728x90 AdSpace

16 Agustus 2019

Paradoks Kemerdekaan

oleh: Ryan Aldi Nugraha

    Ratusan tahun bangsa Indonesia dibelenggu oleh rantai kolonialis-imperialisme yang memeras sumber daya, hingga menggerus  jati diri bangsa. Melalui perjuangan panjang, 17 Agustus 1945, Indonesia menyatakan kemerdekaannya untuk menjadi suatu negara seutuhnya. Setelah melalui berbagai persoalan setiap rezim pemerintahan pasca kemerdekaan, kita sudah ¾ abad merdeka. Usia yang tergolong dewasa untuk suatu bangsa yang telah merdeka.

    Namun, barometer kedewasaan suatu bangsa bisa ditinjau dari kedewasaan masyarakat di dalamnya. Suriah yang merdeka di tahun yang sama, masih menyimpan konflik yang mengakar. Sekitar 76.000 orang tewas sebab konflik tersebut. Di benua biru, Italia, negara yang menjadi republik pada tahun 1946, masih ramai dengan kasus rasisme kulit hitam yang sering terjadi dalam ranah sepakbola. Lalu, bagaimana dengan jiwa Indonesia?

    Ada 2 spesifikasi jiwa atau ketidaksadaran kolektif menurut Gustav Jung, pendukung teori ini. Ketidaksadaran kolektif yang berdasar pada memori kesadaran sejarah lama tanpa harus kita alami, dan ketidaksadaran kolektif melalui pendekatan empiris. Generalisir atau memukul rata suatu kondisi adalah sesuatu yang riskan dan gegabah, mengingat kuatnya sosial-agama-budaya yang multikultur dan kesenjangan sosial di Indonesia. Namun ruh di negara ini masih terpatri oleh sejarah panjang, kondisi dan nasib. Maka yang akan kita bahas adalah ketidaksadaran kolektif dilihat dari sisi historis, politis, dan sosiologis. Ketiga perspektif ini sangat mungkin bisa kita perbaiki.




    Kita adalah bangsa yang tak berjiwa besar, karena bertahun - tahun direpresi oleh elit otoritarianisme, mulai dari raja, ratu, hingga melewati fase kuasa pasca merdeka. Penguasa demi penguasa berkolusi dengan neokolonialis yang datang membawa pinjaman, sekaligus persyaratan yang membebani otonomi kita, merampas kekayaan yang ada, bahkan jatidiri kita. Fenomena ini berimplikasi pada akar rumput. Kita sering merasa iri dan cemburu dengan apa yang oranglain miliki, serta cenderung takut  seseorang merampas apa yang kita punya. Kita seolah-olah diciptakan untuk seketika terpaksa obsesif, di lain waktu dipaksa defensif. Tak heran jika kasus kriminal masih sering terjadi di akar rumput dengan intensitas kasus yang bisa membuat kita geleng-geleng kepala.

    Karena sudah terlalu lama dituntun dan diperintah, kita tidak memiliki kepercayaan diri, krisis identitas. Akibatnya, kita selalu mengejar pengakuan dan penghargaan. Menonjolkan diri dengan cara-cara yang tidak konstruktif demi menarik hati publik. Intelektual kita yang diharapkan mampu memecahkan persoalan kompleks, lebih mengutamakan menjadi selebritas layar kaca dengan retorika yang itu-itu saja.

    Kita adalah bangsa yang paling lantang mengumandangkan kemerdekaan, namun lupa akan kewajiban. Mengejar jabatan-jabatan prestisius melalui ‘jalur belakang’ hanya untuk tunjangan dan ketenaran, bukan untuk pengabdian. Aparat kita yang bertugas sebagai pengayom masyarakat, hari ini, justru ciut dengan buku-buku yang ke kiri-kirian. Sulit dipahami, mungkin mereka menyadari jika buku lebih berbahaya dari peluru. Melihat dagelan semacam itu, bagaimana kita mendongkrak presentase daya baca kita jika kebebasan memenuhi kebutuhan akal pikiran direduksi begitu saja?

    Begitu pula dengan pers di negara kita. Salahsatu corong ideologi yang seharusnya mendidik masyarakat dan mengubah pola pikir, justru cenderung menggiring opini publik melalui suguhan acara yang sensasional, kontroversial dan adaptif tergantung bagaimana iklim politik si pemilik. Jelas fenomena ini berdampak begitu dalam di kehidupan kita. Kita selalu merasa benar, aktif menyalahkan oranglain dan mencari kambing hitam. Negara asing, komunis, ekstremis, selalu menjadi sasaran kita. Kita mencari kambing hitam karena sumber penyebab masalahnya sulit dicari, bahkan mungkin bersikap acuh tak ingin mencari. Maka akui saja, jangan tanyakan bagaimana nasib bangsa, kita saja tidak mau bertanggungjawab atas nasib kita sendiri. Merdeka! Katanya...
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

1 komentar:

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Paradoks Kemerdekaan Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan