728x90 AdSpace

-->
Update
1 Mei 2020

Mendidik Yang Terdidik

suarakuningan - Banyak dari kita merasa bahwa ilmu pengetahuan, pendidikan, jenjang karir bahkan jenjang gelar pendidikan adalah modal utama kita dalam memulai sebuah kebenaran. Sebelum kita masuk ke pokok pembahasan utama, saya ingin memberi tahu bahwa gaya tulisan saya kali ini menggunakan gaya penulisan segitiga terbalik. Dimana gaya ini lazim digunakan dalam membuat sebuah penelitian, kesimpulan yang didapatkan melalui hasil dari studi riset yang terjadi dalam kehidupan sehari hari dengan nyata. 

Lalu hasil riset ini dihubungkan dengan teori teori hasil pemikiran secara tertulis atau hasil intuisi yang terjadi pada setiap individu, dan tentunya tulisan kali ini akan menghubungkan antara kehidupan sehari hari yang terjadi secara nyata dan akan berhubungan langsung dengan diri saya secara pribadi dan akan saya korelasikan dengan hasil pemikiran saya.

Dalam sebuah batasan sosial masyarakat yang terjadi kita kerap kali menglami egosentris tatanan sosial yang melihat dari jenjang pendidikan ataupun gelar pendidikan. Hal tersebut menyebabkan terjadinya persaingan yang cukup tidak menggairahkan bagi saya pribadi. Mengapa hal tersebut menjadi tidak menggairahkan bagi saya, karena menurut saya masih banyak yang harus diperbaiki dalam sistem pendidikan yang ada di Indonesia. 

Kita ambil salah satu contoh hal yang bagi saya cukup krusial dalam hal pendidikan Indonesia, Persamaan pendidikan dengan menggunakan sistem Ujian Nasional, mengapa saya bilang persamaan pendidikan, bukanlah pemerataan pendidikan. Persamaan menggunakan Ujian Nasional bagi saya pribadi adalah sebuah cara untuk mematikan kreatifitas anak bangsa sesuai dengan kemampuannya masing – masing. 

Dimana setiap individu manusia memiliki bakat sesuai dengan minatnya, ujian nasional membunuh bakat minat anak karena sifatnya yang tidak kompetebel susuai dengan bakat setiap individu masing masing anak.

Akan tetapi ujian nasional juga bisa dijadikan jawaban atas pengembangan bakat dan minat pendidikan individu setiap anak, hanya saja memang akan menjadi PR besar dalam mengubah sebuah tatanan sistem yang sudah dibangun dan membudaya turun temurun sejak dulu. Sistem yang mungkin saja bisa dirubah.

Menurut saya adalah, intansi pendidikan bisa bangkit dan mulai move on dari tidur berkempanjangan yang hanya berjibaku dengan kurikulum pendidikan saja, memang dalam hal ini kurikulum sangatlah penting untuk bersifat dinamis mengikuti perkembangan jaman yang ada. 

Akan tetapi kurikulum pendidikan juga belum bisa menemukan jawaban atas pengembangan bakat sesuai dengan minat individu. Kalau saja kurikulum bisa memberikan fasilitas untuk mencari jawaban dalam mengembangkan potensi individu, Ujian Nasional bisa dirubah juga sesuai dengan bakat kemampuan setiap anak.

Hal tersebut bisa saja menjadi jawaban juga untuk bagaimana peranan orang tua dalam mendidik anak, menrut saya kebanyakan orang tua mendidik anaknya terlalu keras karena kebanyakan generasi orang tua kita hidup pada zaman yang berbeda, ada kalanya pada zaman tersebut pendidikan Indonesia masih bibawah rata – rata, sehingga pada zaman tersebut strata pendidikan atau strata gelar pendidikan menjadi sangatlah penting dalam egosentris kehidupan sosial. 

Berbeda pada zamannya, sayangnya saat ini untuk masuk dalam strata tatanan sosial bukan hanya gelar pendidikan dan jenjang pendidikanlah yang penting, melainkan skill atau kemampuan yang harus dimiliki setiap individu. Masalah disini muncul karena sistem pendidikan Indonesia mengharuskan setiap individunya memiliki ilmu pengetahuan yang sama untuk mencapai sebuah kesuksesan dalam hal lapangan kerja misalnya.

Karena ketidak tahuan kita dalam mendidik anak akan potensinya tersebut, kita kerap kali memaksakan mereka terjebak dalam dunia yang tidak semestinya mereka berada. Orang tua tersebut memaksakan anaknya untuk bisa lebih dari pada yang mereka capai sebelumnya bukan dengan cara melihat dari potensi yang dimiliki anak. Sehingga ketika anak tersebut mau saja menuruti keinginan orang tuanya, anak pun akan meminta kembali lebih atas apa pilihan orang tuanya, alih – alih mengikuti kerasnya kehendak orang tua, malah akan menjadikan individu setiap anak menjadi manja atas apa keinginan mereka yang mudah di penuhi. 

Ketika hal – hal yang diminta kepada orang tua atas keinginan yang mereka minta sangatlah mudah untuk dipenuhi bukankah akan membuat anak menjadi tidak tau apa artinya berusaha memperjuangkan kemauaan mereka sendiri atas kerja kerasnya. Dan menurut saya disinipun akan menjadi kontradiktif ketika orang tua merasa mampu untuk memenuhi keinginan anaknya tersebut. Selagi masih mampu bukankah bisa dipenuhi juga. Jika kita berpikir kebelakang lagi, ini akan menjadi jawaban pula atas permasalahan tersebut, mengapa dari awal orang tua juga memaksakan kehendaknya bukan kehendak si anak.

Sistem pendidikan yang ada saat ini sama saja sedang mencekoki anak bangsa kita dengan hal yang tidak semestinya, seharusnya generasi yang bisa kita sebut sebagai generasi milenial ini bisa lebih kreatif lagi atas apa yang mereka mau sesuai dengan bakat mereka, bukan disamakan dengan kemampuan orang lain yang belum tentu sama dengan mereka. 

Sehingga jika saja anak bangsa bisa berpikiran kreatif ia akan berusha keras dan tidak manja atas apa yang ia inginkan sebelum ia mencapai keinginannya tersebut. Menjadi pribadi yang terdidik dengan cara mendidik berusaha keras atas pencapaiaanya dengan caranya masing – masing
.
.
Jakarta 
1 Mei 2020
Ryan Darmansyah Intani
(Alumni Fakultas Kehutanan Uniku)
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Mendidik Yang Terdidik Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan