728x90 AdSpace

Update
24 Februari 2020

Menjaring Angin di Kedai Kopi

Perempuan Bersayap Kertas 

“Lalu aku memaafkannya. Demi Cinta.”

Wajah muram pohon bambu yang rapuh diterjang hujan tadi malam, tertutup samar oleh kabut gunung yang mulai pekat. Tanah becek dan aspal berlubang dengan genangan kenangan kemarin yang masih berbekas. Saat matahari muncul,  semua berpura-pura melupakan. Dan sibuk menjaring angin.

Kerudung hitam dan masker menutupi noda tamparan di pipi sebelah kirinya. Berkali ia merasa sudah tidak tahan lagi hidup berdampingan dengan suaminya. Lelaki yang dahulu lembut dan penuh kasih sayang, sekonyong berubah menjadi pemalas yang bengis. Hanya duduk seharian dan asik memainkan Mobile Legends. Sungguh tidak berguna.

Perempuan itu menyisir rambutnya, menutupnya dengan kerudung hitam pekat. Kemeja bercorak coklat gading dan tas kecil di punggung. Tali sepatunya disimpul seperti biasa. Makanan untuk anak dan suaminya selesai disajikan di meja, sebelum akhirnya pergi untuk bekerja.

Suaminya lama menganggur, dengan begitu ia harus menggantikan peran itu. Tidak masalah baginya untuk mencari nafkah dan bertarung dengan kejamnya waktu. Demi sekantung beras dan selembar uang supaya keluarganya tetap utuh.

Dari kaca jendela angkot, matanya nampak mendung-hampa. Buru-buru dibenahi letak kerudungnya sambil belajar untuk merangkai senyum. Peristiwa tadi malam, belum terlupakan dari benaknya. Piring kotor, segunung cucian dan rumah yang berantakan, anak belum mandi.

Dan suaminya tidak juga beranjak dari pagi hingga malam, duduk tepekur memainkan Mobile Legends dari hpnya. Siapa yang tidak akan kesal melihat itu. Lelah seharian bekerja, dan.......”Kau hanya duduk saja”!  Mulailah percekcokan itu dengan ditutup tamparan yang nyilu, menyesak di dada. “Kemana aku harus lari? Berceraikah”?

Di sudut kanan Kedai Kopi Waja, perempuan berlipstik tipis oriental dengan kuku jari berwana ungu terong, duduk sendiri. Dibaliknya helai demi helai buku katalog berisi gambar kosmetik ternama. Tidak dipedulikannya getar panggilan di hpnya yang terus memanggil.
Disruputnya kopi vietnam drip dengan pelan.

Keriput di dahinya ditutupi dengan bermacam warna make up mahal. Usianya hampir setengah abad ketika, tiga tahun lalu, suaminya meninggal. Menyisakan beberapa sertifikat kapling tanah, dua rumah, 4 mobil dan rekening yang berlapis.

Juga dua orang isteri muda yang baru diketahuinya saat di tempat pemakaman. Itu bukan masalah berarti baginya, karena bukan hanya lelaki yang mampu menyimpan rahasia. Menangis dan diam, itu cara yang aman untuk sembunyi. “Dipikirnya, apa cuma lelaki yang bisa begitu”.

Setengah jam berlalu, ketika Terios hitam parkir. Turun seorang pemuda tegap berkulit ranum menghampiri sambil mengibaskan jaket kulit warana coklat. Tiba-tiba saja, janda estewe itu tersenyum layaknya  jatuh cinta untuk pertamakalinya. Lalu mereka bergegas pergi untuk entah.

Gerimis kembali turun. Ramadan menyalakan bluetooth speker dari hpnya, dan lagu pun mengalun:
aku pernah berfikir tentang 
hidupku tanpa ada dirimu.
Dapatkah lebih indah dari 

yang kujalani sampai kini?
Aku slalu bermimpi tentang
Indah hari tua bersamamu
Tetap cantik rambut panjangmu
Meskipun nanti tak hitam lagi
Bila habis sudah waktu ini tak lagi berpijak pada dunia.
Telah aku habiskan sisa hidupku hanya untukmu.



Sebelum Akhir Februari 2020
Ki Pandita
.
Kisah lain: Menjaring Angin di Kedai Kopi (Perempuan-perempuan itu)

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Menjaring Angin di Kedai Kopi Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan