanya saja manusia dituntut untuk beribadah kepada Allah, itu pun semata-mata ibadahnya bukan untuk Allah, melainkan untuk dirinya sendiri dan sebagai cara untuk mensyukuri anugerah yang diturunkan ke bumi. Kenyataannya adalah terlalu banyak manusia yang mengedepankan nafsu dan ambisinya, sehingga dengan egoisme dan keserakahannya manusia justru mengeksploitasi sumber daya alam dan terjadilah kerusakan dan kekacauan di bumi.

Maka satu-satunya cara untuk menjaga bumi dan isinya adalah dengan supremasi cinta. Namun, banyak juga yang salah mengartikan cinta, di mana cinta hanya diartikan sebagai jalinan kasih antara lelaki dan perempuan. Supremasi cinta ialah menempatkan cinta pada tempat tertinggi dalam kehidupan, sehingga harapannya adalah manusia bisa bercengkerama dengan penuh cinta bersama alam. Pada akhirnya, manusia bisa menjaga keutuhan bumi, dan pembuktian cinta yang diberikan manusia terhadap bumi akan kembali lagi dengan pembuktian cinta bumi yang setimpal kepada manusia.***
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Bumi Pun Butuh Cinta Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan