Ada satu pertanyaan yang layak sesekali diajukan, bukan untuk menyalahkan, melainkan untuk mengajak berpikir bersama.
Mengapa daerah yang memiliki begitu banyak potensi, masih terus berupaya menemukan cara terbaik agar semakin menarik sebagai tempat bertumbuh bagi generasi mudanya?
Kabupaten Kuningan bukanlah daerah yang kekurangan modal. Bentang alamnya menjadi salah satu anugerah terbesar yang dimilikinya. Gunung Ciremai berdiri sebagai penjaga, mata air mengalir menjadi sumber kehidupan, lahan pertanian membentang luas, dan sektor pariwisata perlahan terus berkembang.
Banyak capaian yang patut diapresiasi. Berbagai indikator pembangunan menunjukkan perbaikan, termasuk penurunan angka kemiskinan dalam beberapa tahun terakhir. Artinya, ada kerja panjang yang sedang berlangsung dan layak mendapatkan pengakuan. Namun, pembangunan yang baik selalu menyisakan ruang untuk bertanya. Karena sebuah daerah yang sehat bukanlah daerah yang berhenti pada pujian, melainkan daerah yang terbiasa berdialog dengan dirinya sendiri. Barangkali, tantangan Kuningan hari ini bukan lagi soal menemukan potensi, melainkan menemukan cara agar potensi tersebut semakin terasa manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Sebab potensi, sebesar apa pun, pada akhirnya tetaplah potensi apabila belum sepenuhnya menjelma menjadi kesempatan. Di sinilah paradoks itu muncul.
Kuningan ibarat sebuah perpustakaan yang kaya akan isi, tetapi sebagian bukunya masih menunggu untuk dibuka lebih luas. Bukan karena tidak berharga, melainkan karena masih ada ruang untuk mempertemukan kekayaan yang dimiliki dengan kebutuhan zaman yang terus berubah. Dalam beberapa kesempatan, kita dapat melihat sebagian anak muda memilih merantau, sebagian lainnya memilih bertahan, sementara yang lain mencoba membangun usahanya sendiri di kampung halaman. Semua pilihan tersebut sama-sama baik dan merupakan bagian dari dinamika sosial yang wajar. Namun, di tengah beragam pilihan itu, ada pertanyaan yang menarik untuk direnungkan bersama.
Sudah sejauh mana Kuningan menghadirkan sebanyak mungkin ruang tumbuh bagi beragam potensi yang dimiliki generasi mudanya?
Pertanyaan ini penting, karena masa depan sebuah daerah tidak hanya ditentukan oleh apa yang dimiliki hari ini, tetapi juga oleh seberapa siap daerah tersebut beradaptasi dengan kebutuhan masa depan. Pertanian misalnya, selama ini menjadi salah satu kekuatan utama Kuningan. Tetapi tantangannya bukan lagi sekadar menghasilkan panen, melainkan bagaimana menciptakan nilai tambah dari hasil panen tersebut. Pariwisata pun demikian. Keindahan alam adalah modal yang luar biasa, tetapi keberhasilan jangka panjang terletak pada bagaimana keindahan itu mampu menggerakkan ekonomi secara berkelanjutan dan dirasakan manfaatnya oleh lebih banyak lapisan masyarakat. Karena di era sekarang, sebuah daerah tidak lagi cukup hanya dikenal karena pemandangannya, tetapi juga karena peluang yang bisa diciptakannya. Ada satu metafora yang mungkin patut menjadi bahan renungan.
Jangan sampai Kuningan menjadi berlian yang terlalu lama disimpan di dalam etalase; dikagumi banyak orang, tetapi belum sepenuhnya dipoles menjadi kekuatan yang lebih besar
Kalimat itu bukan kritik terhadap kekurangan, melainkan pengingat bahwa potensi selalu membutuhkan keberanian untuk terus ditumbuhkan. Pada akhirnya, pembangunan bukanlah perlombaan untuk menjadi yang paling sempurna. Pembangunan adalah proses panjang untuk memastikan bahwa setiap generasi memiliki alasan yang semakin kuat untuk melihat masa depan di daerahnya sendiri, tanpa mengurangi kebebasan mereka untuk memilih jalan hidup yang berbeda. Sebab kemajuan sebuah daerah tidak selalu ditandai oleh seberapa sering namanya disebut, tetapi oleh seberapa besar manfaatnya dapat dirasakan. Dan mungkin, pertanyaan yang paling relevan untuk terus dijaga bukanlah:
"Apa yang kurang dari Kuningan?"
Melainkan:
"Apa lagi yang bisa dikembangkan agar potensi besar Kuningan semakin terasa dekat dengan kehidupan masyarakatnya?"Karena daerah yang matang bukanlah daerah yang anti kritik, melainkan daerah yang menjadikan refleksi sebagai bagian dari cara bertumbuh.
Penulis: Mabrur Abdurrahman



0 comments:
Posting Komentar
Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.