728x90 AdSpace

Update
20 Februari 2020

Menjaring Angin di Kedai Kopi

cerpen
“Perempuan-perempuan itu”.

suarakuningan - Gerimis tipis menghias kaca mobil AYLA merah marun.  Perempuan muda berkerudung pink, jam tangan warna kuning dan kemeja lengan panjang bermotif garis hitam-putih dengan setelan jeans,  duduk sendiri sambil menikmati segelas kopi latte.  Udara terasa basah dan dingin. Di dalam mobil itu ia menyendiri sekedar menenangkan hati.  Namun hati, tidak sama dengan volume lagu yang bisa diatur tinggi-rendahnya dengan mudah.

Berkali-kali diceknya obrolan di WA. Suaminya meminta ijin untuk pergi ke Kedai Kopi Waja untuk menemani sahabat lama yang kebetulan singgah di Kuningan. Tetap saja kekecewaan yang didapatinya. Berjam-jam sudah, ia duduk mengamati kedai kopi itu, namun ia tidak menjumpai suaminya ada di sana.  Begitukah lelaki? Teramat yakin bahwa kebohongannya sempurna, tanpa menyadari bahwa sesungguhnya perempuan itu makhluk yang memiliki hati.

Menunggu lelaki berhenti berbohong merupakan hal yang sangat melelahkan. Sebab akan diulanginya dan diulangi dan diulanginya lagi walau pun dengan sumpah untuk berhenti. Dipesannya pisang goreng satu porsi hangat untuk dihantar ke dalam mobil.

Gerimis semakin terasa deras tertiup angin gunung.  Di jok sebelah, tahu lamping hampir dingin tergeletak.

Suara musik mengalun laun: “aku hanya punya hati, tapi kamu mungkin tak pakai hati. Kamu berbohong aku pun percaya. Kamu lukai ku tak peduli. Coba kau fikir dimana ada cinta seperti ini...... Tak usah tanya kenapa aku Cuma punya hati. Aku Cuma punya hati.” Langit bertambah mendung. Masih adakah kesabaran yang tersisa?

Perempuan muda lain duduk menatap kabut yang menutupi wajah bukit. Bibir berwana coklat bata dengan mengapit sebatang rokok mild. Alis mata digurat menebal halus,  rambut pendek merah jagung  tersapu angin. Sudah habis berbatang-batang, tapi belum juga beranjak.  Berkaca pada layar hp, dibenahi letak rambutnya, dipulasnya kembali dahi dan pipinya dengan bedak. Matanya yang binal dikerlingkang seolah sedang menghapalkan peran yang harus dimainkan nanti.

Kentang goreng,  segelas arabika Cibunar dan kacamata hitam. Seorang pejabat yang sering disapanya dengan panggilan, “ayah”, sudah memesannya untuk nanti malam menemani perjalanan ke salah satu hotel di Cirebon. Hanya dua tempat itu, Cirebon atau Pangandaran.

Perempuan-perempuan malam dituntut lebih cerdas. Setidaknya mampu menjadi lawan bicara yang seimbang dan nyambung saat diajak ngobrol, serta mampu menawarkan ide-ide menyegarkan. Bukan percakapan otoriter dan posesif seperti yang dilakukan perempuan kebanyakan.  Dengan begitu, lelaki akan dengan rela untuk berbohong sekedar untuk berjumpa dan menghabiskan berbotol minuman.

Angin terasa semakin kencang. Sayup terdengar lagu dari Kedai Kopi Waja:”mungkin suatu saat nanti, kau temukan bahagia meski tak besamaku. Bila nanti kau tak kembali, kenanglah aku sepanjang hidupmu.... karamnya cinta ini, tenggelamkanku di duka yang terdalam.” Kopi telah menjadi dingin, tapi masih bisa dinikmati.

Perempuan-perempuan datang dan pergi dari kedai kopi. Ia yang rapuh dan lemah, berusaha menampilkan senyumnya sambil menahan getir. Ia yang hancur dan tidak berdaya, tetap berusaha menjaga kewarasannya sambil menatap kosong pada gelas kopi.


Ki Pandita
Pertengahan Februari  2020


Cerpen lainnya:
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

1 komentar:

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Menjaring Angin di Kedai Kopi Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan