Oleh : Fathimatul Ajizah
Kadang, berita terasa seperti tamparan keras. Bukan karena jauh dari kehidupan kita, tapi justru karena terlalu dekat. Seperti kasus tragis di Lahat, Sumatera Selatan, ketika seorang pemuda berusia 23 tahun tega menghabisi nyawa ibu kandungnya sendiri. Bukan karena dendam lama, bukan karena konflik berat, tapi karena hal yang belakangan makin sering kita dengar: kecanduan judi online. Lebih tragis lagi, setelah membunuh, pelaku bahkan membakar dan memutilasi jasad ibunya, lalu menguburkannya di kebun dekat rumah. Semua ini terjadi hanya karena sang ibu menolak memberi uang untuk berjudi.
Peristiwa ini bukan cuma soal kriminal biasa. Ini tentang bagaimana sesuatu yang awalnya dianggap “sekadar hiburan” bisa berubah jadi racun yang menghancurkan akal sehat dan nurani. Judi online bukan lagi masalah kecil. Ia pelan-pelan menggerogoti logika, menghilangkan empati, bahkan merusak hubungan paling sakral: hubungan anak dan ibu. Ketika seseorang sudah kecanduan, uang bukan lagi alat, tapi tujuan. Bahkan keluarga pun bisa dianggap penghalang.
Yang bikin kita makin miris, kasus seperti ini bukan pertama. Berulang kali, berita tentang kejahatan yang dipicu judi online terus bermunculan. Dari penipuan, pencurian, sampai pembunuhan. Seolah ada benang merah yang sama: ketika hidup hanya diukur dari uang dan kepuasan instan, maka batas benar dan salah jadi kabur. Yang penting dapat uang, yang penting bisa main lagi. Selebihnya, urusan belakangan.
Di sisi lain, fenomena ini juga menunjukkan bagaimana sistem kehidupan hari ini mendorong manusia mengejar kepuasan materi tanpa batas. Ukuran kebahagiaan jadi sempit: punya uang, bisa membeli, bisa menikmati. Akibatnya, banyak orang terjebak dalam lingkaran keinginan tanpa akhir. Ketika kebutuhan hidup terasa makin berat dan kesenjangan makin terlihat, sebagian orang memilih jalan pintas. Judi online jadi salah satu pintu yang dianggap mudah, padahal justru menghancurkan.
Lebih jauh lagi, maraknya judi online juga memperlihatkan bagaimana negara seringkali hanya bertindak setelah masalah membesar. Situs diblokir, pelaku ditangkap, tapi akar masalah tetap ada. Judi online seperti rumput liar, dipotong di satu tempat, tumbuh lagi di tempat lain. Selama sistemnya masih memberi ruang, selama orientasi hidup masih materi semata, selama sanksi tidak benar-benar membuat jera, maka kasus serupa akan terus berulang.
Di sinilah kita perlu melihat bahwa manusia sebenarnya butuh sesuatu yang lebih dari sekadar aturan teknis. Manusia butuh pegangan hidup. Dalam Islam, hidup tidak hanya diukur dari untung dan rugi materi, tapi dari halal dan haram. Ada kesadaran bahwa setiap tindakan akan dipertanggungjawabkan, bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Kesadaran inilah yang menjadi benteng pertama sebelum seseorang bertindak.
Selain itu, Islam juga memandang negara sebagai pelindung rakyat, bukan sekadar regulator. Negara bertugas memastikan kebutuhan dasar terpenuhi, menghapus kesenjangan, dan menutup pintu-pintu kerusakan seperti judi. Bukan hanya memblokir sebagian, tapi memberantas hingga ke akar. Ketika lingkungan bersih dari faktor pemicu kejahatan, masyarakat pun lebih terlindungi.
Tak kalah penting, Islam juga menetapkan sanksi yang tegas dan memberi efek jera. Bukan sekadar menghukum, tapi juga mencegah. Sanksi yang jelas membuat orang berpikir seribu kali sebelum melakukan kejahatan. Bukan karena takut polisi saja, tapi karena sadar konsekuensi berat yang akan dihadapi.
Kasus di Lahat ini bukan sekadar berita kriminal. Ini alarm keras. Bahwa ketika judi online dibiarkan, ketika orientasi hidup hanya uang, ketika sistem tak mampu melindungi, maka korban bisa siapa saja. Bahkan orang yang paling kita sayangi.
Dan mungkin, yang paling menyedihkan dari semua ini adalah satu hal: seorang ibu kehilangan nyawanya di tangan anak yang dulu ia lahirkan, rawat, dan besarkan. Semua karena sesuatu yang awalnya terlihat kecil yaitu judi online.
*Sumber :*
Metro TV News:
https://www.metrotvnews.com/read/kewCj6a6-kecanduan-judol-anak-di-lahat-bunuh-ibu-kandung-jasad-dibakar-dan-dimutilasi
Kompas:
https://www.kompas.id/artikel/bagaimana-duduk-perkara-anak-memutilasi-ibu-kandung-di-lahat-karena-judi-online




0 comments:
Posting Komentar
Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.