728x90 AdSpace

9 Mei 2019

Puasa dan Etika Politik

Oleh Sulaeman
(Dosen Filsafat Islam UIN Bandung, DPK UNISA Kuningan)

Ramadhan tahun ini serasa istimewa bagi pemeluk Islam yang ada di Indonesia mengingat kehadirannya tepat setelah pesta demokrasi. Hingar-bingar pesta demokrasi telah banyak menguras pikiran dan perasaan hingga tidak sedikit orang yang terjebak saling gontok-gontokan. Berbagai argument bahkan dalil naqli dijadikan senjata pembenaran dan menyalahkan pihak lawan. 

Kini pesta demokrasi telah selesai dan Ramadhan telah tiba, akankan ramadhan ini kita jadikan ajang untuk penyucian sisa-sisa pesta ? disadari atau tidak boleh jadi selama kita berpesta ada kata-kata maupun tindakan yang membuat orang lain tidak nyaman, mungkin membuat ketidak nyamanan tetangga, teman sejawat, atau yang lainnya. Saya berharap sejatinya ramadhan ini tidak hanya dijadikan penyucian namun lebih dari itu kita harus mampu meningkatkan kwalitas diri, terutama kwalitas pengendalian emosi dan pikiran.
Emosi yang tidak terkendali bukan hanya membuat orang lain tidak nyaman, namun seringkali membuat penyesalan bagi pelakunya, tidak sedikit orang yang jatuh karier dan hargadirinya hanya karena tidak mampu mengendalikan emosi. Oleh karena itu ramadan kali ini kita jadikan juga ajang  refleksi diri, memulihkan tenaga rohani untuk membakar benalu yang mengerdilkan moralitas, karena hasrat ingin menimbun, ingin berkuasa, dan ingin berpengaruh tidak akan pernah ada puasnya. 




Dalam perbudakan nafsu duniawi ini, kehadiran agama yang mestinya pengemban misi keadilan, cinta kasih, dan kewarasan justru acap kali menjadi penasbih atau setidaknya membiarkan permusuhan dan kerusakan. Di manakah misi penyempurnaan akhlak jika agama hanya dijadikan kemasan pemasaran, pangkal pertikaian, dan dalih kekuasaan?
Begitu pula dengan pikiran, beredarnya berita-berita hoaks selama pesta demokrasi tidak menutup kemungkinan kita telah terpengaruh bahkan boleh jadi kita telah menjadi bagian dari berita-berita hoaks tersebut. Kepala Divisi Humas Polri Irjen (Pol) Setyo Wasisto pernah menyatakan bahwa “ Hoaks diciptakan oleh orang pintar tapi jahat dan disebarluaskan oleh orang baik tapi bodoh.”
Kondisi saat ini kita dihadapkan kepada dua kelompok besar sebagaimana yang disampaikan oleh Yudi Latif, Pertama, kaum revivalis lewat politisasi agama yang kerap mengklaim bahwa Tuhan berada di pihaknya yang mengarah pada formalisme, triumphalisme, merasa benar sendiri, teologi kekerasan, dan memenjarakan Tuhan sebagai sesuatu yang partisan, yang akan membenarkan apa pun pilihan politiknya. 

Kedua, kaum ekstrem sekularis yang mengenyahkan Tuhan dari ruang publik, dengan berpretensi untuk memenjarakan agama di ruang privat yang memisahkan moralitas agama dari kehidupan politik.
Kedua kelompok besar ini jika tidak tumbuh kesadaran bahwa untuk mendapatkan kekuasaan tidak mesti mempolitisir agama dan dalam berbangsa dan bernegara tidak mesti menghilangkan nilai-nilai agama.  

Maka diferensiasi agama dan negara tanpa memisahkan nilai-nilai moral dan spiritual dari kehidupan politik menjadi bagian yang harus kita perjuangkan untuk kemaslahatan nasib bangsa ini kedepan. Dan Ramadhan kali inilah menjadi momentum yang paling tepat untuk menumbuhkan nilai-nilai etik dalam berpolitik tersebut.***


  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar...
- Harap sesuai dengan Konten
- Mohon Santun
Terimakasih Telah Memberikan Komentar.

Item Reviewed: Puasa dan Etika Politik Rating: 5 Reviewed By: SuaraKuningan