Puisi: Orasi

 Vera Verawati



  Berteriaklah yang keras, selama kau bisa. Satu kursi disiapkan untukmu. Di gedung itu, dengan kursi selembut kulit nona dan meja kaca anti peluru. Lingkaran api yang hanya akan padam beserta hancurnya seluruh peradaban.


Suarakan yang lantang, segala kau tentang, atas nama keadilan yang dimintakan. Kemudian bungkam ketika satu kursi disodorkan. Ajak saja ramai-ramai hingga ribuan bahkan jutaan demonstran. 


Ketika satu kursi itu dikosongkan, orasi itu lenyap, senyap. Kemana perginya? setelah kaos dan jeans lusuh berganti safari berdasi maka terhentilah orasi. Idealisme itu memudar seiring bisikan angka-angka menggelinding menggoda iman.


Masih dengan wajah simbolis bercadar idealis, mulai mengekor ritmis penguasa. Karena sejentikannya maka luput segala yang dipunya. Baju boleh berganti, suara pun redam, tapi lupa atau melupakan, bahwa suara-suara yang terdzalimi adalah kumpulan kekuatan tak terprediksi.


Ayo berteriak lebih keras, angkat  dan pukul saja segala yang bisa menimbulkan suara. Hingga pecah, serak saja cermin yang terbelah. Andai bisa melihat apa yang memantul disana, maka kau akan takut pada bayanganmu sendiri, karena wajah itu adalah keserakahan.


Seret saja semua yang kau mau ke jalanan, riuh dan gaduh hingga tubuh-tubuh putus asa makin mengeluh, rapuh kemudian petaka itu kian tumbuh, saling membunuh. Hati-hati manusia yang penuh kecemasan, tak lagi menilai arti kemanusiaan.


Tentang harga sembako yang naik, langka dan kehilangan di Negara yang kekayaan alam tak terukur hitungan. Tangan-tangan cerdik mengulik, memanfaatkan kemiskinan untuk mengeruk setiap yang ada di Nusantara.


Lalu beradulah mereka, antar sodara saling tikam. Tangisan bocah kehilangan ibu dan bapak tak lagi mampu menyentuh nurani. Akal itu bergerak mencipta pembaharuan sekaligus mempercepat  kehancuran.


Teruslah berorasi, wakili suara-suara yang kau katakan sebagai kebenaran, maka satu kursi telah disiapkan. Untuk membungkam dan hilangkan. Jejak mengabur seiring generasi berganti. Kemudian cipta isu baru yang lebih gila lagi. Negeri ini makin ngeri.


Kuningan, 300322


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Puisi: Orasi"

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.