Airnya dinikmati, hutannya siapa yang peduli?
Air selalu punya cara yang sederhana untuk membuat manusia jatuh cinta. Ia tidak perlu berbicara. Tidak perlu memasang baliho. Tidak perlu membuat janji. Cukup mengalir jernih, memantulkan cahaya matahari, lalu membiarkan manusia datang dengan sendirinya. Karena itu, tidak mengherankan jika sebuah tempat yang memiliki mata air alami selalu ramai dikunjungi. Orang datang mencari kesegaran. Anak-anak bermain air. Kamera ponsel sibuk mengabadikan momen. Pedagang mendapat rezeki. Semua tampak baik-baik saja. Tapi ada satu hal yang menarik. Kita sering mengagumi air yang muncul di permukaan, namun jarang bertanya apa yang terjadi di atas sana, di tempat yang tidak masuk foto, tidak masuk tiket, dan tidak masuk brosur wisata. Yaitu hulu.
Yang Dijual Airnya, yang Dilupakan Pohonnya
Mata air sering diperlakukan seperti keajaiban yang berdiri sendiri. Padahal tidak ada mata air yang hidup sendirian. Di balik setiap tetes yang keluar dari tanah, ada akar yang bekerja diam-diam. Ada vegetasi yang menahan erosi. Ada tanah yang menyimpan air hujan. Ada ekosistem yang bekerja tanpa pernah meminta tepuk tangan. Ironisnya, ketika sebuah kawasan wisata berkembang, yang sering mendapat perhatian justru pagar baru, spot foto baru, cat baru, gerbang baru, dan fasilitas baru. Sementara pohon? Sering kali keberadaannya dianggap sekadar latar belakang. Padahal tanpa pohon, air hanya sedang menghitung mundur waktunya.
Kita Ahli Menghitung Tiket, Tapi Jarang Menghitung Pohon
Ada sesuatu yang menarik dari cara kita memandang pembangunan. Kita bisa menghitung jumlah pengunjung. Kita bisa menghitung pendapatan. Kita bisa menghitung kendaraan yang masuk. Tetapi berapa banyak pohon yang ditanam kembali dalam lima tahun terakhir? Pertanyaan itu sering membuat suasana mendadak sepi. Karena tidak semua hal yang penting menghasilkan foto yang menarik. Menanam pohon tidak viral. Merawat kawasan resapan tidak menghasilkan unggahan yang spektakuler. Tetapi justru pekerjaan membosankan itulah yang menentukan apakah mata air akan tetap hidup puluhan tahun ke depan atau hanya menjadi cerita nostalgia.
Alam Tidak Mengirim Surat Peringatan
Salah satu keunikan alam adalah kesabarannya. Ia tidak marah hari ini ketika satu pohon hilang. Ia tidak protes ketika tanah resapan berkurang sedikit demi sedikit. Ia tidak membuat konferensi pers ketika ruang hijau menyusut. Alam diam. Lalu suatu hari debit air berkurang. Suhu terasa lebih panas. Musim kemarau menjadi lebih panjang. Dan semua orang bertanya, "Kenapa bisa begini?" Padahal jawabannya mungkin sudah dimulai bertahun-tahun sebelumnya.
Konservasi Tidak Boleh Berhenti di Spanduk
Hari ini hampir semua tempat wisata berbicara tentang kelestarian. Kata "ramah lingkungan" terdengar indah. Kata "konservasi" terdengar modern. Kata "berkelanjutan" terdengar meyakinkan. Namun alam tidak membaca spanduk. Alam hanya memahami tindakan. Berapa pohon yang ditanam? Berapa lahan resapan yang dipertahankan? Berapa persen ruang hijau yang bertambah? Itulah bahasa yang dimengerti alam. Bukan slogan.
Sebelum Terlambat
Mungkin sudah waktunya kita berhenti menganggap mata air sebagai sesuatu yang akan selalu ada. Karena sejarah banyak tempat menunjukkan bahwa sumber daya alam tidak hilang sekaligus. Ia berkurang perlahan. Sangat perlahan. Sampai akhirnya orang baru menyadari nilainya ketika jumlahnya tidak lagi sama. Dan ketika hari itu datang, menanam seribu pohon sekalipun tidak akan bisa mengembalikan waktu yang sudah terlewat. Karena pada akhirnya, menjaga mata air bukan dimulai dari kolam yang terlihat oleh pengunjung. Melainkan dari hutan, akar, dan tanah yang bekerja diam-diam jauh di hulunya. Kita menikmati airnya hari ini. Pertanyaannya, apakah kita juga sedang menjaga alasan mengapa air itu masih ada?
Penulis: Mabrur Abdurrahman



0 comments:
Posting Komentar
Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.