728x90 AdSpace

22 Desember 2018

Artikel: Berbakti Dengan Bakti


(Refleksi Hari Ibu)
Oleh Ade Zezen, SpdI (Ketua KAMMI Daerah Kuningan) 

suarakuningan.com - Setiap tanggal 22 Desember diperingati sebagai hari ibu. Ibu adalah orang yang paling berjasa terhadap kita selaku anak selain ayah. Tanpanya, tidak akan ada kita. Karena jasanya, seorang anak tidak akan dapat membalas jasa-jasanya. Maka, wajibnya bagi kita berbakti kepadanya. 

Pada peringatan hari ibu seharusnya dijadikan sebagai momentum evaluasi diri, sudah sejauhmana bakti kita kepada ibu? Seharunya evaluasi bakti kepada ibu itu dilakukan setiap hari, bukan pada saat hari ibu saja. Namun, kita selaku manusia terkadang terlalu banyak luputnya, karenanya minimal setahun sekali diingatkan melalui momentum hari ibu.

Dapat membalas jasa orangtua, terutama ibu adalah tidak mungkin. Meskipun seorang anak menggendong ibunya pergi ibadah haji, maka itu tidak akan dapat menggantikan semua jasa ibu. Hal itu karena saking besarnya pengorbanan yang telah diberikan oleh ibu.

Orangtua adalah wasilah keberlangsungan kehidupan yang hakikatnya pemberian Allah SWT. Kesabaran dan ketulusan orangtua adalah hembusan nafas anak-anaknya. Oleh karena itu, Islam memerintahkan untuk berbakti kepada kedua orangtua, terutama kepada ibu.

Berbakti kepada orangtua disejajarkan dengan taat kepada Allah. Banyak ayat Alquran yang memerintahkan untuk taat kepada-Nya lalu diikuti perintah berbakti kepada orangtua, salah satunya terdapat dalam Surat Al-Baqarah ayat 83. 

Ibnu Abbas seorang sahabat yang dijuluki ahli tafsir menafsirkan ayat tersebut, bahwasannya itu adalah isyarat betapa anjuran berbakti kepada orangtua adalah kewajiban yang sangat ditekankan seperti kewajiban beribadah kepada Allah, sehingga tidak sempurna taatnya seorang hamba kepada Allah jika ia durhaka kepada kedua orangtua.

Begitupun sebaliknya tidak sempurna taatnya seorang anak kepada kedua orangtua jika ia durhaka kepada Allah. Artinya taat kepada Allah dan berbakti kepada orangtua adalah dua komponen yang saling mengikat, tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya.

Pendidikan berbakti kepada orangtua hendaknya diajarkan kepada anak-anak sedini mungkin. Untuk mengajarkannya dibutuhkan metode pendidikan yang tepat. Ada metode indah yang ditawarkan Islam terkait pendidikan berbakti kepada orangtua. Metode pendidikan berbakti kepada orangtua itu tertera dalam Alquran surat Al-Isra ayat 23.

Pada ayat tersebut secara tekstual tercatat lafadz “indakal kibaro” (lanjut usia dalam pemeliharaanmu), ini menunjukan sebuah isyarat adanya metode pendidikan berbakti kepada orangtua. Ternyata kata lansia (lanjut usia) sengaja Allah cantumkan dalam firman-Nya sebagai titik tekan. Artinya bakti kita yang sesungguhnya kepada orangtua adalah di saat orangtua kita sudah lansia yang mungkin saat itu kita sudah memiliki anak dan istri.

Lansia adalah fase dimana manusia kembali menjadi lemah dari yang tadinya kuat (muda). Orangtua yang lansia ini sangat membutuhkan pertolongan atas anak-anaknya.

Ada hal yang keliru. Banyak dari kita yang menyuruh anak agar berbakti kepada kita sebagai orangtua, tetapi kita malah mengirim orangtua yang lansia ke panti jompo. Padahal saat orangtua lansia itulah saatnya buktikan bakti kita kepadanya. Ketahuilah bahwas bakti kita kepada orangtua lebih penting daripada bakti anak kepada kita yang masih muda. Maka titik tekan kepada orangtua yang lansia ini menjadi salah satu tolak ukur seseorang berbakti atau tidaknya kepada orangtua.

Maka dapat ditarik inti sari dari ayat tersebut bahwas metode pendidikan berbakti kepada orangtua adalah dengan keteladanan. Yaitu, mengajarkan bakti anak kepada kita dengan cara kita berbakti kepada orangtua.

Sebaiknya kita yang mengajarkan bakti anak kepada kita sendiri adalah yang paling berbakti kepada orangtua kita sendiri. Menjadi sia-sia seseorang mengajarkan bakti terhadap anak, sedangkan perilakunya terhadap orangtua tidak mencerminkan seorang anak yang berbakti. Konsep keteladanan ini memiliki rumus sederhana yaitu perlakukanlah orangtua anda sebagaimana anda ingin diperlakukan oleh anak anda.

Selain konsep pendidikan dengan metode keteladanan dalam berbakti kepada orangtua, juga terdapat beberapa contoh perilaku sebagai wujud bakti kepada orang tua.

Pertama, tidak berkata "ah" (wa la taqullahuma uff..). Berkata "ah" adalah simbol sikap bantahan yang paling rendah. Selama perintah itu bukan untuk bermaksiat dan untuk berbuat keburukan, maka kita dilarang untuk membantah setiap perintah orangtua. Bahkan seandainya perintah itu dalam kemaksiatan dan keburukan, maka penolakan pun dilakukan dengan cara yang baik penuh dengan kesopanan.

Kedua, tidak membentak keduanya (wa la tanhar huma..). Rasa suka dan tidak suka adalah pasti hinggap dalam hati siapa pun terhadap siapa pun. Begitupun rasa suka dan tidak suka bisa hadir dalam hati seorang anak terhadap orangtuanya. Jika rasa tidak suka, jengkel, dan kesal kepada orangtua menghampiri, maka tidak layak sedikitpun kita membentaknya.

Ketiga, berkata sopan (.. qoulan kariima). Memuliakan kedudukan orangtua bukan dengan harta dan tahta, melainkan cukup dengan tutur kata kita kepada orangtua.

Keempat, bersikap rendah diri (wa ihfahd.. ). Bersikap merendah dihadapan orangtua dengan penuh kasih sayang. Sebanyak apapun harta, setinggi apapun pangkat dan pendidikan, maka kita tetap anaknya yang kecil mungil dihadapan orangtua.

Kelima, mendoakan (wa qul robbir hamhuma..). Mendoakan selalu orangtua agar mendapatkan rahmat dan kasih sayang dari Allah SWT. Bakti dengan doa inilah yang tetap bisa kita lakukan meskipun orangtua sudah meninggal dunia.

Itulah perilaku sebagai wujud bakti yang bisa kita lakukan kepada orangtua. Bagaimana ucapan dan sikap kita kepada orangtua, maka seperti itu ucapan dan sikap anak kita kepada kita kelak. Semoga kita tercatat sebagak anak yang berbakti kepada orangtua dan semoga kita juga dianugerahi anak yang berbakti. Aamiin.

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Artikel: Berbakti Dengan Bakti Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan