Ina Agustiani, S.Pd
(Praktisi Pendidikan)
Di tengah derasnya arus hoaks, kebenaran seakan tenggelam dalam riuh algoritma.
Generasi muda terbuai layar, mata mereka redup oleh cahaya semu,
sementara hati mereka haus akan makna.
Bayangkan ruang digital yang jernih,
di mana informasi bukan sekadar komoditas,
melainkan amanah yang dijaga dengan iman.
***
Sebulan telah berlalu di awal tahun, sementara ruang digital di Jawa Barat masih dipenuhi kabar bohong (hoaks). Data Jabar Saber Hoaks (JSH) hingga pertengahan Januari ada sekitar 17 konten yang terverifikasi berita bohong dari 16 pemantauan dan 3 aduan masyarakat. JSH bekerja sama dengan pemprov fokus melakukan edukasi, klarifikasi dan publikasi hoaks secara massif, namun deras informasi yang beredar seakan menenggelamkan usaha ini ibarat menimba air di lautan (akibat terlalu banyaknya berita bohong).
Dalam realitanya, fenomena ini bukan sekedar angka statistik, ini potret nyata masyarakat masih rentan dengan pertarungan narasi yang seringkali kebenaran dianggap kalah dengan kecepatan berita palsu. Dari pantauan facebook, TikTok, Whatss app menjadi kanal berita penyebaran hoaks terbanyak. Karakter aduan masyarakat pun beragam, di 2024 mulai dari isu bantuan sosial, layanan publik, bahkan bermuatan penipuan pada 2025 dengan klaim “Air Laut di Indonesia Membeku sebagai Tanda Hari Kiamat”, saldo e-toll gratis sampai isu kebencanaan.
Sandi Ibrahim Abdullah selaku Penata Layanan Operasional, Pengelola Data dan Diseminasi Jabar Hoaks menyatakan salah satu maraknya hoaks kaitannya erat dengan penipuan, mulai dari bagi-bagi hadiah yang mengatasnamakan gubernur, pejabat sampai publik figur yang tujuannya mengarah ke pencurian data. Sambil berjalan tim JSH memantau isu secara manual di sosmed dengan membuka layanan aduan masyarakat, setiap aduan diverifikasi kebenarannya, sehingga hoaks tidak disebarluaskan, dan mengimbau pada masyarakat agar tidak segera menyebar berita tanpa sebelum yakin sumber beritanya.
Jalan Pengarusan Sekularisasi
Di sistem saat ini yang segala dikapitalisasi dan serba bebas, dengan diberikan kebebasan tanpa batas tapi minim edukasi menjadikan orang-orang yang bermental rendah bisa dengan mudah menyebarkan informasi sesat, dan dapat mendulang cuan sesuai pesanan beritanya, siapa lagi kalau bukan buzzer. Sehingga muncul pertanyaan mengapa hoaks begitu mudah beredar? Jawabannya terletak pada sistem yang melingkupi dunia digital yaitu kapitalisme sekuler.
Negara belum sepenuhnya berfungsi sebagai penjaga akidah dan moral rakyat, karenanya lebih banyak sebagai regulator yang sekadar mengatur pasar informasi. Ditambah mayoritas masyarakat minim literasi memadai terhadap digital hanya berfokus pada masalah teknis, bukan membentuk standar moral, yang terbiasa tidak menyaring kebenaran, terjebaklah mereka pada kabar palsu. Pola alogaritmanya jelas :klik, interaksi dan keuntungan. Yang menyebar dengan cepat justru hoaks yang sensasional (kabar perselingkuhan artis, terjerat narkoba, gaya hidup flexing, dan lainnya), itu dinilai menguntungkan secara komersial.
Sementara berita-berita politis yang membuka pemikiran dan mengajak pada daya nalar kritis malah hilang, tenggelam ke dalam “palung mariana”nya kebenaran, semua tergantikan dengan berita yang sama sekali tidak penting yang meresahkan, merusak jauh untuk perubahan hakiki. Jadilah masyarakat saat ini tak memilki filter akidah dalam menilai dan memilah informasi.
Impian besar bersama tentu agar ruang digital bisa membuat masyarakat punya nalar kritis yang mencerdaskan nyatanya hanya mimpi yang mungkin terlalu tinggi, giliran ada anak bangsa yang kritis dipersekusi, dianggap tidak nasionalis, pengkritik abadi, tidak support rancangan negara, ada yang masuk penjara karena ujaran kebencian bahkan sampai berujung kematian. Akhirnya impian memiliki visi misi penyelamatan generasi juga gagal menjadi perisai generasi. Bahkan semua pintu kerusakan terbuka lebar dari berbagai aspek kehidupan.
Hoaks Lemah, Hilang dengan Support Sistem Islam
Digitalisasi dan teknologi dalam pandangan Islam adalah sama tujuannya, diciptakan dengan dasar keimanan penciptanya untuk membantu kehidupan manusia lebih mudah dalam hal akses informasi. Pengembangan didedikasikan agar agama dan umat mencapai kemuliaan denbgan basis akidah dan hukum-hukum syarak. Dengan mekanisme Islam, pemimpin berperan aktif sebagai raain (pengatur) dan junnah (penjaga) umat termasuk ruang digital. Yang dengan kepemimpinannya diciptakan sejumlah aturan dan regulasi dalam sejumlah undang-undang penerapan syariat sebagai penjagaan fitrah.
Dengan sumber daya yang banyak di bidang teknologi, banyaknya ahli di bidang IT, ditopang sistem pendidikan yang terjamin kualitas dan terjangkau bahkan gratis. Menjadikan ahli-ahli ilmu menanamkan dalam jiwanya ilmu yang didapat untuk kemaslahatan hidup. Maka menjadi sangat mudah menangkal hoaks, situs porno, judol, dan hal-hal negatif lainnya.
Melihat sejarah peradaban Islam, kita bisa melihat ada banyak tahapan sebelum menghilangkan hoaks itu yaitu dengan kesejahteraan. Hampir 13 abad muslim tampil dengan opini umum dunia sebagai sebaik-baiknya umat. Semua tertata rapi dalam semua lapisan, mulai dari keluarga yang kokoh dan kondusif, sistem sosial yang menjaga masyarakat dari kemaksiatan, media massa yang mencegah keburukan. Juga peran negara yang jadi suport sistem menyeluruh terwujudnya perlindungan.
Dan terakhir suport dari keuangan negara dengan baitulmal (kas pendapatan negara) yang kuat dan tersistem, jika kehidupan semua tercukupi angka kriminalitas berkurang maka tidak akan lagi yang ingin mencari nafkah dari jalan yang haram termasuk pekerjaan seperti buzzer negatif yang menebar kebohongan, korupsi, dan lainnya, setiap individu akan berpikir berulang kali manakala melangkahkan kakinya ke jalan maksiat. Dengan sistematis Islam meniscayakan ruang digital sebagai sarana pendidikan dakwah, dan alat propaganda untuk menunjukkan kekuatan negara di hadapan negara yang lain. Media tidak boleh menjadi corong kapitalis.
Islam datang untuk mengatur, tetapi melindungi, ia berfungsi sebagai sarana dakwah dan pendidikan, memastikan tidak ada konten yang menyesatkan atau merusak moral. Ia ibarat membangun benteng meguatkan semua sistem mulai dari keluarga, sekolah, masyarakat, dan media, serta memastikan teknologi digital menjadi sarana dakwah dan pendidikan. Wallahu A’lam.
Islam adalah cahaya yang tak pernah padam.
Di tengah gelombang hoaks,
ia hadir sebagai mercusuar yang menuntun perahu-perahu kecil
menuju dermaga kebenaran.
Islam datang sebagai pelindung, penjaga, pengayom.
Seperti pohon besar yang menaungi, akarnya kokoh di bumi akidah,
dahannya menjulang ke langit dakwah.
Di bawah rindangnya, generasi tumbuh, kuat, tangguh, bertakwa.




0 comments:
Posting Komentar
Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.