Ina Agustiani, S.Pd
(Praktisi Pendidikan)
Di tanah Pasundan,
ada seratus ribu anak yang menanti,
jarum kecil bukan sekadar tusukan,
melainkan janji kehidupan yang lestari.
Seorang dokter muda gugur di medan pengabdiannya,
pengingat bahwa perjuangan kesehatan
bukan hanya ilmu, tapi amanah,
menjaga jiwa adalah menjaga masa depan.
Imunisasi bukan sekadar program,
ia adalah syair cinta sosial,
mengikat umat dalam tanggung jawab.
Negeri harus adil dalam kebijakan,
vaksin merata hingga pelosok desa,
transparansi membangun percaya,
keadilan adalah ruh pelayanan publik.
***
Sejak kasus campak merebak beberapa bulan ini, Pemerintah Provinsi Jawa Barat mempercepat penanganan campak yang berfokus pada beberapa wilayah, diantaranya siswa tingkat dasar di kota Cimahi menjalani vaksin sebagai bagian dari Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS), menyusul kebijakan diterbitkan meningkatnya kasus campak yang naik statusnya menjadi kejadian luar biasa (KLB) di sejumlah daerah.
Intruksi ini disampaikan oleh Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi sebagai akibat meninggalnya dokter muda di Cianjur AMW (26) akibat suspek campak.
Selanjutnya fokus penanganan di Kabupaten Garut dan Tasikmalaya karena ada kasus temuan baru di 2 kota ini. Dan akan diperluas ke 10 kabupaten dan kota lainnya untuk menekan penyebarannya menyeluruh di tingkat regional.
Sebanyak 102.000 anak di Jabar belum mendapatkan imunisasi lengkap hingga tahun 2025, dan pemerintah akan terus mengejar vaksinasi, sementara di tingkat nasional Kementrian Kesehatan RI akan mengeluarkan Surat Edaran mengenai kewaspadaan terhadap campak bagi tenaga medis dan tenaga kesehatan. Data hingga pekan ke-11 tahun 2026 tercatat 58 KLB campak di 39 kabupaten/kota di 14 provinsi. Sempat naik mencapai 2.740 di awal tahun, dan turun menjadi 177 kasus.
Fakta dan Realitas
Imunisasi bukan hanya sekedar rutinitas ibu dan anak dengan tenaga ahli ibarat jarum suntik yang menembus kulit anak-anak kita. Itu adalah langkah ikhtiar, amanah dan cinta yang diwujudkan dengan tingkah nyata. Namun dalam kenyataannya dengan kasus KLB di beberapa daerah, seorang pakar sekaligus pemerhati kebijakan kesehatan dr. Arum Harjanti menilai kasus campak kembali merebak bahkan sampai merenggut nyawa adalah bentuk kelalaian negara dalam menjaga keselamatan generasi.
Rendahnya cakupan imunisasi berpengaruh pada terwujudnya herd immunity.
Faktor penentu lainnya adalah pada lingkungan sosial dan kesehatan, kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan serta kurangnya literasi untuk hidup sehat menyebabkan pemahaman masyarakat terhadap imunisasi kurang familiar. Dibalut dengan berita-berita tidak bertanggung jawab terhadap kandungan vaksin.
Banyaknya orang tua yang masih terjebak dalam keraguan, pengaruh sekulerisme banyak memisahkan diri antara ilmu pengetahuan dan nilai moral. Padahal, menjaga kesehatan adalah bagian dari maqashid syariah (menjaga jiwa).
Ini berdampak pada rendahnya status gizi pada daya tahan tubuh dalam menghadapi serangan campak, lalu akses tempat dan layanan kesehatan yang memerlukan aksi cepat tanggap, terjangkau sebagai bagian krusial yang penting.
Lemahnya faktor-faktor ini disebabkan adalah tata kelola kapitalis yang menganggap kesehatan adalah bagian dari komersialisasi ekonomi, bukan kebutuhan dasar yang harus ditanggung negara sepenuhnya. Adapun negara sebagai regulator dan fasilitator saja yang menunjuk suatu badan untuk urusan krusial rakyatnya (ibarat penunjuk jalan), jadilah layanan kesehatan tidak merata hampir di semua wilayah, bisa dibayangkan jika wilayah itu terpencil jauh di ujung rawa lebih jauh lagi dari kata layak, entah bagaimana jika ada kejadian darurat.
Upaya Preventif Islam
Islam menjadikan kepemimpinan sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat, maka untuk tata kelola kesehatan akan menjadi urusan kemaslahatan rakyat sebagaimana perintah Rasulullah saw. riwayat Bukhari dan Muslim, “Seorang kepala negara akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya”. Maka negara akan mengerahkan segala upaya untuk menciptakan generasi sehat dan mencegah dari bahaya yang mengancam kesehatan generasi.
Untuk teknis supaya tidak ada KLB campak, negara akan melakukan upaya pencegahan dan pengobatan secara menyeluruh dengan meguatkan daya tahan tubuh yang kuat, dengan meningkatkan literasi masyarakat tentang campak dan gaya sehat dan menerapkannya serta ditopang ekonomi yang menjamin kesejahteraan rakyat yang mudah diakses dengan harga yang terjangkau.
Akses pendidikan tinggi yang bisa mengakses segala hoax karena individu yang terdidik yang melahirkan ribuan ilmuan untuk menciptakan obat anti virus. Semua dijamin secara berkualitas gratis merata dan mudah.
Dalam gambaran teknis memastikan distribusi vaksin merata ke seluruh pelosok daerah, karena prinsip dasar Islam adalah keadilan dalam pelayanan publik, transparansi data dan komunikasi dibangun atas kejujuran yang mampu menigkatkan kepercayaan masyarakat.
Sepanjang peradaban Islam telah terjadi beberapa kali wabah termasuk pada masa kekuasaan Turki Utsmani, karena peristiwa wabah yang berulang akhirnya penguasa dan ilmuwan muslim melakukan riset mendalam menangani wabah. Dan segera melakukan karantina untuk mencegah penularan penyakit, baik penduduk, pendatang juga kapal yang bersandar di pelabuhan.
Misi menyelamatkan generasi karena begitu berharganya nyawa, adalah salah satu tujuan Islam untuk melindungi jiwa, dan keturunan, agama dan harta (maqashid syariah). Maka sejalan dengan firman Allah Swt. dalam Q.S An-Nisa : 9, “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka”.
Vaksin dan imunisasi serta pencegahan lainnya adalah salah satu ikhtiar menjaga amanah Allah, melindungi jiwa dan menyiapkan generasi yang kuat. Bukan sekedar program kesehatan, tetapi bagian dari ibadah sosial yang meneguhkan prinsip Islam yaitu menjaga kehidupan adalah menjaga amanah masa depan.
Wallahu A’lam.




0 comments:
Posting Komentar
Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.