Hot News
19 Mei 2019

Cerpen: Cahaya Ramadan di Kedai Kopi (Bersama Bosan)


 ***
“Aku mulai bosan dengan kata-kata
Aku mulai bosan dengan harapan”



Angin gunung terlalu keras menghempas daun gugur. Di tepi jalan yang berdebu dan kerikil, di sela bukit batu yang nampak tua dan rapuh. Siapa yang mau mendengarnya, jika semua sibuk dengan dirinya sendiri. Lalu,  mimpi perlahan menghilang  terlupakan ditimbun rutinitas. Di situ hidup mulai terasa membosankan.

Perempuan muda bertubuh ranum itu duduk memperhatikan kedua anaknya yang mulai besar. Segelas ekspreso dinikmati sambil menerawang jauh, seperti berusaha menembus ribuan pohon pinus.

Kesadarannya mulai pulih ketika hpnya bergetar memberi tanda. Pesan WhatsApp dari suaminya yang jauh di sana. Jaket kulit warna hitamnya masih dipakai untuk melindungi diri dari dinginnya rindu.

Ramadan nampak gelisah. Perjodohannya dengan gadis kota mulai kembali tidak jelas. Tapi perasaan gundah itu tidak usahlah diperpanjang supaya jangan berpengaruh terhadap kinerja sebagai barista.

Kegagalan cinta yang berulang adalah hal biasa. Kadang cocok dengan orang tuanya, tapi si gadis tidak serius. Atau cerita sebaliknya, si gadis sudah siap, tapi fihak keluarga malah berusaha menjauhkan hubungan.

Sukurlah sudah menyiapkan cadangan. Walau pun itu sejujurnya hanya bahasa klise untuk menghibur diri sendiri dari kekecewaan.

Sore mulai terasa sepi di jalan protokol. Orang-orang nampak terburu-buru untuk berbuka puasa.

Beberapa  tempat di kedai Waja Kopi sudah dipesan oleh rombongan anak muda yang mengadakan reuni.

Di sudut yang lain begitu ramai oleh pejabat pemda yang sedang ngopi bareng. Semakin lama, semakin riuh gelombang kehadiran dari berbagai macam kepentingan. Tapi, bisa jadi itu semua hanya ritual pengusir kebosanan belaka.

Perempuan muda bertubuh ranum itu asik berbicara dengan hp.  Bagaimana pun, hidup terpisah jarak bukanlah hal yang menyenangkan bagi sebuah keluarga. Sudah lama suaminya bekerja di luar kota demi sesuap nasi dan segenggam asuransi pendidikan anak sekolah  juga tagihan BPJS. Berulang kali ia berfikir untuk keluar dari rumah orang tuanya dan memilih tinggal bersama suaminya yang sedang bekerja. Namun harapan itu selalu kandas karena kecamuk perasaan sering tidak mampu ia definisikan. Akhirnya tetap begitu dan tetap begitu.

Ramadan terlelap hanyut dalam riuh pengunjung yang memesan kopi. Beberapa dikenalnya dan sebagian merupakan orang-orang asing yang baru dijumpainya mampir. Sepertinya kesunyian begitu pekat tergambar dari wajah-wajah yang sedang tertawa dan gembira.  Mungkin saja itu adalah kamuflase dari harapan mereka yang kandas, lalu berusaha menghibur diri dengan menikmati  secangkir kopi.

Bunda, mari kita pulang”.

Cerpen By. Ki Pandita Ciremai
Ramadan 2019
Lereng Gunung Ciremai

Cerpen: Ramadan di Kedai Kopi

Cerpen: Cahaya Ramadan di Kedai Kopi (Bersama Diam)

 




  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Cerpen: Cahaya Ramadan di Kedai Kopi (Bersama Bosan) Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan