728x90 AdSpace

Update
2 Januari 2017

"Kisah" Yang Tersirat dalam Cipanon Sarakan

oleh: Dodo Suwondo

Cipanon Sarakan - Nano Suratno S.Kar., membicarakan keadaan tanah air (lemah cai) yang tak pernah melakukan perhitungan dengan manusia sebagai penghuninya. Demikian pula paku sarakan, tak pernah berhitung apa pun apalagi menuntut balas jasa.

Apa yang dimaksud paku sarakan oleh Nano? Bisa jadi pencipta syair tersebut hanya meminjam istilah paku sarakan untuk menyebut tanah air (lemah cai), sebuah negeri dimana kitalah sebagai penghuninya. Dalam bait tersebut dikatakan bahwa najan paku sarakan, tara ngitung balitungan, artinya  paku sarakan diidentikkan sebagai lemah cai, sebagai tanah air, sebagai negara – yang tak pernah membuat perhitungan untung rugi dan balas jasa. Akan tetapi jika kita mencari arti kata dari paku sarakan dapat kita telusuri secara leksikal, bahwa kata “paku” adalah paseuk – sebuah benda yang dapat digunakan untuk menguatkan sesuatu agar dapat menyatu, dan sarakan adalah tempat lahir; lemah cai; tanah air. Pengertian tersebut dapat dimengerti sebagaimana Kamus Umum Basa Sunda - LBSS; sarakan at. paku sarakan, tempat lahir, lemah cai (LBSS, 1983 : 454).

Dalam perjalanannya negara mengalami berbagai tantangan stabilitas. Berbagai peristiwa politik seperti memporakporandakan sebuah kebersamaan dalam persatuan dan kesatuan yang telah terbangun yang sangat sempurna. Kungsi aya pasini, urang jangji rék mupusti (pernah ada perjanjian bahwa kita bersepakat). Lalu Kungsi tigin saati, urang gempung rék ngahiji (berjanji berkekuatan untuk satu hati, bersatu dalam satu kesatuan) – ini barangkali dalam 28 Oktober 1928 dalam naskah Sumpah Pemuda).

Mungkin kita lupa bahwa Sarakan lain ngan saukur ngaran; bahwa Sarakan amanah asih Pangéran; bahwa Sarakan panginditan, pangbalikan. Itu semua adalah sebuah cerita (Éta sora jadi galur), dan itu semua adalah sebuah tonggak (éta sora jadi pancer) yang semestinya berdiri kokoh (pageuh adeg-adeg diri). Hal demikian seharusnya menyadarkan kita bahwa antara manusia dengan lemah cai seharusnya menjadi satu raga (Sadiri jeung lemah cai), dan itu disaksikan oleh bumi dan langit.

Ada kekuatan batin yang sangat dalam – dari Nano Suratno, S.Kar. dalam bait berikut:
Naha aya cipanon
nu nyalangkrung jadi mendung,
naha sora migangdam
dina ayun néléngnéngkung

Tergambar tangisan Bunda Pertiwi yang sangat menyedihkan tatkala melihat kenyataan tersebut. Itu semua karena manusia (generasi penerus) tak lagi memegang teguh janji yang telah disepakati para pendahulu:
Nu jangji kunaon geuning sulaya?
nu jangji kunaon biluk jeung deungeun?
nu jangji kunaon ilang tangtungan?
Yang sebenarnya yang berjanji adalah para pendagulu, pahlawan yang telah mempersatukan semua bangsa dan suku bangsa.

Keadaan seperti ini membuat masyarakat menjadi terpencar-pencar, berkelompok-kelompok, berindividu-individu, semua seolah menjadi berlomba-lomba, dan mementingkan diri sendiri:
Asal hiji jadi udar
asal dulur jadi batur
paburisat ngudag pangkat,
luas téga ngahianat
Kekuatan yang telah dibangun dalam Bhineka Tunggal Ika tak lagi mampu membendung derasnya egoisme perseorangan. Perang politik seperti tak terhindarkan, dan karena perbedaan kepentingan itulah yang menyebabkan:
Perang jeung dulur sorangan
laku curang asal meunang
Tak tahu lagi siapa lawan politik kita – saudara, sahabat tak lagi diperhatikan, bahkan guru, orang tua tak lagi dihormati sebagai senior yang patut diteladani.

Langit peteng

poék mongkléng
bumi génjl
ong
Bait ini menggambarkan bencana yang luar biasa. Bencana moral dan mental manusia – alam (jiwa dan pikir) menjadi gelap gulita, semua goyah bagaikan gempa dan banjir, bahkan tsunami laut yang dahsyat – Gunjang-ganjing, gunjang-ganjing.

Individu dan kelompok bermunculan dengan kepalan tinju berbendera partai, berbendera diri dalam setiap individu, terlukiskan dalam:
ringkang-ringkang tingkuniang,
umbul-umbul tingpecenghul
pentang-pentang tingkalayang

Ténjo ieu aing tandang.......! “Lihatlah aku ....!” Begitu barangkali teriak mereka yang tamak akan keserakahan.

Panji-panji tingkélébét,
warna-warna tingkolebat,
tangtung-tangtung tingkelewung,

Tenjo ieu aing tarung.......!

Galungan dina tangtungan
di kalang paku sarakan,
bitotama jeung sasama
campuh dulur jeung baraya.
“Lihatlah aku bertarung dalam pergulatan sengit....!” Menggambarkan betapa egoisme semakin menguasai mental-mental manusia, mereka saling mempertahankan harga diri “Galungan dina tangtungan”. Semua melupakan siapa lawan, tiada kawan, tiada saudara, pun tiada sanak.

Kecermatan Nano dalam melukiskan setiap prilaku manusia, setiap peristiwa yang terjadi:
Aya nu seuri maténi batur sorangan.
Aya nu ny
eri ditigas dulur sorangan.
Cipanon getih di lemah cai sorangan,
bari teu puguh naon anu ditéangan
Moral dan ahlak sudah tidak lagi menjadi karakter kepribadian bangsa yang berbudaya, dan berubah menjadi watak hewani yang satu dengan lainnya saling menikam. Tertawa di atas penderitaan orang lain yang tak lain adalah teman yang dikalahkannya. Lalu yang lainnya teraniaya – menangis dipergasa saudara sendiri. Air mata darah mengalir di negeri sendiri. Tetapi apa yang mereka cari?

Deudeuh teuing, deudeuh teuing, Begitulah Bunda Pertiwi berujar dalam serba kesedihan, penyesalan, dan rasa iba.
Éta cipanon sarakan,
kabawa ku hujan angin,
ngajadi caah umpalan.
Tangisan Bunda Pertiwi dengan air matanya mengalir terbawa hujan dan badai – hujan dan badai keserakahan, lalu menimbulkan banjir besar.
Éta cipanon sarakan,
babandang akar jeung batu,
tangkal runtag gunung bitu,
Tangisan Bunda Pertiwi dengan air matanya menghanyutkan akar (pondasi) idealisme yang sudah lama tertanam dalam tatanan hidup berbudaya. Membawa pula kekokohan bebatuan yang menopang pondasi-pondaasi keimanan. Dalam pada itu bertumbangan pula pepohonan yang rindang berdiri tegak, diikuti pula letusan gunung-gunung ambisi yang melekat dalam setiap kepala.
Éta cipanon sarakan,
kapentrang ku panon poé
nembus katumbiri uga,

Éta cipanon sarakan,
meuting diusap ku layung,
miri
spis ciibun getih.

Air mata mengering oleh sengatan mata hari – jiwa yang kering, lalu menembus pelangi dalam prediksi dan angan-angan. Air mata tanah air yang bersemayam dalam mimpi yang lalu dibelai lembayung, lalu disiram tetesan embun darah.

Naha urang ngarti?

Naha urang surti?
Sarakan titipan Gusti,
geuning pinuh ku kanyeri.
Bait di atas mempertanyakan sampai dimana ketebalan keimanan. Bahwa semua hanyalah titipan Tuhan – semua milik Tuhan Yang Mahakuasa. Kenapa lemah cai harus menerima perlakuan sehingga merasakan sakit yang tak terhingga. Lalu:
Naha urang sadar,
naha urang jembar?
Cipanon jadi totonden
angkara kasarakahan.
Bait ini mempertanyakan kesadaran dan kelegawaan kita sebagai warga – sebagai manusia yang berbudaya. Dan, air mata adalah merupakan sinyal atau isyarat bahwa keserakahan telah terjadi.


Tangtung urang rék di mana?
Tangtung urang rék kamana?
Tangtung urang rék di mana?
Tangtung urang rék keur saha?
Kebahagiaan dan ego sesaat telah meracuni akal dan pikir kita – mau di mana kita? Mau dibawa kemana? Untuk siapa ambisi itu dilakukan?

Ujian mapag isukan

mulang ka diri sorangan,
milih wanci, mindah jaman,
jati diri nu mageuhan.
Ini adalah ujian bagi kita untuk hari esok yang lebih baik. Kembalikan kepada diri sendiri, untuk menentukan waktu dan mengubah zaman yang diperkuat dengan jati diri bangsa sendiri, bangsa yang berbudi.

Urang lain jeung nu lian,

titis tulis sarundayan,
najan béda pamadegan,
ulah poho ka wiwitan.
Pada bait akhir ini merupakan pesan moral yang disampaikan kepada kita – bahwa ingatlah antara kita dan kita adalah bersaudara, satu keturunan, dan satu ideologi. Janganlah lupa sejarah.


Kuningan, Pasapen, 2 Januari 2017

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

1 komentar:

  1. mugi kawidian babagi...sae pisan pedarana kang Dodo Suwondo

    maman kusmana ...."ken arok ii"

    BalasHapus

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: "Kisah" Yang Tersirat dalam Cipanon Sarakan Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan